Skip to content

Hatching (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Film horror dari Finlandia ini berusaha menyampaikan sisi horror yang terjadi dalam keluarga. Kalian tidak akan menemukan banyak adegan2 gelap karena film ini justru menyajikan horror secara gamblang. Kalian akan bisa melihat dengan jelas setiap adegan horror bahkan yang menjijikkan sekalipun. Oh ya akan ada adegan menjijikkan yang mungkin tidak akan disukai.

Adegan sebuah keluarga yang terlihat sempurna menjadi pembuka dari film ini tetapi sayangnya it’s too good to be true. Adegan pembuka tersebut hanyalah sebuah video untuk blog milik sang ibu. Ketika seekor burung hitam masuk ke dalam rumah mereka dan menghancurkan barang2 bagus milik sang ibu, ia memperlihatkan sifat aslinya. Sesaat setelah Tinja memberikan burung yang berhasil ia tangkap kepada ibunya, si ibu langsung membunuhnya. Tidak lama setelah kejadian itu, Tinja menemukan sebuah telur dan membawanya pulang. Setelah menyimpannya beberapa lama, telur yang disimpannya semakin membesar hingga akhirnya menetas.

Saya harus mengacungkan jempol untuk penerapan special effect make up yang membuat monster burung ini terlihat mengerikan, di sisi lain transisi burung ini pun luar biasa. Saya bisa melihat postur si burung tersebut dan langsung memvisualisasikan kemiripannya dengan bentuk akhirnya yang mungkin akan mengejutkan untuk sebagian penonton.

Saya tidak tahu harus memulai darimana tentang keluarga ini. Mereka tinggal di dalam rumah yang indah dengan wallpaper bunga2 membuat film ini terasa seperti fairytale. Sang ayah meskipun ramah dan cenderung nrimo dengan sikap istrinya tetapi ia juga kurang peka dan kurang terlibat dengan kehidupan anak2nya. Hal ini terlihat di salah satu adegan dimana ia sibuk dengan gitar barunya ketika Tinja berusaha mengajaknya berbicara. Di sisi lain sang ibu terlihat sangat percaya diri dan memegang kendali, ia tahu apa yang ia inginkan dan ia harus mencapainya. Hal ini ia limpahkan pada Tinja yang bersiap untuk menghadapi kompetisi gymnastic. Ia bahkan terlalu mengekang dan memaksa Tinja latihan ekstra keras demi memenangkan kompetisi gymnastic tanpa memperdulikan keinginan Tinja. Si adik kecil, Matias, well menurut saya ia bersikap layaknya seorang saudara yang merasa tersingkirkan dari perhatian sang ibu.

Saya tidak yakin apakah bisa menyukai bagaimana penggambaran film yang terkait dengan keluarga ini. Tetapi saya menyukai pesannya karena seringkali tanpa sadar sebagai orang tua kita membentuk anak sesuai keinginan kita tanpa memberinya ruang untuk menjadi dirinya sendiri dan mengeksplor apa yang mereka senangi. Ketika anak2 tersebut memendam keinginannya tanpa sadar mereka membentuk dunia lain, dunia dimana mereka bebas melakukan apapun dan dalam hal ini mereka digambarkan tumbuh menjadi monster. Dan yang menurut saya lebih buruk lagi adalah ketika sebagai orang tua kita tidak peka terhadap gerak-gerik dan ekspresi anak.

Secara visual set up film ini sangat menarik, rumah yang sangat indah dengan kebun dibagian belakang dan dekorasi yang cerah membuat film horror yang satu ini memang terasa berbeda. Walaupun kemunculan Tero di pertengahan film terasa mendadak tetapi justru di rumah tersebut kita bisa melihat ada perbedaan antara apa yang diajarkan Tero dengan orangtua Tinja.

Siiri Solalinna memerankan Tinja dan Alli dengan sangat memikat dan ia memerankan keduanya dengan sangat baik. Saya menyukai film ini walaupun mungkin tidak sekuat yang diharapkan dan tidak semua penonton akan mendapatkan pesannya tetapi banyak aspek didalamnya yang menurut saya terhubung dengan reality.

Sutradara : Hanna Bergholm Penulis Skenario : lja Rautsi Pemeran : Siiri Solalinna, Sophia Heikkilä, Jani Volanen, Oiva Ollila, Reino Nordin, Ida Määttänen

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: