Skip to content

Vicious (2025) – movie review

Rating: 2.5 out of 5.

Dari The Strangers sampai The Dark and the Wicked, Bryan Bertino selalu membangun ketakutan yang terasa… dekat. Akrab. Seolah sesuatu sedang memperhatikan dari balik bahumu.

Vicious ini mungkin adalah bentuk teror Bertino yang paling pribadi. Bukan cuma soal hantu atau bayangan di sudut ruangan, tapi tentang bagaimana luka batin bisa berubah menjadi monster yang nyata.

Film ini mengikuti seorang wanita yang tinggal sendirian di rumah masa kecilnya setelah tragedi keluarga yang tidak bisa ia sembuhkan. Suatu malam, pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita tua, yang tampak kebingungan mencari rumah anaknya. Karena udara malam yang dingin, Polly mempersilahkan wanita tua tersebut masuk, membuatkan teh dan mencoba membantunya.

Setelah percakapan singkat yang terasa terlalu sopan untuk jujur, wanita tua itu berkata dengan tenang — tapi membekukan darah : “Aku akan mulai sekarang.”

Ia mengeluarkan sebuah kotak hitam dari tasnya, meletakkannya di meja kopi Polly, lalu mengatakan hal yang membuat waktu seolah berhenti : “Kau akan mati malam ini.”

Di dalam kotak itu hanya ada sebuah jam pasir, tapi wanita itu berkata bahwa Polly harus memasukkan tiga hal ke dalamnya : sesuatu yang ia benci, sesuatu yang ia butuhkan, dan sesuatu yang ia cintai.

Sebelum Polly sempat menanyakan apa maksud semua itu, wanita tua itu sudah lenyap. Dan setelah itu… ya, semuanya mulai berubah jadi mimpi buruk.

Polly perlahan sadar bahwa kotak itu tidak datang sendirian, seakan ada sesuatu yang selalu mengawasi. Ia mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai ibunya, dan hal-hal yang jauh lebih gelap dari sekedar gangguan tidur.

Bertino tidak pernah menjelaskan dengan pasti bagaimana dunia ini bekerja. Realitas terasa kabur, seperti antara mimpi buruk dan depresi yang belum selesai.

Ketika Polly mencoba memasukkan rokok ke dalam kotak sebagai “sesuatu yang ia benci”, kotak itu menolak — karena ia tidak benar-benar membencinya. Ia hanya ingin membenci, karena tahu seharusnya begitu.

Dari sini, Vicious mulai masuk ke wilayah yang lebih gelap — tentang rasa sakit, penyesalan, dan dorongan untuk menyakiti diri sendiri. Hingga akhirnya, kita mulai bertanya-tanya: apakah semua ini benar-benar supranatural, atau cuma wujud kesepian seorang perempuan yang tak punya apa pun lagi selain keponakannya sebagai alasan untuk bertahan?

Bertino tidak pernah memberi jawaban pasti — kita dipaksa untuk terus merasa tidak aman.

Kotak hitam di Vicious bukan sekadar alat atau properti horor. Ia seperti cermin — memaksa Polly untuk menatap hal-hal yang selama ini ia sembunyikan di balik rutinitas dan rokoknya. Tiga hal yang harus ia masukkan ke dalam kotak — sesuatu yang ia benci, butuhkan, dan cintai — bukan ujian supernatural. Itu adalah ujian kesadaran.

Polly tidak hanya diminta memilih, tapi juga jujur pada dirinya sendiri.
Ia mengaku membenci rokok, tapi sebenarnya yang ia benci adalah dirinya yang lemah terhadapnya.
Ia mengaku membutuhkan kasih sayang, tapi takut menerimanya.
Ia mengaku mencintai seseorang, tapi tak tahu bagaimana cara mempertahankan cinta itu tanpa kehilangan dirinya.

Bertino menggunakan elemen horor ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membuka luka mental yang selama ini kita bungkam. Kotak itu seperti metafora bagi depresi — sesuatu yang tampak diam dan sederhana, tapi di dalamnya tersimpan ritual panjang antara rasa bersalah dan keinginan untuk bertahan hidup.

Sepanjang film, Vicious perlahan menunjukkan bahwa monster sejatinya bukan wanita tua itu, bukan pula makhluk gaib yang datang bersama kotak. Monster sebenarnya adalah pikiran Polly sendiri.
Ia hidup di antara rasa takut kehilangan dan rasa bersalah karena masih hidup. Setiap bisikan, setiap telepon dari orang mati, adalah pantulan dari trauma yang belum selesai.

Bryan Bertino memainkan itu dengan tenang dan sabar — tanpa efek berlebihan, tanpa jump scare murahan. Ia membiarkan rasa sakit mengendap, sampai kita menyadari bahwa yang menakutkan bukan apa yang ada di luar, tapi apa yang sudah lama kita pelihara di dalam diri.

Dan mungkin, itu sebabnya film ini terasa begitu menghantui : karena setiap orang punya “kotak hitam” mereka sendiri, dan tak semua dari kita berani membukanya.

Meski Vicious punya kekuatan besar dalam membangun atmosfer dan kedalaman tema, film ini tidak lepas dari kelemahan yang cukup terasa.

Bryan Bertino memang ahli dalam menghadirkan ketegangan yang hening, tapi di sini ia kadang terlalu lama membiarkan kita menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Ritme yang lambat bisa terasa seperti meditasi bagi sebagian penonton, tapi bagi yang lain, justru berubah jadi jarak emosional.

Beberapa bagian terasa repetitif — Polly yang menatap ruang kosong, kamera yang berlama-lama di ruangan gelap, percakapan yang menggantung di udara. Awalnya menegangkan, tapi lama-lama membuat energi filmnya menurun.

Dakota Fanning memang tampil meyakinkan, tapi karakternya kadang terasa lebih seperti simbol daripada manusia. Kita paham Polly menderita, tapi film seolah menjaga jarak — membuat kita hanya sebagai pengamat, bukan ikut merasakan.

Sutradara : Bryan Bertino Penulis : Melinda Whitaker, Shane Boucher Pemeran : Dakota Fanning, Kathryn Hunter, Mary McCormack, Rachel Blanchard, Devyn Nekoda, Klea Scott, Emily Mitchell

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights