Skip to content

The Black Phone (2021) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Film ini merupakan salah satu film yang saya masukkan di daftar wajib tonton. Walaupun saya berharap akan ada plot twist yang berbeda tetapi saya cukup menyukai film ini secara keseluruhan.

The Black Phone dimulai dengan menghilangnya 5 orang anak. Satu persatu anak-anak tersebut menghilang setelah berpapasan dengan sebuah mobil van berwarna hitam. Salah satu teman sekolah Finney bernama Robin pun ikut menjadi korban.

Tidak lama setelah hilangnya Robin, sepulang sekolah Finney pun melihat sebuah mobil van hitam dan seorang pria bertopeng yang mengaku bekerja sebagai pesulap muncul dan menculik Finney.

Misteri demi misteri mulai bermunculan sejak hilangnya Finney. Ia terbangun di ruangan basement dengan sebuah telepon berwarna hitam yang tidak berfungsi tetapi Finney mendengarnya berdering dan mendengar seseorang berbicara, mereka adalah anak2 korban the Grabber yang berusaha memberi tahu Finney apa yang mereka alami.

Hal pertama yang saya sukai dalam film ini adalah karakter2nya. Finney dan Gwen menjadi kakak beradik favorit saya dengan kedekatan mereka, meskipun apa yang mereka alami dengan ayahnya mereka tetap bertahan, saling menjaga dan saling support kadang bahkan tanpa perlu banyak kata-kata.

Madeline McGraw memerankan Gwen dengan karakter yang menyenangkan, sangat lucu terutama di adegan2 ketika ia berdoa, mengharukan ketika ia membela kakaknya dan yang paling berkesan adalah adegan setelah ia dipukuli ayahnya dan duduk disebelah Finney. Sementara Mason Thames memerankan Finney sebagai kakak dengan karakter yang lebih serius dan insecure terutama karena ia merasa tidak bisa menjadi pelindung bagi adiknya dan dirinya sendiri.

Ethan Hawke berhasil membawakan sosok the Grabbers dengan menyeramkan tanpa harus berlebihan dan tanpa harus menunjukkan banyak kesadisan. Pembawaannya sendiri, bagaimana ia berkata-kata walaupun sebagian besar dibalik topeng tetapi tetap terasa menakutkan, bukan pengaruh topeng semata.

Satu karakter lagi yang saya suka meskipun ia tidak banyak muncul adalah  Miguel Cazarez Mora yang memerankan Robin. Saya menyukai gayanya yang unik.

Secara cerita film ini justru tidak memfokuskan pada si penculik tetapi justru pada anak-anaknya. Kemampuan yang menurun dari sang ibu membuat Gwen dan juga Finney memiliki kelebihan, ini yang juga menjadi pusat dari cerita dan membuat posisi mereka setara dengan karakter antagonisnya. Telepon hitam yang menjadi pusat film ini juga turut memberikan efek menegangkan tersendiri.

Saya menyukai setiap proporsi yang pas dalam film ini karena secara pribadi ketika melibatkan kekerasan pada anak dalam sebuah film saya cenderung tidak ingin film menjadi terlalu dark dan film ini tetap berada pada batas-batas tersebut sehingga saya masih bisa menikmatinya.

Secara konsep keseluruhan mungkin tidak jauh berbeda dengan film-film di genre yang sama tetapi banyak detail-detail kecil yang saya sukai. Ya memang ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab tetapi tidak terlalu menjadi point utama dan saya mampu mengatakan it’s a movie, tidak semuanya harus terjelaskan, saking saya puas dengan filmnya. Menurut saya pilihan setting eranya, sosok the Grabbers secara konsep maupun visual, outfit, dan props, semua faktor-faktor ini cukup berhasil.

Sutradara : Scott Derrickson Penulis Skenario : Scott Derrickson, Robert Cargill Pemeran : Ethan Hawke, James Ransone, Jeremy Davies, Mason Thames, Madeleine McGraw

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: