Skip to content

Slanted (2025) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Di era ketika standar kecantikan dan penerimaan sosial masih sering ditentukan oleh warna kulit, penampilan, dan stereotip budaya, film Slanted hadir sebagai sindiran yang tajam sekaligus mengganggu.

Melalui balutan body horror, komedi satir, dan drama coming-of-age, sutradara sekaligus penulis Amy Wang mengajak penonton mempertanyakan satu hal yang selama ini jarang dibahas secara gamblang: seberapa jauh seseorang rela mengubah dirinya demi diterima oleh lingkungan?

Premisnya terdengar seperti kisah fantasi yang absurd. Joan Huang, seorang remaja keturunan Tionghoa-Amerika, merasa hidupnya selalu berada di pinggir lingkaran sosial. Ia percaya bahwa wajah dan identitasnya menjadi alasan mengapa ia terus diabaikan. Demi menjadi sosok yang “ideal” dan memenangkan gelar prom queen, Joan menjalani prosedur eksperimental yang mengubahnya menjadi gadis kulit putih bernama Jo Hunt.

Namun, perubahan fisik itu bukanlah akhir dari perjuangannya. Justru di sanalah mimpi yang selama ini ia kejar perlahan berubah menjadi mimpi buruk.

Alih-alih menjadikan transformasi tubuh sebagai atraksi utama, Slanted menggunakan body horror sebagai bahasa visual untuk menggambarkan krisis identitas. Tubuh Joan berubah, tetapi luka batinnya tetap sama. Bahkan semakin ia terlihat “sempurna”, semakin besar pula jarak antara dirinya dengan identitas yang selama ini ia miliki.

Amy Wang tidak sedang membuat film horor konvensional. Ia menggunakan konsep transformasi tubuh sebagai metafora terhadap tekanan asimilasi yang sering dialami kelompok minoritas. Film ini mempertanyakan budaya yang secara tidak langsung memaksa seseorang meninggalkan akar budayanya agar dianggap lebih layak diterima.

Yang membuat kritik sosial tersebut terasa relevan adalah kenyataan bahwa diskriminasi dalam film ini tidak pernah digambarkan secara berlebihan. Sebaliknya, ia muncul melalui komentar-komentar kecil, tatapan, ekspektasi sosial, hingga standar kecantikan yang perlahan mengikis rasa percaya diri seseorang. Horor terbesar dalam Slanted bukanlah perubahan fisik Joan, melainkan kenyataan bahwa masyarakat berhasil membuatnya membenci dirinya sendiri.

Nada film ini unik karena terus berpindah antara komedi remaja, satire sosial, drama psikologis, dan body horror. Sekilas atmosfernya mengingatkan pada Mean Girls yang dipertemukan dengan The Substance, hanya saja fokusnya bukan mengenai usia atau kecantikan semata, melainkan identitas rasial dan pencarian jati diri.

Humornya cukup efektif untuk membuat penonton tertawa, tetapi tawa itu sering kali berubah menjadi rasa tidak nyaman ketika menyadari bahwa banyak situasi dalam film ini merupakan refleksi dari kehidupan nyata.

Sayangnya, mungkin di sinilah kelemahan Slanted juga muncul.

Film ini memiliki pesan yang sangat kuat, tetapi sering kali terlalu sibuk menjelaskan maksudnya. Banyak simbol dan dialog terasa begitu eksplisit sehingga penonton hampir tidak diberi ruang untuk menafsirkan sendiri. Beberapa adegan bahkan terasa seperti sedang menyampaikan pidato sosial daripada membiarkan visual dan cerita berbicara.

Akibatnya, satire yang seharusnya terasa tajam terkadang kehilangan kehalusannya.

Performa Shirley Chen menjadi alasan mengapa konflik Joan terasa begitu menyentuh. Ia mampu menampilkan rasa minder, frustrasi, iri, dan keinginan untuk diterima tanpa perlu banyak dialog.

Ketika karakter Joan berubah menjadi Jo Hunt yang diperankan Mckenna Grace, transisi emosinya tetap terasa konsisten. Meskipun wajahnya berubah, penonton masih dapat merasakan bahwa Joan sebenarnya masih terperangkap di balik identitas barunya.

Pergantian pemeran ini justru memperkuat gagasan utama film: mengubah penampilan bukan berarti mengubah siapa diri kita sebenarnya.

Bagi penggemar body horror ekstrem, Slanted mungkin terasa lebih “jinak”. Efek praktikal dan adegan transformasi tubuh memang tidak mendominasi durasi film. Namun setiap perubahan fisik dirancang untuk mendukung perjalanan emosional karakter, bukan sekadar menciptakan adegan menjijikkan.

Horornya lahir dari rasa tidak nyaman ketika melihat seseorang secara perlahan menghapus identitasnya sendiri demi memenuhi standar yang bahkan tidak pernah benar-benar bisa ia capai.

Pendekatan seperti ini membuat Slanted lebih dekat dengan psychological horror dibanding body horror tradisional.

Meski penyampaian kritiknya terkadang terlalu gamblang dan ritme cerita sedikit goyah saat berpindah genre, keberanian Amy Wang mengangkat isu rasisme, standar kecantikan, dan krisis identitas membuat film ini terasa berbeda dari kebanyakan film horor modern.

Pada akhirnya, Slanted menyampaikan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi menghantui lama setelah film berakhir:

“Jika menjadi versi ‘sempurna’ dari dirimu berarti kehilangan jati dirimu sendiri, apakah itu benar-benar sebuah kemenangan?”

Sutradara : Amy Wang
Penulis : Amy Wang
Pemeran : Shirley Chen, McKenna Grace, Vivian Wu, Maitreyi Ramakrishnan, Amelie Zilber, Fang Du, Elaine Hendrix, R. Keith Harris

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Verified by MonsterInsights