Adaptasi live action kadang jadi bumerang, apalagi saat membawa warisan besar dari manga legendaris seperti Parasyte karya Hitoshi Iwaaki. Namun Parasyte: The Grey, garapan sutradara Train to Busan Yeon Sang-ho, justru memilih jalan yang bijak: alih-alih meniru mentah-mentah, ia membangun dunia baru yang hidup berdampingan dengan semesta aslinya.
Meskipun saya hanya melihat dua episode awal cerita aslinya, tetapi film ini diolah sedemikian rupa sehingga unsur-unsur dalam cerita Jepang yang biasanya terlalu out of the box buat saya, justru menjadi menarik dengan keunikannya tersebut.
Ceritanya berpusat pada Jeong Soo-in (Jeon So-nee), seorang perempuan muda yang terinfeksi parasit alien, namun secara tak terduga mampu mempertahankan kesadarannya. Bukannya mati atau berubah sepenuhnya, Soo-in justru hidup berdampingan dengan makhluk asing itu, menciptakan hubungan yang kompleks antara kontrol, insting bertahan hidup, dan identitas manusia.
Di saat yang sama, dunia luar makin panik. Organisasi militer rahasia bernama The Grey muncul sebagai pemburu para parasit. Bukan untuk menyelamatkan manusia, tapi lebih sering membuat kita bertanya: siapa sebenarnya monster dalam cerita ini?

Konsep parasitnya sendiri secara visual sedikit mengingatkan saya dengan creature di series the Last of Us, tetapi tentakel panjang membuatnya terlihat berbeda.
Karena kondisi Jeong Soo-in yang cukup parah, parasit yang seharusnya menguasai seluruh otaknya hanya bisa menguasai sebagian demi untuk memperbaiki luka Soo-in yang akhirnya membuat si parasit tersebut dapat bertahan hidup meskipun hanya bisa muncul dalam waktu yang terbatas. Ini membuatnya di dunia manusia tetap merupakan musuh sedangkan di dunia alien pun ketidaksempurnaannya membuat ia juga harus dimusnahkan.
Secara visual series ini sangat menarik, karakter parasitnya ketika memasuki tubuh manusia hanya merubah bagian kepala sedangkan bagian tubuhnya tetap sebagai manusia. Lalu mereka berkumpul dan membentuk organisasi, walaupun perkumpulan ini tidak diexplore lebih dalam karena cerita tentang organisasi ini langsung dipatahkan ketika salah satunya mengejar tujuan yang lebih besar.
Gerakan mereka pun cukup diam2 dan mereka bisa mengetahui sesama mereka meskipun mereka sedang dalam bentuk manusia dengan suara berdenging.
Meski dibalut sci-fi dan horor, kekuatan Parasyte: The Grey justru terletak pada kedalaman karakternya. Soo-in bukan pahlawan idealis, tapi manusia terluka yang terjebak dalam tubuh yang tak sepenuhnya miliknya. Relasi antara dia dan parasitnya (yang tak diberi nama) terasa seperti buddy horror yang muram—aneh, saling curiga, namun perlahan muncul benih empati.
Tak hanya itu, karakter Seol Kang-woo (Koo Kyo-hwan) sebagai pemburu parasit yang punya trauma masa lalu, dan Choi Jun-kyung (Lee Jung-hyun) sebagai pemimpin The Grey yang penuh ambisi, memperkuat lapisan moral dalam konflik manusia vs alien. Tak ada yang benar-benar baik atau jahat di sini. Semua abu-abu. Benar-benar sesuai judulnya.
Sutradara : Yeon Sang-ho Penulis : Hitoshi Iwaaki (manga), Yeon Sang-ho, Ryu Yong-jae Pemeran : Jeon So-nee, Koo Kyo-hwan, Lee Jung-hyun, Kwon Hae-hyo, Kim In-kwon, Tom Choi
