Bayangkan berjalan di koridor bawah tanah yang sepi. Lampu neon berkedip, langkah kaki menggema, dan setiap belokan selalu kembali ke titik semula. Semakin lama, dunia terasa tidak wajar—wajah orang asing yang lewat tampak aneh, papan petunjuk berubah diam-diam, dan lorong seolah menolak untuk berakhir. Inilah mimpi buruk yang ditawarkan film Jepang The Exit 8 (8-ban deguchi).
Cerita film The Exit 8 ini berfokus pada seorang pria yang terjebak dalam koridor bawah tanah misterius. Ia harus memperhatikan lingkungan sekitar untuk menemukan kejanggalan dan mengikuti aturan : jika menemukan anomali, segera mundur, jika tidak, terus maju. Satu kesalahan membuatnya kembali ke titik awal, menciptakan sensasi terperangkap dalam jalur berulang tanpa akhir.
Dengan premis sederhana ini, menurut saya Genki Kawamura berhasil menciptakan film yang memadukan suspense, paranoia, dan simbolisme filosofis.
Film ini merupakan adaptasi dari video game horror indie dengan judul sama yang dirilis pada tahun 2023. Film ini mengangkat hampir seluruh premis unik dari game—yaitu berjalan tanpa akhir di koridor stasiun bawah tanah, mencari “anomali” sekaligus berusaha mencapai pintu keluar nomor 8—ke dalam format live-action yang mencekam.
The Exit 8 menggunakan setting minimalis, hanya satu lokasi utama dengan pengulangan visual. Namun justru di sinilah letak kekuatannya. Kamera menyorot detail-detail kecil: ekspresi orang asing yang terasa janggal, papan tanda yang berubah tanpa disadari, maupun bayangan yang bergerak melawan arah.

Secara visual film ini seakan mengajak kita untuk ikut terlibat dan memperhatikan detail-detail tersebut dengan seksama. Walaupun sederhana tetapi detail-detail tersebut membangun rasa tidak nyaman yang semakin menekan.
Minim dialog, tempo lambat, dan repetisi adegan di film ini bukan menjadi sebuah kelemahan, melainkan cara Kawamura membuat penonton ikut merasakan keputusasaan tokoh utama.
Tetapi diluar hal tersebut yang menjadi nilai tambah film ini menurut saya adalah lapisan narasi psikologis, apa yang sedang dihadapi tokoh utama menjadi refleksi bagi dirinya setelah melalui koridor tanpa ujung tersebut.
Film ini bukan hanya sekedar menunjukkan sebuah lorong yang mencekam tetapi ada simbol dan makna tersendiri dari setiap apa yang dilalui oleh si tokoh utama. Dan repetisi bukan hanya sekedar menunjukkan anomali yang harus ditemukan tetapi juga seakan menunjukkan bahwa diperlukan keberanian untuk menyadari apa yang menjadi sumber masalah.
Anomali menjadi inti cerita sebagai detail kecil yang menandakan ada yang “salah” dengan realitas.
Film ini membuat saya berpikir : apakah dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sedang berjalan di koridor yang sama, mengulang pola yang tidak kita sadari?
Sutradara : Genki Kawamura Penulis : Genki Kawamura, Hirase Kentaro, Kotake Create (video game) Pemeran : Kazunari Ninomiya, Yamato Kochi, Naru Asanuma, Kotone Hanase, Nana Komatsu
