Skip to content

Nocebo (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Film Nocebo yang dibintangi oleh Eva Green ini memiliki plot yang cukup menarik meskipun sedikit lambat di awal.

Dari awal film sudah langsung diperlihatkan bahwa terjadi sesuatu yang mengerikan ketika Christine, seorang fashion designer, sedang mengadakan acara fashion show untuk anak-anak. Christine menerima telepon yang membuatnya shock dan kalimat yang diucapkannya tentang menarik keluar mayat-mayat tentunya membuat saya bertanya-tanya berita apa yang sebenarnya disampaikan oleh si penelpon tersebut. Lalu sesaat setelah menutup telepon tersebut, hal aneh langsung terjadi. Christine melihat seekor anjing yang sekujur badannya penuh luka dan dihinggapi kutu sedang menatap tajam ke arah dirinya. Ketika bayangan anjing tersebut hilang dari hadapan Christine, satu kutu justru terlihat menempel di leher belakang Christine.

Setelah kejadian tersebut penyakit aneh mulai dialami oleh Christine, penyakit yang tidak bisa didiagnosa oleh dokter sekalipun. Christine sering mendapat serangan tiba-tiba khususnya di tangan bagian kanan, ia juga melihat hal-hal yang menyeramkan secara tiba-tiba. Lalu muncullah seorang perawat Filipina bernama Diana yang mengatakan ia datang untuk membantu Christine dengan caranya yang jelas tidak biasa tetapi hasilnya cukup berhasil untuk Christine, setidaknya di awal.

Misteri penyakit yang diderita Christine awalnya cukup membingungkan sekaligus menjadi misteri yang menarik dan membuat saya penasaran. Rangkaian flashback tentang masa lalu Diana juga menjadi tambahan yang semakin membuat penasaran tetapi beberapa clue dari keduanya membuat saya menarik kesimpulan bahwa ada kaitan antara keduanya.

Saya merasa film ini memiliki plot yang menarik dan Eva Green jelas memberi nuansa yang berbeda yang membuat saya ikut merasakan kekalutan dari karakter Christine. Begitu pula dengan Chai Fonacier yang diawal membuat saya tidak bisa memutuskan apakah karakter Diana ini baik ataukah jahat apalagi dengan sorot matanya yang sering terlihat tajam dan gerak-geriknya yang selalu mencurigakan.

Salah satu hal yang paling membuat tidak nyaman adalah kutu yang tidak hanya dibuat dengan proporsi normal (ini saja sudah membuat geli) tetapi juga dibuat lebih besar lagi.

Inti cerita ini mungkin lebih mengarah ke balas dendam dengan cara yang diketahui Diana. Ia memiliki kemampuan yang tidak biasa tetapi ketika amarah dan dendam menguasainya, ia menggunakan kemampuannya tersebut untuk sesuatu yang tidak baik. Apa yang dilakukan Diana mungkin tidak terasa asing dalam cerita-cerita horror Indonesia tetapi plot ceritanya lebih terasa menarik dan memang ada pesan juga serta keironisan di dalamnya.

Menurut saya film ini bukan berusaha menunjuk pihak yang benar ataupun salah tetapi berusaha menunjukkan kebenaran. Apa yang terjadi setelah kebenaran itu terungkap akhirnya menjadi sesuatu yang ironis, sesuatu yang tidak perlu terjadi walaupun kata maaf mungkin terkesan terlalu sederhana. Sebuah cerita yang rumit dan berakhir dengan ironis, keseluruhan cerita adalah cerita yang menyedihkan.

Sutradara : Lorcan Finnegan Penulis Skenario : Garret Shanley Pemeran : Eva Green, Chai Fonacier, Mark Strong, Billie Gadsdon, Cathy Belton

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: