Skip to content

Where the Crawdads Sing (2022) – movie review

Rating: 4 out of 5.

Marsh is not swamp. Marsh is a space of light, where grass grows in water, and water flows into the sky.

Setelah kemunculannya di film Fresh, saya bersemangat ketika Daisy Edgar Jones akan muncul kembali di film bergenre drama misteri ini.

Film yang diangkat dari sebuah novel karya Delia Owens ini diawali dengan kematian seorang pemuda bernama Chase Andrews di Barkley Cove, Carolina Utara. Jasadnya ditemukan oleh dua anak laki-laki yang sedang bersepeda. Awalnya ia diduga terjatuh dari menara yang lama tak terpakai tetapi penduduk setempat mulai menyebarkan berita bahwa ada kemungkinan Kya Clark, alias ‘the Marsh Girl’ yang membunuhnya.

Dua sherif setempat segera memeriksa berita tersebut tetapi mereka tidak menemui Kya di rumahnya. Salah satu sherif melihat rajutan benang merah didalam rumahnya, warna benang yang sama yang ditemukan di jaket yang dipakai Chase Andrews. Kya Clark pun dibawa dan ditahan atas tuduhan pembunuhan Chase Andrews. Ketika seorang pengacara, Tom Milton, mengajukan diri untuk membela Kya Clark, cerita tentang masa lalunya pun bergulir.

Saya jatuh cinta dengan cerita dan film ini secara keseluruhan walaupun minim dengan adegan yang menegangkan tetapi saya menyukai view lokasi dan drama kehidupan Kya Clark. Kya hidup bersama keluarganya ditengah rawa tetapi ketika ia berumur enam tahun ibunya yang terus menerus mengalami kekerasan dari ayahnya yang sering mabuk, suatu hari memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Murph, Mandy dan Missy lalu Jodie, semua kakaknya pun berturut2 pergi karena kekerasan yang dilakukan ayahnya. Di titik ini saya merasa sedikit aneh dengan ceritanya karena mereka tidak membawa Kya atau setidaknya menawarkan untuk mengajaknya pergi. Anyway, akhirnya Kya tinggal berdua dengan ayahnya dan ia berusaha berhati2 untuk tidak terkena amukan ayahnya sampai suatu hari setelah sebuah surat datang dari ibunya, ayahnya pun juga pergi meninggalkan Kya.

Masa kecil Kya sangat menyedihkan, ia tumbuh di tengah rawa, berjuang bertahan hidup sendiri karena tidak hanya keluarganya tetapi penduduk di Barkley Cove pun acuh dan selalu menjauhinya. Orang-orang yang benar-benar peduli padanya dan selalu membantunya hanyalah Mabel dan Jumpin, juga seorang anak lelaki bernama Tate.

Saya suka bagaimana karakter Kya dikembangkan, in reality mungkin terlihat tidak mungkin tetapi cerita ini disusun sedemikian rupa sehingga saya mempercayai rangkaian cerita tragis, pahit, indah, hingga misteri yang muncul yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana cerita ini akan ditutup. Saking sukanya saya bertekad untuk membaca novel dari Delia Owens ini dan saya lebih jatuh cinta lagi dengan novelnya.

Kya adalah gadis yang cerdas namun masa kecilnya tidaklah mudah. Di dalam novelnya digambarkan lebih jelas bagaimana hubungannya dengan ayah dan ibunya, juga kakak2nya terutama Jodie. Mengapa ia menghindar dari penduduk Barkley Cove, bahkan hubungannya dengan Tate dan Chase sedari kecil pun diceritakan lebih detail di dalam novelnya.

Setiap detail dalam film ini terasa puitis, gambar-gambar yang dibuat oleh Kya sangat cantik dan ketika akhirnya ia bisa menghasilkan dari tempat tinggal melalui gambar-gambarnya, saya bahkan ikut merasa senang, seakan saya ikut tenggelam dalam cerita. Walaupun nuansa suspensenya minim tetapi misteri pembunuhan yang diungkap di awal dan bagaimana cerita perlahan membuka misteri tersebut tetap memancing rasa ingin tahu. Anehnya walaupun setelah film berakhir dan saya mengetahui kebenarannya, saya merasa seakan semuanya merupakan hal yang wajar. Sama halnya seperti pola kehidupan di alam yang tidak bisa kita cap mengerikan melainkan hanya sebuah cara untuk bertahan hidup.

Catherine Danielle “Kya” Clark

Saya sangat merekomendasikan untuk membaca novelnya, karena banyak detail yang tidak dimasukkan ke dalam film. Banyak saksi-saksi yang bisa memberatkan Kya tetapi kesaksian tersebut tidak cukup kuat dan Tom Milton sebagai pengacaranya pun berjuang keras untuk mematahkan setiap kesaksian yang memberatkan Kya. Justru dalam novelnya ini nuansa misterinya jauh lebih terasa dan persidangannya terasa menegangkan.

Momen di dalam novel yang menurut saya sayang tidak dimasukkan ke dalam film adalah dimana Kya pertama kali bertemu Jodie setelah bertahun-tahun dan Jodie menunjukkan sebuah lukisan yang dilukis oleh ibunya yang menggambarkan keluarga mereka ketika masih utuh bersama. I think this will be the saddest part of the movie.

Sesuai ekspektasi, setidaknya untuk saya, Daisy Edgar Jones tampil memikat, menyatu dengan cerita. Jojo Regina pun memerankan Kya di masa kecil dengan baik, saya merasa mengenalinya tetapi ternyata ini merupakan film layar lebar perdananya.

Catherine Danielle Clark atau Kya Clark atau Marsh Girl merupakan karakter fantasi yang paling memikat dan menginspirasi, one of my favorite characters and story.

Where the Crawdads Sing mulai tayang 14 September di bioskop. Don’t miss it!

Sutradara : Olivia Newman Penulis Skenario : Delia Owens (based upon the novel by), Lucy Alibar Pemeran : Daisy Edgar-Jones, Taylor John Smith, Harris Dickinson, David Strathairn, Michael Hyatt, Sterling Macer Jr, Jojo Regina, Bill Kelly, Logan Macrae

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: