Skip to content

Bones and All (2022) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Saya tidak terlalu yakin dengan penggambaran film Bones and All ini dan pesan apa yang ingin disampaikan melalui film ini. Meskipun asumsi saya benar pun, film ini mengambil sebuah sudut pandang yang unik, out of the box bahkan mungkin sedikit aneh, sekalipun untuk penggemar film horror seperti saya.

Sinopsis. Berawal dari sebuah insiden mengerikan ketika Maren sedang berkumpul dengan teman-temannya dan tiba-tiba saja ia menggigit jari temannya. Tersadar dengan apa yang telah ia lakukan Maren langsung lari menuju rumah dan ayahnya yang tampak sudah tahu apa yang telah terjadi langsung menyuruhnya untuk membawa barang-barang yang bisa ia bawa dan pergi secepatnya dari rumah itu. Setelah berada di tempat aman, Maren terbangun keesokan paginya dan menemukan bahwa ayahnya telah meninggalkan dirinya sendirian.

Alur cerita Bones and All ini semakin menarik ketika Maren bertemu dengan seorang pria tak dikenal yang mengetahui siapa dirinya dan tidak hanya itu, pria itu pun memiliki kecenderungan aneh yang sama dengan dirinya. Meskipun mendapatkan hal baru yang tidak ia ketahui sebelumnya, Maren merasa tidak nyaman berada dengan pria tersebut. Lalu ia bertemu dengan Lee, seorang lelaki muda yang juga sama dengan dirinya dan mengikutinya.

Saya belum pernah melihat film kanibal seperti ini sebelumnya, ide cerita yang menggelitik sekaligus aneh tetapi di sisi lain sangat membuat penasaran. Meskipun bergenre horror dengan tema kanibalisme tetapi film ini tidaklah brutal ataupun penuh dengan bloody gore, justru sepertinya film ini tidak ditujukan untuk fokus pada tema kanibal itu sendiri.

Walaupun bertema kanibal tetapi kehidupan Maren, Lee maupun eaters yang lainnya bisa dikatakan normal bahkan selain dari keanehan yang mereka miliki, kehidupan mereka di tengah-tengah kerumunan terlihat sangat normal. Mereka hampir selalu berhasil menutupi apa yang sudah mereka lakukan dan tentunya tidak ada pembahasan tentang latar belakang para eaters ini lebih dalam. Beberapa hal memang cukup menarik bahwa Maren tidak sendirian dan mereka menamakan dirinya “eaters” lalu mereka bisa mencium bau sesama eaters dan bahkan diantara sesama eaters pun bukan berarti akan aman.

Bones and All ini justru memperlihatkan perjuangan Maren untuk melawan bagian dari dirinya yang sudah ada sejak ia lahir, membuat dirinya menjadi terasing karena ia tidak bisa mengendalikannya. Maren juga berusaha mencari tahu asal-usul dirinya untuk memahami tentang dirinya dan mungkin untuk mengetahui apa yang bisa ia lakukan ke depannya. Pertentangan batin antara nalurinya sebagai “eaters” dan nilai moral yang mengatakan bahwa hal tersebut salah namun ia tidak bisa menghilangkannya. Dan yang menyeramkan adalah ia bertemu dengan sesama eaters yang jauh lebih mengerikan.

Maren dan Lee

Sejujurnya saya sedikit clueless dengan cerita ini dan juga tidak yakin ke arah mana film ini sebenarnya menuju ataukah film ini berusaha untuk menggambarkan sesuatu. Tetapi mengamati perjuangan Maren melalui banyak hal sepertinya kita sedikit banyak bisa melihat sesuatu yang relate dengan kehidupan realita. Sisi kanibalisme bisa jadi semacam konotasi dari banyak hal, the dark side of human.

Hal lain yang menarik tentunya adalah para pemerannya. Saya adalah penggemar Timothée Chalamet sejak ia bermain di Lady Bird dan Little Women. Lalu Taylor Russell pun menarik perhatian saya di Escape Room dan Down a Dark Hall. Keduanya membuat Bones and All ini menjadi film horror romance yang unik dan berbeda. Walaupun begitu saya sedikit merasa kurang klik dengan chemistry antara keduanya. They had it but it is not over the top.

Saya cukup menikmati film ini dengan proporsinya yang sebagian drama romance, dan sebagian horror, sesuatu yang sedikit berbeda dan unik. Terasa ada vibe yang sama dengan film Luca Guadagnino sebelumnya yang berjudul Suspiria tetapi saya cenderung lebih menyukai Suspiria.

Sutradara : Luca Guadagnino Penulis Skenario : David Kajganich, Camille DeAngelis (based on the novel by) Pemeran : Taylor Russell, Timothée Chalamet, Mark Rylance, André Holland, Jessica Harper, Michael Stuhlbarg, David Gordon-Green, Francesca Scorsese, Chloë Sevigny

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: