Skip to content

Review Film : Penyalin Cahaya / Photocopier (2022)

Rating: 3 out of 5.

Film ini sudah saya tunggu sejak kemunculan poster2nya dan beritanya meraih 12 piala citra. Dengan fakta ini sebenarnya agak berat untuk mereview film Penyalin Cahaya. Sejujurnya saya memiliki ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini dan ada sedikit rasa kecewa karena saya merasa ekspektasi tersebut tidak tercapai. Gaya berceritanya memang berbeda, ada adegan yang terasa lekat dengan nuansa teater, mungkin ini juga yang kemudian menjadi salah satu daya tarik film ini.

Film ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Suryani, yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Tanpa beasiswa itu, Sur tidak akan sanggup untuk meneruskan kuliahnya karena penghasilan orang tuanya hanya dari berjualan di warteg. Ayah Suryani merupakan pria yang keras dan cenderung melarang Sur untuk melakukan kegiatan diluar kuliahnya.

Sur terlibat dalam kegiatan teater Mata Hari dan ketika pertunjukan teater mereka memenangkan festival teater mahasiswa, mereka merayakannya dengan mengadakan pesta di rumah Rama. Di pesta dengan dresscode 40an ini Sur mabuk dan ketika sadar ia sudah terbangun di rumahnya, tidak ingat akan apa yang terjadi di malam pesta hingga ketika ia berusaha mengurus beasiswa, Sur disodorkan foto2 dirinya yang tengah mabuk dan akhirnya membuat ia gagal mempertahankan beasiswa. Sur merasa tidak mengambil foto2 tersebut dan ia bertekad untuk membuktikan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di pesta malam itu.

“Penyalin Cahaya”

Jujur saya sedikit terkejut dengan storyline dan pilihan gaya berceritanya padahal film ini membawa pesan yang sangat penting. Pesan ini menurut saya seakan disampaikan dan diceritakan dengan terlalu aman. Saya tidak larut dalam emosi padahal ini adalah tema yang akan mudah menyentuh hati.

Film ini mengangkat isu sosial yang sangat penting dan seharusnya membawa emosi saya pada titik tertinggi tetapi saya justru merasa flat bahkan dipertengahan saya mulai merasa tidak sabar dan mempercepat film.

Sebenarnya film ini sudah diawali dengan sangat bagus, emosi saya mulai meningkat ketika beasiswa Suryani dihentikan karena foto2 di sosial medianya semata, lalu tuduhan itu menjadi2 dan menyebar ke arah yang tidak signifikan. Yah, mereka yang seharusnya menjadi sandaran dan harapan bagi para mahasiswi justru memanfaatkan keadaan, bersikap cuek, mementingkan nama baik kampus dan tentunya mementingkan mereka yang memiliki “status”.

Satu hal yang harus saya akui, awalnya saya merasa background fogging gratis dalam film ini terasa sedikit mengganggu tetapi ide untuk membuat fogging ini sebagai pengalihan merupakan ide yang mengejutkan. Ide memasukkan mesin fotocopy pun merupakan sesuatu yang berbeda dan keduanya merupakan ciri khas yang sudah tidak asing kita lihat. Misteri yang berusaha diungkap oleh Suryani pun alurnya cukup memuaskan. Saya salut dengan genre yang diambil untuk membawakan film ini.

Film ini juga didukung oleh nama2 yang sudah tidak asing lagi seperti Lukman Sardi, Yayan Ruhian, Adipati Dolken, dan masih banyak lagi. Sayangnya peran mereka terbatas dan saya merasa beberapa karakter dengan peran terbatas inilah yang justru membawa “rasa” pada film ini dengan akting dan peran mereka.

Suryani tidak sendiri, banyak mahasiswi lain yang akhirnya putus asa dan bungkam. Dalam realitanya banyak Suryani diluar sana yang tidak mampu bersuara sedikitpun, terhimpit dan tertekan antara rasa malu dan trauma, mereka yang adalah korban justru dipojokkan dan disalahkan, terkadang bahkan keluarga dan teman terdekatpun tidak mampu menjadi support system. Lalu kemana mereka harus mengadu?

Dalam film ini sebuah situs disisipkan “wannatalkaboutit.com” dan didalamnya ada empat organisasi yang bisa dijadikan wadah untuk “mengadu”. Semoga mereka bisa membantu dan meringankan masalah yang terkadang dianggap sebelah mata padahal dampaknya seumur hidup.

Film Penyalin Cahaya ini sudah bisa kalian tonton di Netflix mulai tanggal 13 Januari 2022.

Sutradara : Wregas Bhanuteja Penulis Skenario : Wregas Bhanuteja Pemeran : Shenina Cinnamon, Chicco Kurniawan, Lutesha, Jerome Kurnia, Giulio Parengkuan, Dea Panendra, Ruth Marini, Lukman Sardi, Yayan Ruhian

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: