Skip to content

A Normal Woman (2025) – movie review | Netflix

Rating: 3 out of 5.

Netflix menghadirkan kejutan manis dari Indonesia lewat film A Normal Woman (2025), sebuah drama horror psikologis yang disutradarai oleh Lucky Kuswandi dan dibintangi oleh Marissa Anita. Film ini menampilkan seorang wanita yang mulai merasakan gatal sebagai akibat dari tekanan berlebihan dari orang-orang terdekat untuk selalu menjadi sempurna.

Jika sensasi ini terasa familiar, mungkin karena kamu pernah menonton Control Freak, yang mengeksplorasi tema serupa.

Sinopsis.

Hidup Milla tampak nyaris tanpa cela. Ia menikah dengan pria dari keluarga terpandang, menjalani kehidupan sosial sebagai istri yang ideal dan menjaga citra keluarga besar yang tak boleh tercoreng. Tapi di balik kesempurnaannya, ada trauma masa kecil yang terpendam dan identitas diri yang dibentuk oleh tuntutan eksternal, bukan keinginan pribadi.

Milla bukan hanya dibentuk oleh orang lain—ia bahkan tak yakin siapa dirinya. Ia sulit mengingat masa kecilnya, seolah masa lalunya terhapus atau terkubur terlalu dalam.

Tekanan pun datang dari arah lain—putrinya mulai dikritik karena penampilan fisiknya. Dan ini mengguncang Milla lebih dari yang ia kira. Keduanya menjadi sasaran ekspektasi dan standar yang mustahil dipenuhi, dan tubuh Milla mulai memberi respons: ia mengalami ruam misterius yang tak kunjung hilang, mimpi-mimpi aneh, bahkan halusinasi yang tak bisa dijelaskan.

Lalu siapakah Grace? Seorang anak perempuan yang kerap muncul dalam mimpi, bayangan, dan lamunan Milla. Sosok yang mengusik, sekaligus menarik, seperti bagian dari masa lalu yang menolak dilupakan.

Apakah Milla sedang kehilangan kewarasannya? Atau justru sedang mulai melihat kenyataan yang selama ini ia tolak?

Review.

Yang langsung mengena dari A Normal Woman adalah cara film ini memperlakukan kerapuhan mental bukan sebagai sensasi atau tontonan, tapi sebagai respon alami dari tekanan yang menumpuk. Kita melihat Milla perlahan kehilangan pijakan, bukan karena lemah, tapi karena selama ini ia dipaksa untuk kuat dengan cara yang salah. Ketika putrinya mendapat dorongan untuk menjalani operasi plastik, sesuatu di dalam diri Milla pecah. Dan di situlah cerita sesungguhnya dimulai.

Milla tidak hanya mengalami gangguan fisik dan psikis, tapi juga diabaikan oleh lingkungan terdekatnya. Suaminya menyalahkan stres. Mertuanya takut akan rasa malu. Ibunya sibuk dengan uang. Ini bagian paling menyakitkan—bukan karena Milla “gila,” tapi karena tak ada yang mau benar-benar mendengar.

Marissa Anita menyampaikan emosi dengan tepat, dari tatapan kosong hingga caranya menahan dan memendam perasaan, membuat saya langsung memahami ketidakberdayaan yang ia rasakan.

Sisi horror yang ditekankan dalam film ini bukanlah supranatural. Bukan hantu, tapi masa lalu. Bukan kutukan, tapi konstruksi sosial.

Film ini membuka refleksi penting soal bagaimana penampilan perempuan sering kali diperlakukan sebagai komoditas. Lewat tubuh dan wajah Milla, kita diingatkan bahwa standar kecantikan bisa menjadi alat penindasan yang sangat halus, tapi sangat berbahaya—secara psikologis maupun fisik.

Film ini juga mengajak kita menelusuri jalan penuh luka yang selama ini disembunyikan, dan menggugat makna “normal” yang kerap dipaksakan pada perempuan.

A Normal Woman adalah cerita tentang keberanian untuk melepaskan ekspektasi, tentang menghadapi luka lama, dan yang paling penting: tentang keberanian untuk mengakui siapa diri kita yang sesungguhnya, tanpa topeng.

Film A Normal Woman bisa kalian tonton di Netflix, mulai tanggal 24 Juli 2025.

Sutradara : Lucky Kuswandi Penulis : Andri Cung, Lucky Kuswandi Pemeran : Marissa Anita, Widyawati, Gisella Anastasia, Dion Wiyoko, Mima Shafa

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights