Skip to content

Teka Teki Tika (2021) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Saya melewatkan film ini di bioskop tetapi untungnya Teka Teki Tika kembali tayang di platform online Disney Hotstar. Memang sedikit terlambat tetapi saya tetap ingin mereview film ini karena di film ini Ernest Prakasa mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dan mencoba sesuatu yang baru diluar genre komedi.

Teka Teki Tika dimulai dengan perayaan ulang tahun pernikahan dari pasangan Budiman dan Sherly yang dihadiri oleh kedua putra dan pasangan mereka, Arnold dan Laura serta Andre dan Jane. Sayangnya perayaan tersebut diusik dengan kedatangan seorang perempuan asing yang mengaku bahwa dirinya adalah anak dari Budiman, Tika.

Lalu ceritanya semakin meningkat ketika Tika menceritakan bahwa dirinya adalah hasil perselingkuhan Budiman dan meminta imbalan sebesar Rp100 juta atau ia akan membeberkan skandal tersebut ke media. Budiman membantah pernyataan tersebut tetapi Sherly ragu dan ingin tahu permasalahan tersebut lebih jauh.

Meskipun bergenre drama thriller tetapi film ini masih kental dengan nuansa komedi. Saya cukup menyukai film ini walaupun memang tidak bisa dipungkiri masih banyak celah disana-sini. Untungnya Ernest mengeksekusi film ini dengan ritme yang cepat dan tidak bertele-tele sehingga saya tetap tertarik mengikutinya hingga akhir.

Ketika Tika muncul, saya mulai bertanya2 tentang siapa Tika sebenarnya, apakah ia mengatakan yang sebenarnya, dan apa tujuannya melakukan hal itu karena sudah bisa ditebak bahwa uang bukanlah alasan utama. Sangat disayangkan karena cerita yang sudah berkembang dengan apik dari awal mulai melemah di pertengahan film.

Saya menghargai usaha Ernest untuk memberi beberapa plot twist walaupun kurang berhasil memberikan efek yang diharapkan. Ini faktor utama yang masih cenderung lemah di genre mystery thriller pada film2 Indonesia, sebagian besar plot terasa mudah ditebak tetapi untuk film Teka Teki Tika plotnya lebih ke arah tidak memberikan shock therapy efek i don’t see it coming.

Satu hal lain yang sedikit terasa mengganjal adalah saya merasa kasus yang diangkat Tika tidak cukup untuk mendorong Budiman mengatakan kejujuran. Menurut saya butuh tekanan yang jauh lebih keras untuk mendorong dan menjebak Budiman untuk menumpahkan apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu. The trick is just too simple to push someone who keep a dark secret for years, to the edge.

I don’t think it’s a bad movie though walaupun film ini masih jauh dari gaya thriller yang saya harapkan. Saya tidak yakin apakah saya menyukai karakter Tika di awal film yang terlihat sedikit berlebihan dengan gaya casualnya, yang terlintas di pikiran saya ia justru lebih cocok dengan style kalem, jutek, sedikit sombong tetapi tetap misterius seakan ia benar2 memiliki kartu mati keluarga Budiman. Cerita tentang drivernya pun terasa menjadi plot twist yang sedikit dipaksakan, bukan karakternya tetapi lebih ke background story si driver ini yang agak lemah. Sepertinya film ini justru menjadi sebuah comedy thriller walaupun lagi2 menurut saya nuansa thrillernya itu masih belum terasa.

Tidak mudah memang untuk keluar dari zona nyaman apalagi genre ini merupakan hal baru untuk seorang Ernest Prakasa tetapi saya lebih memilih melihat seseorang yang berani mencoba hal baru ketimbang selalu sukses tetapi berada di genre yang sama tanpa melirik hal2 lain yang mungkin bisa mengembangkan perspektifnya. Apalagi dunia mystery, thriller dan psychological horror adalah sesuatu yang sangat jarang tersentuh di perfilman Indonesia. I desperately need a great plot twist in that genre from Indonesian movie.

Sutradara : Ernest Prakasa Penulis Skenario : Ernest Prakasa Pemeran : Sheila Dara, Ferry Salim, Jenny Zhang, Dion Wiyoko, Eriska Rein, Morgan Oey, Tansri Kemala

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: