Skip to content

28 Years Later (2025) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Setelah dua dekade lebih sejak 28 Days Later (2002) memukau penonton dengan visinya yang kelam dan menegangkan tentang dunia pasca-virus, 28 Years Later muncul membawa beban besar: bagaimana menghidupkan kembali mimpi buruk yang sudah begitu ikonik, tanpa mengulang klise lama?

Danny Boyle dan Alex Garland kembali berduet dengan pendekatan yang lebih reflektif dan mencekam. Film ini bukan sekadar lanjutan dari kisah lama—melainkan kebangkitan baru yang relevan, brutal, dan sangat manusiawi.

Setting film dimulai di sebuah zona “aman” yang dihuni sekelompok manusia yang masih bertahan hidup di sebuah pulau kecil. Pulau ini hanya terhubung ke daratan utama Inggris melalui satu jalan sempit, semacam jalur bebatuan yang hanya bisa dilalui saat air surut. Artinya? Mereka bisa mempertahankan pulau itu dengan mudah jika ada yang mencoba mendekat.

Sebuah kehidupan yang perlahan tumbuh dari puing-puing kehancuran. Memang terkesan familiar apalagi bila kalian merupakan penggemar series The Walking Dead. Pada akhirnya mereka tidak bisa bertahan hidup hanya dengan berdiam dibalik tembok, mereka harus mencari apapun yang tersisa di dunia luar, untuk bertahan. Dan disaat mereka harus bertaruh nyawa inilah mimpi buruk dimulai.

Salah satu perjalanan mereka ke daratan yang masih terinfeksi membawa penemuan mengerikan: dunia para “terinfeksi” telah berevolusi. Sekarang ada dua tipe: yang lambat dan yang cepat seperti binatang liar. Tapi yang paling mengerikan? Makhluk baru yang disebut “Alpha”. Sosok raksasa yang bukan hanya lebih tinggi dan kuat, tapi juga lebih buas, dan… yah, lebih segalanya.

Jujur reaksi pertama saya bukanlah tentang sosok Alpha ini walaupun sepertinya banyak komentar dan reaksi yang beragam pastinya tentang visualisasi Alpha. Saya justru tidak terlalu terkesan dengan alur ceritanya, dengan makna “memento mori”, dengan reaksi Dr Kelson yang hanya membius sosok Alpha, dan juga dengan alur cerita Spike dan ibunya. Banyak pertanyaan yang muncul dengan beberapa hal tersebut.

Sebelumnya saya cukup menyukai Cargo, yang membawa genre zombie ke drama menyentuh, yang saya tidak duga akan bisa melebur dengan baik. Tetapi saya tidak mendapatkan rasa itu ketika menonton 28 Years Later ini.

Secara visual memang film ini membawa sesuatu yang berbeda. Danny Boyle masih piawai dalam meramu suasana. Gambar-gambar sunyi, kota kosong yang membusuk, dan kontras antara ketenangan dan kekacauan menjadikan film ini terasa lebih seperti mimpi buruk yang hidup.

Ditambah lagi dengan visualisasi tumpukan tengkorak kepala yang memang sangat menarik dan menjadi bagian yang tak terlupakan dari film ini.

Dan saya juga terkesan dengan pembuatannya yang menggunakan iphone 15 pro max untuk membuat efek dan kesan yang lebih alami, seperti halnya pada film 28 Days Later.

Namun, ada beberapa bagian tengah film yang sedikit melambat dan terlalu melankolis. Bagi penonton yang mengharapkan ledakan aksi seperti 28 Weeks Later, bagian ini mungkin terasa hambar. Tapi buat yang menginginkan horor psikologis dan emosional, ini justru menjadi poin utama.

28 Years Later ini akan dibuat trilogy, dari bagian endingnya memang sudah terindikasi demikian. Akan ada kelompok baru, dan saya juga penasaran dengan kelanjutan petualangan Spike di bagian kedua tersebut.

Sutradara : Danny Boyle Penulis : Danny Boyle, Alex Garland Pemeran : Jodie Comer, Aaron Taylor-Johnson, Alfie Williams, Ralph Fiennes, Jack O’Connell

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights