Skip to content

Prey (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Siapa sih yang tidak tahu film Predator? I’m not a big fan tetapi saya selalu mengikuti setiap film-film Predator dari film pertama yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. Set up lokasi prekuel dari Predator ini tentunya masih di tengah antah berantah hanya kali ini set up waktunya yang mundur jauh, 300 tahun yang lalu.

Dengan era yang mundur jauh, lingkungan yang kita temui tentunya primitif. Lingkungan pemukiman suku Comanche menjadi fokus utama film dengan Naru dan Taabe sebagai karakter utama. Naru berlatih keras untuk perburuan besar pertamanya dan ia sudah tahu target yang akan ia incar. Ketika Puhi menghilang, beberapa orang termasuk Naru dan Taabe bergerak menyusuri hutan untuk mencarinya. Setelah menemukan Puhi, Taabe melanjutkan perjalanannya untuk memburu singa yang jejaknya ia temui di tengah perjalanan. Naru menyusulnya karena ia merasa ada sesuatu yang lain selain binatang buas yang mengancam mereka.

Walaupun penggambaran kehidupan suku Comanche ini mungkin tidak tepat 100% tetapi saya tetap menyukai penggambaran karakter-karakternya dan berusaha menyajikan suasana yang berbeda walaupun tidak dengan budget yang wah. Apalagi permasalahan yang muncul bukan hanya si predator tetapi juga binatang-binatang buas di sekeliling mereka dan tentunya orang kulit putih.

Saya juga menyukai bahwa karakter utama kali ini adalah seorang perempuan yang yah sesuai dengan opini beberapa penonton yang nampaknya juga sama dengan pemikiran si Predator yang mengganggap Naru bukanlah ancaman. Sosok Naru bukanlah seperti warrior yang kita temui di film-film action. Naru lebih down to earth dengan skill yang ga over the top tetapi cerdas dan memiliki kemauan yang kuat.

Dan tentunya di era manapun yang selalu mengganggap perempuan ya tugasnya memasak sementara disini Naru berusaha membuktikan dirinya pun mampu berburu. Beberapa penonton mungkin berpendapat film ini slow tetapi menurut saya terkadang kecepatan dan kekuatan bukanlah semata-mata sumber utama kemenangan tetapi juga pengalaman dan tentunya kepandaian memanfaatkan skill yang dimiliki serta mengatur strategi. Dan yang paling utama adalah never underestimate your opponent.

Hal lain yang menurut saya brilian adalah menunjukkan dua sisi yang jauh berbeda dan saling berhadapan. Mengambil ide karakter utama suku Comanche dengan senjata yang primitif di era itu berhadapan dengan makhluk yang memiliki teknologi paling canggih, kedua hal ini saja akan menjadi hal yang sulit untuk disatukan tetapi Dan Trachtenberg mampu menggabungkan keduanya dan tidak terlihat timpang sama sekali. Ia berhasil meyakinkan saya sebagai penonton bahwa hal itu sangat mungkin terjadi.

Sudut pengambilan gambar dan view yang sangat menarik dengan karakter utama yang sederhana tetapi tetap menonjolkan aksi yang pintar membuat saya tertarik dengan film ini. Secara visual film ini tidak diragukan lagi apalagi adegan ketika si predator membelah padang rumput dengan kecepatannya.

Sutradara : Dan Trachtenberg Penulis Skenario : Patrick Aison
Pemeran : Amber Midthunder, Dakota Beavers, Stormee Kipp, Michelle Thrush, Julian Black Antelope, Dane DiLiegro

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: