Skip to content

Pearl (2022) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Harus saya akui bahwa Mia Goth mampu memerankan dua sisi karakter yang berbeda dengan sangat baik dan ia memiliki karakter yang unik. Film ini merupakan prekuel dari film “X” yang menceritakan tentang masa muda Pearl yang merupakan villain di film X. Tetapi jangan khawatir karena film ini mampu berdiri sendiri walapun kalian tidak menonton film “X”.

Pearl adalah seorang wanita muda yang suaminya harus mengikuti perang dan ia tinggal bersama kedua orangtuanya di pedesaan. Ketika ia pergi ke kota untuk membeli obat, Pearl selalu menyempatkan untuk menonton bioskop dan melihat wanita-wanita muda cantik menari. Ia suka menari dan bercita-cita menjadi terkenal, seperti yang ia tonton di bioskop. Tetapi ayahnya yang lumpuh dan ibunya yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup di tengah perang, Pearl harus mengurus ayahnya dan juga membantu ibunya. Pearl merasa terkekang dalam kehidupannya di pedesaan hingga ia mendapat berita dari Mitsy, saudara iparnya, bahwa ada audisi tari di gereja untuk paduan suara Natal.

Mia Goth sekali lagi membuktikan bahwa ia sangat cocok berada di dalam film-film bergenre horror, A Cure for Wellness, Marrowbone, Suspiria, dan X. Ia memerankan baik karakter protagonis dan antagonis dengan sangat baik, kalian tidak akan menyangka apa yang mampu ia lakukan. Dari seorang yang innocent hingga berubah menjadi villain, keduanya ia perankan dengan sangat meyakinkan. Era nuansa tahun 1900-an pun sangat terasa dan Mia sangat cocok berada di dalamnya.

Seorang wanita muda yang sangat ingin keluar dari kehidupan pedesaan dan mengejar cita-citanya untuk menjadi penari dan terkenal tetapi berubah menjadi kejam ketika impiannya terancam. Ia tidak mampu menerima penolakan. Menurut saya kali ini karakter Pearl terasa lebih relate dengan siapapun. Tidak ada yang bisa menerima kekecewaan ketika impiannya tidak bisa tercapai. Terjebak dalam situasi yang memaksanya untuk melepaskan impiannya. Ketika ibunya mematahkan impiannya di titik itulah Pearl tidak mampu lagi menahan emosinya. Seorang yang seharusnya menyayanginya, memberinya ruang untuk mencapai apa yang diinginkannya tetapi ia justru kerap dibatasi ruang geraknya. Sama halnya dengan ibunya yang juga merasa terjebak saat suaminya terkena virus dan mengharuskannya untuk berjuang dan bekerja keras, ia juga tidak memberikan Pearl kebebasan yang diinginkannya.

Saya tidak mendapatkan detail tentang bagaimana masa kecil Pearl tetapi sekilas hal ini tersampaikan ketika ia berkeluh kesah kepada Mitsy. Adegan ini dimana Pearl mengungkapkan apa yang ia pendam, disampaikan Mia Goth dengan sempurna sehingga nuansa creepynya sangat tersampaikan.

Adegan penutupnya pun menurut saya tidak biasa, sederhana tetapi sangat efektif. Sebuah senyum yang ditahan dalam durasi yang lama sehingga berkembang menjadi menyeramkan dan membuat siapapun yang melihatnya merasa tidak nyaman. Sebuah penutup yang sempurna.

Pearl merupakan sosok yang kompleks dengan kerapuhannya, kebingungannya dengan sisi gelapnya yang terasa menyenangkan, dan amarah yang terpendam. Seseorang yang sangat sensitif sehingga setiap hal kecil yang mengusiknya membuat ia sangat emosional. Tidak lupa pula dengan peliharaannya yang menghuni sungai disekitar rumahnya, yang menambah sisi kelam Pearl.

Dari segi alur cerita memang tidak ada sesuatu yang luar biasa tetapi Ti West dan Mia Goth membuat film ini dan tentunya sosok Pearl melekat dan sulit dilupakan. Sutradara Ti West pun sedang menyiapkan cerita selanjutnya di film “MaXXXine” yang merupakan satu-satunya survivor di film X. Penasaran kan?

Sutradara : Ti West Penulis Skenario : Ti West, Mia Goth Pemeran : Mia Goth, David Corenswet, Emma Jenkins-Purro, Tandi Wright, Matthew Sunderland, Alistair Sewell, Amelia Reid

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: