Skip to content

Hellraiser (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Diadaptasi dari film horror klasik karya Clive Barker di tahun 1987 tentang sebuah kotak teka-teki antik yang berkaitan dengan makhluk-makhluk aneh dari dimensi lain. Visually i think this movie is gorgeous and brutal at the same time.

Enam tahun setelah Roland Voight menghilang, Riley bersama Trevor mencuri sebuah kotak teka-teki antik yang disimpan rapat di dalam gudang penyimpanan. Yang tidak diketahui Riley adalah bahwa kotak tersebut merupakan alat untuk memanggil Cenobites, sekelompok makhluk supranatural sadis dari dimensi lain.

Film ini lebih tepatnya disebut sebagai requel (reboot/sequel hybrids) dari film originalnya di tahun 1987. Saya belum menonton versi originalnya karena film semacam ini di tahun-tahun tersebut secara visual cukup sadis. Tetapi setelah menonton film ini harus saya akui, saya sangat tertarik. Sekilas mungkin terlihat seperti genre slasher tetapi lebih ada cerita dalam film ini. Walaupun durasi filmnya cukup panjang yaitu 2 jam 1 menit, saya nyaris tidak merasakan hal tersebut sama sekali. Bagi mereka yang sudah menonton versi aslinya mungkin tidak akan merasakan hal yang sama tetapi menurut saya film ini sangat menarik dan unik.

Sumber dari puzzle antik tersebut memang tidak diketahui tetapi konsep makhluk dari dimensi lain yang bisa sewaktu-waktu muncul terasa masuk akal. Dan pertanyaan selanjutnya adalah apa yang didapatkan dari puzzle tersebut ketika terbentuk dengan benar? Sangat manusiawi, semua cenderung berharap mendapatkan sesuatu dari puzzle tersebut kecuali Riley tentunya. Saya suka karakter Riley yang cenderung biasa-biasa saja tetapi ia justru mampu mempertahankan sisi manusiawinya dan tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dengan jalan pintas.

Dari segi cerita mungkin bukan sesuatu yang luar biasa tetapi bagi saya tetap memikat, yang lebih menarik untuk saya adalah makhluk-makhluk Cenobites ini. The make up is fascinating. Secara visual menyeramkan tetapi tetap memiliki nilai estetika, secara karakter sadis tetapi tetap menyadari keburukan dan kebaikan sifat-sifat manusia. Suasana ketika mereka memasuki dunia manusia pun dibuat se-intens mungkin, tidak hanya lewat sound effect tetapi juga dari segi lighting.

Jamie Clayton memerankan salah satu cenobites sebagai The Priest, ini mungkin menjadi salah satu karakter villain favorit saya selain yang ada di series Stranger Things. Saya juga memfavoritkan The Gasp yang diperankan oleh Selina Lo, karakternya cantik tetapi mematikan. Kedua karakter ini harus saya acungkan jempol untuk make up effect artistnya.

Saya tidak tahu apakah plotnya memang cukup mudah untuk ditebak ataukah memang saya sudah terbiasa dengan plot cerita horror sehingga gerak-gerik pemerannya membuat saya mampu menebak akhir cerita dengan benar. Anyway, i simply like this movie, it’s not great but i do enjoy watching it specially for this Halloween month.

Sutradara : David Bruckner Penulis Skenario : Ben Collins, Luke Piotrowski, David S. Goyer Pemeran : Odessa A’zion, Jamie Clayton, Adam Faison, Drew Starkey, Brandon Flynn, Aoife Hinds, Goran Visnjic

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: