Skip to content

The Midnight Club (2022) – Netflix series review

Rating: 4 out of 5.

To those before, to those after. To us now and to those beyond. Seen or unseen, here but not here.

Welcome back to the Flanaverse! Satu lagi karya dari Mike Flanagan setelah berbagai karyanya yang luar biasa dan selalu menjadi favorit saya, termasuk The Haunting of Hill House, The Haunting of Bly Manor dan tentunya Midnight Mass. Series garapan Mike Flanagan ini merupakan adaptasi dari novel karya Christopher Pike.

Kali ini Mike Flanagan terjun ke dunia remaja, sekelompok anak muda yang berkumpul di sebuah sanatorium bernama Brightcliffe karena didiagnosa menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ilonka tampak sudah memiliki segalanya, lulus dengan nilai terbaik dan diterima di Stanford. Semua impian sudah didepan mata hingga ia menerima diagnosa bahwa ia menderita kanker tiroid. Seketika dunianya runtuh tetapi harapan muncul ketika ia membaca artikel tentang Brightcliffe, sebuah mansion yang digunakan sebagai pusat perawatan untuk anak-anak muda. Disana ia bertemu dengan 7 remaja lain yang memiliki tradisi berkumpul setiap tengah malam di ruang perpustakaan dan menceritakan cerita horror, mereka menyebutnya The Midnight Club.

Oh I love the ambience, sentuhan klasik yang diberikan Mike Flanagan membuat saya jatuh hati walaupun mungkin tidak seklasik The Haunting of Hill House dan The Haunting of Bly Manor. Hampir seluruh genre horror ada disini dan dikemas dalam bentuk cerita horror yang dibagikan oleh masing-masing anggota The Midnight Club. I love the idea of this, simple but it works. Berbagai isu yang sensitif pun diceritakan dari sudut yang menarik sehingga menarik empati, bukan berusaha menunjukkan benar atau salah.

Banyak jumpscare tentunya bahkan series ini memecahkan rekor dunia serial film horror dengan jumpscare terbanyak tetapi anehnya hal tersebut tidak terlalu mengganggu walaupun untuk saya suasana horrornya menjadi berkurang tetapi mungkin akan berhasil untuk penonton muda. Saya suka setiap karakter yang digambarkan tanpa terlalu banyak drama dan kisah hidup merekapun digambarkan dengan nuansa horror. Kedelapan remaja ini berusaha menggambarkan kondisi mereka, apa yang pernah terjadi dan apa yang mungkin terjadi, melalui cerita-cerita horror. Ini yang menurut saya unik dan menarik.

Di tengah perjuangan mereka bertahan melawan penyakit dan memahami apa yang mereka alami, Ilonka berusaha mengungkap misteri tentang sembuhnya Julia Jayne. Bisa dikatakan ia terobsesi dengan hal itu. Ilonka tidak mendapatkan jawaban dari Dr Georgina Stanton tetapi ia mendapatkannya dari Shasta, seseorang yang ia temui di area sekitar Brightcliffe.

Tidak hanya itu tetapi cerita-cerita horrornya pun menarik. Dari cerita-cerita tersebut kita akan mengenal lebih dalam karakter para remaja ini. Cerita horror pembuka dimulai dari Anya dengan judul “The Two Dana’s”. Cerita berikutnya “The Wicked Heart” diceritakan oleh Kevin, “Give Me a Kiss” oleh Sandra dengan nuansa film hitam putih, “See You Later” oleh Amesh, Ilonka dengan cerita berjudul “Witch” yang memiliki pesan cukup dalam bagi saya, lalu Natsuki dengan “Road to Nowhere”, dan Spence dengan “The Eternal Enemy”. Satu-satunya yang masih menyimpan misteri dan tidak bercerita adalah Cheri.

Menurut saya aktor dan aktris muda di series ini berbakat dimana disini mereka memerankan beberapa karakter dan tidak satupun karakter tersebut yang serupa. I have to give two thumbs up for them. Dan tidak hanya itu, beberapa pemeran dari series karya Mike Flanagan yang lalu pun muncul kembali, salah satunya adalah Samantha Sloyan, yang merupakan salah satu aktris favorit saya sebagai pemeran antagonis. Ia tampaknya selalu cocok dengan segala hal yang berkaitan dengan kultus.

Inti dari keseluruhan sepuluh episode The Midnight Club adalah anak-anak muda ini dipaksa untuk memahami kematian lebih dari seharusnya di usia yang sangat muda. Mereka dipaksa untuk menghadapi realita bahwa segala impian, harapan dan cita-cita mereka harus diakhiri lebih awal, sebagus dan sesempurna apapun itu. Pada akhirnya mereka harus memproses semuanya sendiri karena hal tersebut terlalu pahit untuk didengar dari orang lain. Pesan yang sangat dalam dan cerita yang tidak mudah untuk dilupakan.

Oh ya, sebagai catatan series berikutnya dari Mike Flanagan adalah The Fall of the House of Usher, dan saya sudah tidak sabar menunggu series tersebut dan menontonnya.

Buat kalian yang mau menonton series ini, The Midnight Club bisa kalian tonton mulai 7 Oktober di Netflix.

Kreator : Mike Flanagan and Leah Fong Pemeran : Iman Benson, Igby Rigney, Ruth Codd, Annarah Cymone, Chris Sumpter, Adia, AyaFurukawa, Sauriyan Sapkota, Matt Biedel, Samantha Sloyan, Zach Gilford, Heather Langenkamp

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this: