Skip to content

Windfall (2022) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Bagian opening Windfall langsung mengingatkan saya dengan gaya film Alfred Hitchcock begitu pula dengan musiknya yang seakan mengintimidasi walaupun hanya menyorot sebuah lokasi. Seketika rasa rindu saya dengan film2 Hitchcock terobati mengingat masa kecil saya dipenuhi dengan film2 Hitchcock, tetapi membuat film dengan style Hitchcock tidaklah mudah.

Film dimulai dengan set up sebuah rumah liburan dengan pemandangan yang sangat indah lalu menyorot seorang pria yang sedang menikmati pemandangan sambil minum segelas jus. Pria tersebut bukanlah pemilik rumah karena tidak lama setelahnya ia mulai menghapus jejak lalu mengambil uang yang ada didalam rumah tersebut. Disaat yang bersamaan sang pemilik dan istrinya tiba di rumah tersebut untuk menghabiskan waktu bersama, pertemuan ketiganya pun tak terhindarkan.

Membuat film dengan gaya Hitchcock tidak mudah, secara pengambilan gambar dan musik mungkin masih bisa tetapi dari segi storyline dan karakter, Hitchcock memiliki style tersendiri yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah menonton film Hitchcock saya cenderung bertanya di akhir film, apa yang baru saja terjadi? Kita tahu karakter2 yang ada didalamnya tetapi bagian endingnya selalu membuat penonton terkejut.

Hal ini yang sulit untuk diterapkan, film Windfall terasa masih bisa ditebak dan yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat karakter tersebut flip dari protagonis menjadi antagonis, apa yang menjadi pemicunya? Ini yang terasa seperti celah kosong.

Bagian ending Windfall mungkin menggambarkan ending dari film Hitchcock tetapi proses penggambaran karakter2nya dari awal terasa jauh dari itu. Saya bisa merasakan kesombongan si bilioner tetapi tidak merasakan kemarahan dari si penerobos dan juga istri si bilioner.

Semua mungkin bisa langsung melihat dari awal siapa tokoh protagonis dan antagonis. Si penerobos yang terkena PHK karena sebuah ide bisnis dari si bilioner, karakter ini tidak bisa dibilang protagonis walaupun ia berada di posisi tersebut, tetapi ia tidak bisa juga dibilang sebagai korban . Si bilioner merupakan karakter yang konsisten dari awal hingga akhir, mungkin tidak ada yang akan mendukungnya karena sikapnya. Karakter yang paling ambigu dan menjadi tanda tanya adalah si istri bilioner yang diperankan oleh Lily Collins. Memang ada alasan mengapa si istri bilioner tidak menyukai suaminya, tetapi menurut saya alasan2 tersebut terasa kurang cukup dan titik baliknya terasa tiba2.

Meskipun begitu saya merasa film ini menarik dari segi akting, musik dan pengambilan gambar. I really love to see more of this.

Sutradara : Charlie McDowell Penulis Skenario : Justin Lader, Andrew Kevin Walker Pemeran : Jason Segel, Lily Collins, Jesse Plemons, Omar Leyva

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: