Fréwaka merupakan film panjang kedua dari Aislinn Clarke, dan secara tema masih terasa satu napas dengan film pertamanya The Devil’s Doorway.
Di permukaan, Fréwaka terlihat sebagai film horor yang sederhana. Namun yang membuatnya berbeda justru ada pada latar mitologis dan konteks sosial-politik Irlandia yang dibawanya.
Film ini menggali rasa bersalah yang belum sembuh, khususnya terkait kekerasan sistemik, lalu mengubah simbol-simbol folklor menjadi bahan bakar mimpi buruk. Judulnya sendiri berasal dari bahasa Irlandia, adalah kependekan dari Fréamhacha, yang berarti “akar”. Sebuah gagasan tentang masa lalu dan asal-usul—hal yang justru dihindari oleh tokoh utamanya, Siobhan (Clare Monnelly), atau Shoo. Dalam film ini, masa lalu bukan sesuatu yang hangat untuk dikenang, melainkan sesuatu yang ingin dijauhkan.
Kaitan antara cerita utama dengan prolognya masih terasa membingungkan. Mulai dari hilangnya seorang pengantin perempuan hingga adegan bunuh diri seorang perempuan tua di apartemen yang penuh dengan ornamen Katolik.
Shoo adalah tipe orang yang memilih menyimpan segalanya rapat-rapat dan terus berjalan. Jadi ketika ia tiba-tiba mendapat tugas sebagai perawat tinggal di rumah untuk Peig (Bríd Ní Neachtain), seorang perempuan tua yang sakit-sakitan di desa terpencil di utara, ia menerimanya tanpa banyak pikir—meninggalkan Mila begitu saja.

Tetapi penyakit Peig bukanlah masalah terbesar Peig. Ia hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, seolah harus melawan bahaya yang tak terlihat. Peig dihantui oleh pengalaman traumatisnya di sebuah panti asuhan Katolik, sesuatu yang dengan cepat dianggap Shoo sebagai bukti bahwa semua ini hanya ada di pikirannya. Tapi apakah benar begitu?
Banyak teror dalam Fréwaka berakar pada okultisme klasik, bahkan ancaman Satanik yang terang-terangan. Tapi Clarke dengan cermat menyeimbangkan horor supernatural dengan ketakutan yang jauh lebih nyata: trauma turun-temurun dan kecemasan yang dialami perempuan seperti Shoo, dan juga Peig.
Dalam konteks itu, sumber dari suara-suara malam menjadi urusan nomor dua. Apakah semuanya nyata atau hanya di kepala mereka? Tidak lagi sepenting pertanyaan mengapa luka itu tetap ada. Jika semua ini hanya ada di pikiran, mungkin memang di situlah inti masalahnya berada.
Mungkin karena Shoo berusaha memahami paranoia, ritual, dan kepercayaan Peig. Bukan dengan membenarkannya, tapi dengan menerima bahwa semua itu penting bagi Peig. Dan mungkin, secara diam-diam, Shoo juga mulai mengakui satu hal: bisa jadi ritual-ritual itu memang dibutuhkan—setidaknya untuk merasa aman.
Pada akhirnya, Fréwaka adalah pengingat dingin: akar yang dikubur terlalu lama, suatu hari, akan menemukan cara untuk tumbuh kembali—dari bawah tanah.
Sutradara : Aislinn Clarke Penulis : Aislinn Clarke Pemeran : Clare Monnelly, Bríd Ní Neachtain, Aleksandra Bystrzhitskaya, Clare Barrett
