Skip to content

Review Film : The Doll 3 (2022)

Rating: 2 out of 5.

Chucky dengan kearifan lokal, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk menggambarkan boneka Bobby di film The Doll 3. Setelah kedua film sebelumnya mengingatkan kita dengan Annabelle, kini film ketiganya tentu langsung membuat kita menyebut si boneka Chucky tapi tentunya dengan memasukkan unsur2 mistis ala Indonesia.

Diceritakan setelah kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan kemudian adiknya Gian yang bunuh diri setahun setelah selamat dari kecelakaan tersebut, Tara meminta bantuan seorang dukun untuk memasukkan arwah Gian ke dalam boneka Bobby miliknya. Tara merasa bersemangat setelah berbicara dengan Gian melalui boneka Bobby tetapi kembalinya arwah Gian tersebut diikuti dengan kecelakaan pada orang-orang disekitar Tara.

Hal pertama yang membuat saya salut pada film ini adalah penggunaan teknologi robot yang membuat si boneka Bobby ini tidak terlihat kaku bahkan ekspresinya pun mampu berubah-ubah seperti ekspresi manusia dan ekspresi menyeramkannya pun dapet. Selain itu dari segi akting, semua pemerannya tidak mengecewakan walaupun ada satu dua adegan slasher yang posisi badannya masih terlihat kaku tetapi ga terlalu signifikan dan masih bisa ditolerir. Sayangnya ya hanya itu yang membuat saya senang dengan film ini.

Beberapa hal yang menurut saya membuat film ini terasa lemah adalah di bagian awal kita tidak diperlihatkan sedikitpun bagaimana sikap Gian setelah selamat dari kecelakaan maupun sikapnya terhadap Tara maupun Aryan yang paling tidak akan membuat agak relate dengan kejadian-kejadian setelahnya. Lalu beberapa dialog antara Tara dan Gian terasa kaku dan si boneka Bobby ini tidak pernah diperlihatkan ketika mengikuti yang dia incar, ia tiba-tiba bisa berada di tempat yang sama dengan target yang dia incar. Ada juga satu adegan dimana ketika Tara curhat pada Rere tentang apa yang dilakukan boneka Bobby itu, Rere bisa langsung menyimpulkan apa tujuan boneka Bobby itu. Pokoknya dari awal film alur cerita seperti dipaksa berjalan secepat kilat.

Satu hal yang seharusnya menjadi fokus utama dari film ini yaitu hubungan emosional antara Tara dan Gian yang justru menjadi hal yang kurang sampai ke penonton sehingga apa yang dilakukan si boneka Bobby ini dengan mengincar Aryan maupun anaknya Mikha tidak terasa “nyambung”. Bila Gian sampai pada titik melakukan bunuh diri karena merasa cinta kakaknya akan terbagi seharusnya ada gambaran akan kondisi mental Gian setelah kecelakaan hingga di titik ia bunuh diri. Bagian ini terasa dilompati begitu saja dan berharap penonton bisa langsung paham.

Adegan yang buat saya terlalu mencolok adalah ketika si boneka Bobby mengincar Rere sementara sebelumnya Tara baru keluar dari rumah Rere memakai mobil, kalau dipakai logika harusnya Tara sudah jalan lumayan jauh tetapi setelah dari rumah Rere si boneka Bobby tiba2 muncul di samping Tara ketika ban mobilnya kempes. Selama nonton film2 semacam Scream, Halloween maupun Chucky akan ada jeda antara kemunculan villainnya di satu tempat dan tempat lain nah di adegan tadi itu bener2 berawal dari titik yang sama dan secara logika antara mobil dan si boneka masa iya lebih cepat boneka, walaupun ia lewat jalan pintas sekalipun.

Lalu ketika adegan dimana si boneka terkena pukul dan mengatakan pusing, juga ketika menggunakan bahasa inggris untuk mengumpat, saya mulai tersenyum2 sendiri. Entah apakah hal ini memang sengaja digunakan untuk menyelipkan unsur komedi justru disaat ketegangan memuncak. Dan lucunya lagi karakter Aryan dan Mikha sedari awal mengalami berbagai kecelakaan tetapi tidak kunjung terbunuh.

Jujur saya memang tidak terlalu berekspektasi tinggi dengan film-film horror Indonesia, sorry to say rasanya seperti masih berjalan di tempat, masalahnya ya itu-itu aja. Padahal kalau dari segi teknologi, perfilman Indonesia sudah cukup canggih tetapi dari segi alur cerita masih terasa banyak celahnya, ini masih bermain di subgenre supranatural ya gimana kalau mulai merambah ke psychological horror. Tapi kalau mau ambil sisi positifnya ya you will never know if you don’t try.

Satu lagi yang perlu saya tekankan adalah film horror dikemas dalam bentuk apapun tidak akan pernah layak ditonton anak-anak, jadi kalau tujuan awal ketika membuat film horror adalah bisa ditonton semua umur, menurut saya ini sudah salah. Mencoba genre slasher memang tidak salah tetapi saya pikir tetap harus dibatasi usia.

Sutradara : Rocky Soraya Penulis Skenario : Riheam Junianti, Rocky Soraya Pemeran : Jessica Mila, Winky Wiryawan, Masayu Anastasia, Montserrat Gizelle, Muhammad Zidane, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: