Skip to content

Resurrection (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Resurrection merupakan film psychological thriller yang dibintangi oleh Rebecca Hall dan Tim Roth. Film ini tidak akan cocok untuk semua penonton terutama karena sudut pandang yang diambil dan metafora yang digunakan membuatnya sulit untuk dicerna.

Margaret menjalani kehidupan yang cukup sukses dan terkendali, ia bekerja di perusahaan biotech dan memiliki seorang anak perempuan bernama Abbie yang akan menginjak usia 18 tahun dan memasuki kuliah. Hal-hal aneh mulai ditunjukkan dari awal film ketika Margaret menceritakan pada kekasihnya Peter bahwa setelah 22 tahun ia mulai menggambar lagi, walaupun hal ini tidak ditunjukkan tetapi Margaret menyampaikannya dengan sikap bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang biasa untuknya. Lalu keanehan berikutnya adalah ketika anaknya Abbie menemukan sebuah gigi di dalam dompetnya. Dan puncaknya adalah ketika Margaret melihat sosok David di dalam sebuah konferensi, nafasnya langsung meningkat dan ia berlari pulang sambil mengucapkan nama Abbie.

Film ini sedikit sulit untuk dikupas tetapi banyak hal yang bisa didiskusikan tentang film ini. Film ini terbuka untuk penonton menterjemahkannya ke dalam berbagai penjelasan. Apa yang saya bisa tangkap adalah bahwa Margaret mengalami trauma di usia 18 tahun, yang ia ungkapkan secara tiba-tiba kepada rekan kantornya di pertengahan film, dan fakta bahwa Abbie pun akan menginjak usia 18 tahun bisa jadi merupakan faktor pemicu kenapa trauma itu tiba-tiba muncul kembali.

Sosok David yang menggoreskan luka baik secara fisik maupun mental pada Margaret menurut saya nyata, tetapi kemunculannya kembali kemungkinan adalah halusinasi yang diciptakan Margaret yang bukan hanya mengalami luka fisik tetapi juga merasa bersalah karena ia merasa tidak bisa menjaga bayinya dan kini ia merasa harus melakukan segala cara supaya Abbie aman dari segala hal, termasuk dari David.

David mulai sering muncul di sekitar Margaret, setelah kemunculannya di konferensi lalu ia muncul di mall dan kemudian di taman yang mana akhirnya Margaret menghadapinya. Disini Rebecca Hall dan Tim Roth memerankan karakternya dengan luar biasa meyakinkan. Saya terbawa masuk ke dalam dunia Margaret dan hampir percaya bahwa apa yang ia alami adalah nyata sedangkan Tim Roth memerankan David sebagai sosok yang tenang sekaligus menakutkan dan saya bisa merasakan hal itu tanpa ia perlu berbuat banyak. The plot itself is a twisted mind games.

Walaupun ada momen dimana ketika David menemui Margaret di kantornya dan Peter serta salah satu rekan kerjanya melihat ke dalam ruangan tersebut dan seakan melihat keduanya berbicara tetapi hal ini mungkin merupakan halusinasi dan yang ia hadapi sesungguhnya bukanlah David.

Satu hal yang bisa saya rasakan bagaimana dalamnya trauma tersebut membekas yaitu bagaimana Margaret masih melakukan apa yang dikatakan David bahkan ia masih mempercayai setiap kata-katanya. Ini menunjukkan betapa brainwash yang dilakukan David menancap dalam tanpa ia harus mengangkat senjata untuk mengancam dan membuat Margaret lupa akan posisi dirinya sekarang.

Secara visual pun teknik pengambilan gambarnya berhasil, beberapa adegan seperti apa yang dilihat Margaret di dalam microwave, sekelebat bayangan dijendela bahkan ketika Margaret terkena panic attack dan nafasnya meningkat merupakan adegan-adegan kecil yang seketika terasa intens dan membuat saya ikut merasa was-was. Two thumbs up untuk Andrew Semans, Rebecca Hall dan Tim Roth. Ini bukan film yang mudah tetapi Rebecca Hall dan Tim Roth mampu membuatnya hidup.

Nah yang paling ditunggu-tunggu adalah bagian endingnya dan disini Andrew Semans menutup film dengan sangat pas. Bukan menggantung tetapi seperti sebuah metafora dan penonton harus menguraikan metafora tersebut untuk mendapatkan penutup yang ingin disampaikan dalam film tersebut.

Sutradara & Penulis Skenario : Andrew Semans Pemeran : Rebecca Hall, Tim Roth, Grace Kaufman, Michael Esper

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: