Skip to content

The Art of Sarah (2026) – review | Netflix Series

Series terbaru di Netflix dengan 8 episode ini sejujurnya membuat saya mempertanyakan apa yang seharusnya membuat manusia bahagia? Khususnya dalam hal ini, di titik mana Sarah Kim benar-benar merasakan kebahagiaan? Series ini tidak hanya berusaha membangun teka-teki kriminal, tetapi secara… Read More »The Art of Sarah (2026) – review | Netflix Series

Mother of Flies (2025) – movie review

Bagaimana jika tubuhmu perlahan menyerah, sementara pikiran dan keinginanmu untuk tetap hidup justru semakin keras melawan? Keluarga Adams selalu punya cara yang tidak biasa dalam memandang horror. Mereka bukan sekadar pembuat film, melainkan sebuah keluarga yang hidup di dalam karya… Read More »Mother of Flies (2025) – movie review

Savage Flowers (2025) – movie review

Savage Flowers membuka ceritanya di dunia post-apokaliptik di mana sebuah infeksi menyebar dan anak-anak menjadi carrier-nya. Premis yang sebenarnya cukup menjanjikan. Namun ironisnya, latar dunia yang sudah runtuh itu terasa seperti hanya menjadi latar tempelan—ada, tetapi tidak benar-benar mempengaruhi inti… Read More »Savage Flowers (2025) – movie review

28 Years Later : The Bone Temple (2026) – movie review

28 Years Later: The Bone Temple adalah bagian kedua dari trilogi baru dalam semesta 28 Days Later. Jika film pertamanya masih terasa seperti pembuka yang mengguncang, kali ini ceritanya mengerucut lebih sempit—namun justru lebih gelap—dengan fokus pada satu kelompok tertentu… Read More »28 Years Later : The Bone Temple (2026) – movie review

The Great Flood (2025) – movie review

The Great Flood terasa seperti film yang datang dengan niat sangat serius: bencana besar, trauma personal, dan ide-ide eksistensial tentang manusia, ingatan, serta teknologi. Kim Byung-woo jelas tidak ingin sekadar membuat film tentang bencana dan survival yang memamerkan kehancuran. Ia… Read More »The Great Flood (2025) – movie review

Silent Night, Deadly Night (2025) – movie review

Reboot kedua yang tetap memakai judul Silent Night, Deadly Night ini mencoba me-reset ulang karakter utamanya, Billy. Ia bukan lagi sekadar mesin pembunuh, melainkan sosok antihero yang rusak, tersesat, namun masih berusaha mempertahankan sisi kemanusiaannya. Seperti versi klasiknya, Billy tetap… Read More »Silent Night, Deadly Night (2025) – movie review

It Ends (2025) – movie review

Ada horor yang datang dengan teriakan. Ada pula yang datang dengan diam. It Ends (2025), film debut Alex Ullom, memilih cara kedua. Ia tidak terburu-buru menakut-nakuti, film ini lebih tertarik membuat kita duduk dalam ketidaknyamanan. Film ini dibuka dengan empat… Read More »It Ends (2025) – movie review

Five Night at Freddy’s 2 (2025) – movie review

Five Nights at Freddy’s 2 dibuka dengan membawa kita mundur ke tahun 1982 di sebuah pizzeria. Di tengah suasana ramai, Charlotte terlihat panik berlari mengejar anak laki-laki yang dibawa oleh animatronik berbentuk hewan. Adegan ini bekerja sebagai dasar cerita yang… Read More »Five Night at Freddy’s 2 (2025) – movie review

Kombucha (2025) – movie review

Sebagai sebuah horor-komedi yang ber-setting di dunia kerja, Kombucha sebenarnya membuka cerita dengan premis yang menggelitik : kalau sesuatu terdengar terlalu sempurna dan mudah, biasanya ada harga yang harus dibayar. Tapi jujur saja, apa yang jadi “harga” dalam kantor ini… Read More »Kombucha (2025) – movie review

The Beldham (2024) – movie review

Film The Beldham merupakan film horror psikologis yang berusaha menceritakan dan menggambarkan tentang mental breakdown. Cara film ini menceritakan pengalaman tersebut membuat kita terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Alur ceritanya mungkin tidak sepenuhnya jelas tetapi justru membuat saya… Read More »The Beldham (2024) – movie review

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights