Skip to content

Best Wishes to All (2022) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Mina ni ko are (2022) judul asli dari film Best Wishes to All, disutradarai oleh Yûta Shimotsu, dan tayang di Jepang tahun 2024 ini menyuguhkan kombinasi unik antara horor folktale, psikologis, dan misteri. Film ini membiarkan penonton merasakan ketidaknyamanan yang halus dan terus mengendap jauh setelah kredit bergulir.

Film ini bercerita tentang mahasiswi keperawatan dari Tokyo, yang sedang kembali ke rumah kakek-neneknya di pedesaan, dan di sana ia menghadapi penemuan yang mengusik: sesuatu dalam keluarganya tampak berbeda—terlalu menyenangkan, terlalu aneh. Ia menemukan rahasia kelam dalam keluarganya sampai ia pun mulai mempertanyakan realitasnya sendiri.

Berdasarkan pengalaman, film horror Jepang mostly memang terasa absurd, saya sudah menyiapkan diri untuk itu. Tetapi ternyata saya tetap tidak siap.

Atmosfer horrornya perlahan dibangun tanpa mengandalkan jumpscare, yang lebih aneh lagi, suasana horrornya terasa tapi saya bahkan tidak tahu apa yang saya takutkan.

Eksplorasi horor psikologis yang halus tetapi somehow membekas. Film ini seakan menantang penonton lewat kehidupan keseharian yang terasa ganjil, atmosfer rumah yang nyaman namun menimbulkan rasa takut, dan simbolisme keluarga yang tersembunyi. Walaupun tidak sempurna dalam narasi, sinematografi emosionalnya menyelipkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama.

Ada dua hal yang terasa dihighlight di film ini, yaitu bagaimana sikap antara generasi tua dan generasi muda, dan bagaimana pertanyaan “apakah kamu bahagia” yang kerap diulang.

Kakek-nenek dalam film ini mungkin bisa dilihat sebagai wajah generasi tua yang memaksakan standar hidup “bahagia” pada anak cucu mereka. Tapi kebahagiaan itu palsu, lebih mirip topeng. Simbol ini seakan mengkritik bagaimana generasi muda sering ditekan untuk menerima nilai atau tradisi lama meski sebenarnya menyesakkan.

Rumah kakek-nenek tersebut bukan sekadar tempat tinggal, tapi simbol. Dari luar terlihat akrab dan aman, tapi di dalam penuh hal-hal aneh dan absurd. Ini seperti metafora bahwa lingkungan sosial kita sering terlihat harmonis, padahal ada banyak kepalsuan, manipulasi, dan kengerian tersembunyi.

Kebahagiaan yang dipaksakan di film ini bisa dibaca sebagai alat kontrol sosial, bahwa orang “harus” tersenyum, orang “harus” puas dengan hidupnya, jika tidak dia dianggap aneh atau salah.

Kebahagiaan seakan dipaksakan, karakter utama di film ini merasa tidak nyaman, tetapi lingkungan seolah memaksanya untuk ikut menyesuaikan diri. Lalu ia merasa seakan dirinya akan “salah” bila tidak ikut mengikuti apa yang dilakukan keluarganya, dan mulai kehilangan pegangan.

Hal-hal absurd dimana orang tertawa pada waktu yang salah, perilaku ganjil tapi dianggap biasa, seperti merepresentasikan bagaimana kita terbiasa dengan hal-hal tidak masuk akal dalam hidup nyata.

Film ini bisa juga diartikan sebagai metafora untuk beban ekspektasi yang dibebankan oleh generasi tua kepada generasi muda di Jepang yang menua, di mana kebahagiaan generasi muda menjadi tumbal bagi kesejahteraan generasi yang lebih tua. Meskipun horor, film ini juga mengandung komedi hitam dan satir, menciptakan atmosfer yang tidak selaras antara kejahatan dan senyuman. 

Makna dari judul “Semoga Semua Berbahagia” pun dipertanyakan kembali. Apakah kebahagiaan itu adalah tujuan akhir yang harus dicapai bersama, ataukah sebuah topeng yang justru menyembunyikan penderitaan individu? Film ini membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara, memaksa kita untuk merenungkannya.

Sutradara : Yûta Shimotsu Penulis : Yûta Shimotsu, Rumi Kakuta Pemeran : Kotone Furukawa, Koya Matsudai, Yoshiko Inuyama, Hirofumi Nishida, Masashi Arifuku

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights