You Won’t Be Alone (2022) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Film drama horror folklore ini cukup memikat dengan nuansa dan vibe yang berbeda. Untuk beberapa orang mungkin film ini akan terasa sangat lambat tetapi sama halnya dengan film Lamb, You Won’t Be Alone punya konsep yang menggelitik.

Film yang menceritakan tentang penyihir yang dikenal sebagai Wolf Eater di abad 19 Macedonia ini mengambil sebuah sudut yang sedikit berbeda. Selain si penyihir mampu mengambil wujud manusia ataupun hewan lain (shape shifting) , ia juga mampu menurunkan kemampuannya pada satu orang lain.

Adegan awal langsung menyorot seorang ibu yang berada dalam keadaan terpojok ketika penyihir Wolf Eater tiba2 muncul didekat bayinya saat ia sedang memasak. Si ibu tentunya berusaha untuk menyelamatkan bayinya hingga ia mencoba menawarkan kesepakatan untuk membiarkan anaknya hidup hingga berusia 16 tahun, setelah itu si penyihir bisa mengambil anaknya sebagai pelayan untuk menemaninya. Si penyihir Wolf Eater tersebut menerima kesepakatan dengan sebuah tanda pengikat, ia membuat si bayi tidak bisa bersuara, selamanya.

Nevena

Si ibu lalu menyembunyikan bayinya di dalam gua hingga ia beranjak dewasa tanpa interaksi dengan siapapun, kecuali ibunya. Tentunya dari awal si ibu tidak memiliki niat untuk menyerahkan putrinya begitu saja. Ia berusaha melawan disaat si penyihir datang tetapi tidak berhasil. Nevena, putri yang terisolasi selama 16 tahun didalam gua itu akhirnya diubah juga menjadi seorang penyihir dan ia mengeksplor rasa ingin tahunya akan manusia dan dunia dengan “kemampuan” barunya.

Saya menyukai tone, sinematografi, pemandangan dan cara penyampaian cerita yang terasa seperti sebuah puisi. Sekilas bagian dimana si ibu menawarkan kesepakatan pada si penyihir mengingatkan saya pada cerita klasik Sleeping Beauty. Berada diantara folklore dan fairytale, lalu menggabungkan unsur2 itu dengan kehidupan nyata membuat saya semakin tertarik.

Nevena yang masa kecilnya terisolasi berusaha untuk memahami manusia, wanita, pria, anak2, dan hubungan diantaranya. Nevena berusaha keras untuk fit in dalam setiap lingkungan yang ia masuki, satu hal yang tidak dipahami oleh Maria si penyihir dan yang mungkin membuatnya iri. Nevena mulai belajar kerasnya hidup sebagai wanita yang diungkapkan dengan kalimat, ia bisa membuka mulutnya ketika ia bersama dengan sesama wanita tetapi ia harus menutup mulutnya rapat2 ketika berhadapan dengan pria.

Bagi wanita, kau adalah kaca. Bagi pria, kau adalah air.

Meskipun minim dialog dan hanya bergantung pada narasi dari sudut pandang Nevena, banyak pesan yang tersirat didalamnya. Melalui setiap pengalaman yang dilalui Nevena, saya seakan belajar banyak hal dan merasakan bahwa apa yang dilalui Nevena, Maria, Bosilka dan Biliana adalah apa yang dihadapi sebagian besar wanita selama ini.

Biliana

Pilihan pemeran wanita dalam film ini juga sangat memikat. Kalian mungkin akan menyadari Noomi Rapace, yang juga bermain dalam film Lamb, lalu Alice Englert yang bermain dalam film Them That Follow dan Beautiful Creatures. Dua aktris ini mampu memikat dengan perannya yang minim dialog dan ekspresi serta aktingnya mampu menyampaikan ceritanya dengan sangat baik.

Ya, film ini mungkin tidak akan diterima oleh semua penonton tetapi saya pribadi sangat menyukai cara Goran Stolevski dalam menyampaikan dan mengemas cerita ini, yang diakhir tersirat bahwa sebagian besar monster diciptakan oleh manusia.

Sutradara : Goran Stolevski Penulis Skenario : Goran Stolevski Pemeran : Sara Klimoska, Anamaria Marinca, Noomi Rapace, Carloto Cotta, Alice Englert, Arta Dobroshi, Félix Maritaud, Predrag Vasic

Director: Goran Stolevski
Writer: Goran Stolevski
Stars: Sara Klimoska, Anamaria Marinca, Noomi Rapace, Carloto Cotta, Alice Englert, Arta Dobroshi, Félix Maritaud, Predrag Vasic