Skip to content

Pengabdi Setan 2 : Communion (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Siapa sih yang tak kenal film Pengabdi Setan apalagi buat para penggemar film horror. Walaupun sebagian besar film horror yang saya tonton belakangan ini adalah film2 luar tetapi film horror Indonesia yang satu ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

Film dibuka dengan set up tahun 1955 tepat sehari sebelum diadakan Konferensi Asia Afrika, seorang pria yang berprofesi sebagai wartawan bernama Budiman dibawa ke sebuah gedung dimana terjadi peristiwa yang aneh, beberapa mayat tampak berkumpul dengan posisi menyembah menghadap foto seorang wanita dengan gaun putih. Budiman diminta untuk menyebarkan berita ini tetapi ia ragu dan akhirnya memilih untuk diam.

Adegan lalu berpindah set menuju tahun 80an dan menyorot sosok Rini yang ditawarkan kesempatan untuk mendapat beasiswa pendidikan sehingga ia bisa memiliki pekerjaan yang lebih baik tetapi Rini ragu untuk meninggalkan keluarganya, terutama adik-adiknya.

Sebelum menuju ke tempat tinggal Rini yaitu rusun Mandara, penonton akan dibawa bernostalgia menikmati suasana jalan di tahun itu. Ketika RIni naik ke lift yang penuh, kamera lalu menyorot ke arah tulisan kapasitas maksimum lift, detail kecil yang mengarah pada kejadian mengerikan yang terjadi berikutnya. Yah hari itu hari dimana diprediksi akan terjadi hujan badai, lift di rusun tersebut jatuh dan disaat yang bersamaan didasar lift terdapat empat anak perempuan sedang memungut koin2 yang terjatuh. Salah satu anak yang bernama Wina, berhasil keluar sebelum lift tersebut jatuh. Setelah kecelakaan mengerikan ini terjadi, hujan badai mulai turun sehingga penghuni rusun tersebut terjebak bersama korban kecelakaan dan hal-hal menyeramkan mulai mengganggu mereka satu-persatu.

Bisa dipastikan bahwa film ini tidak akan jauh-jauh dari efek jumpscare dan suasana rusun yang gelap. Efek horror sudah pasti terasa tetapi background story dan misterinya jadi tergeser oleh durasi jumpscarenya. Menurut saya film ini jadi lebih terasa seperti memasuki wahana horror. Lagi-lagi masalahnya di cerita. Film Pengabdi Setan yang pertama justru lebih terasa ada cerita sehingga membuatnya menjadi ga sekedar film horror semata.

Opening di gedung Boscha itu ide yang menarik dan menurut saya berhasil mengambil perhatian penonton. Pemandangan jalanan di era tahun 80an saat Rini pulang ke rusun Mandara juga memiliki daya tarik tersendiri. Oh dan lagu-lagu lawas yang dimainkan bukan hanya mengundang nostalgia tetapi juga mendukung dan cocok dengan tema horror. Adegan kecelakaan di lift pun juga memainkan peran penting dan menjadi titik awal yang intense.

Secara visual sinematografinya perfect, selain konsep pembukanya yang eye catching, saya juga menyukai tema tahun ’80an yang diambil. Beberapa film horror Joko Anwar sepertinya memang sering mengambil era jaman dulu dan saya memang suka dengan era tersebut. Secara teknik, film-film Indonesia memang sudah meningkat jauh.

Adanya adegan-adegan komedi yang diselipkan seperti dengan karakter Ustad Mahmud dimana salah satunya adegan ketika Pak Ustad dan Toni memeriksa kamar-kamar penghuni yang terkena kecelakaan lift itu menurut saya berhasil meredakan ketegangan sementara sebelum kembali memulai adegan-adegan jumpscare.

Ada adegan yang menurut saya terasa mengganjal yaitu ketika Dino membuang kain putih yang rasa-rasanya ga perlu dilakuin juga ya, sementara Tari memisahkan diri dari Dino untuk kembali ke yang lain sendirian ini juga sudah bisa ditebak akan kemana arahnya. Bagian ending film pun membuat sakit mata, saya berusaha keras untuk melihat jelas apa yang sedang terjadi. Lalu adegan dimana Rini berteriak seharusnya memberikan shock therapy sebelum berpindah ke adegan berikutnya tetapi saya merasa adegan ini tidak memberikan efek apa-apa.

Saya salut dengan pilihan pemerannya, tidak ada yang lemah menurut saya, semuanya bahkan para pemeran anak-anaknya pun tampil luar biasa, tidak ada sedikitpun kekakuan, terutama Nafiza Fatia Rani dimana film ini merupakan debut film layar lebar pertamanya. Bagian dimana ia berteriak bahkan ekspresi takutnya, semua terasa meyakinkan. Ratu Felisha juga membuat scene yang menarik dengan kemunculannya. Dan Asmara Abigail merupakan aktris yang membuat saya penasaran karena menurut saya ia akan sangat cocok di genre horror, saya suka setiap perannya tetapi ia belum juga mendapat sorotan sebagai peran utama. Semoga sekuel berikutnya akan lebih banyak menyorot Darminah dan Batara.

“Batara dan Darminah”

Dari sisi cerita film ini masih terasa kurang, menurut saya Pengabdi Setan pertama dan Perempuan Tanah Jahanam justru lebih banyak bercerita. Saya berharap disini kita bisa melihat bagaimana proses ritualnya dan cara melawannya, paling tidak ada sedikit perlawanan daripada hanya sekedar bertahan. Tiga sekawan Bondi, Ari dan Darto sudah membuka menguak misteri, begitu pula Toni ketika menemukan album foto lalu apa? Sepanjang film ini hanya berisi mengenai menguak misteri kultus yang berjalan puluhan tahun tetapi ritualnya seperti apa juga tidak banyak dibahas, hanya apa yang ditemukan Rini dan Toni didalam koper bapaknya. Banyak hal yang dimasukkan mulai dikaitkan dengan sejarah, bloody gore scene, cult dan supranatural tetapi arahnya kemana, saya sebagai penonton rasanya pulang dengan tangan hampa.

Secara keseluruhan sih saya menyukai film ini, tetap ada sesuatu yang berbeda dan menonjol dari film-film Indonesia lainnya, walaupun tidak sepenuhnya merupakan hal baru.

Sutradara : Joko Anwar Penulis Skenario : Joko Anwar Pemeran : Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Annuz, Bront Palarae, Ratu Felisha, Jourdy Pranata, Egy Fedli, Muzakki Ramdhan, Fatih Unru, Moh Iqbal Sulaiman, Ayu Laksmi, Muhammad Adhiyat, Nazifa Fatia Rani, Kiki Narendra, Fachri Albar, Asmara Abigail, Rukman Rosadi

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: