Skip to content

Shaman (2025) – movie review

Rating: 2.5 out of 5.

Film ini sebenarnya punya ide yang cukup menarik dan relevan, atmosferiknya kental secara tema juga cukup berbobot. Shaman juga berusaha memberi angin segar pada subgenre eksorsisme. Sayangnya, Shaman kesulitan menemukan cara yang konsisten dan menggugah untuk menyuarakan gagasan tersebut. Film ini seperti tahu apa yang ingin dibicarakan, tapi tidak selalu tahu bagaimana cara bercerita yang efektif.

Ceritanya mengikuti sebuah keluarga misionaris Katolik asal Amerika yang tinggal dan bekerja di sebuah desa pegunungan di Ekuador, bersama seorang pastor lokal. Candice, sang ibu, mengajar katekisasi dan bahasa Inggris. Bersama suaminya, Joel, mereka membantu kegiatan gereja—dari pembaptisan, urusan sekolah, perawatan gereja, hingga membagikan makanan untuk warga. Di permukaan, semuanya tampak seperti potret pelayanan dan niat baik.

Masalah mulai muncul ketika Elliot, putra mereka yang masih pra-remaja, bermain ke hutan bersama teman-teman lokalnya. Meski sudah diperingatkan, ia memasuki sebuah gua—dan pulang membawa sesuatu yang usianya jelas sudah sangat tua. Sejak saat itu, atmosfer film perlahan berubah, tidak dengan ledakan horor instan, tapi lewat kegelisahan yang perlahan merayap.

Candice langsung mencium ada yang tidak beres. Ia menuding sosok shaman yang tinggal di pegunungan sebagai sumber malapetaka. Joel, sebaliknya, menyebut ketakutan itu sebagai bentuk memberi “kekuatan” pada sesuatu yang seharusnya tidak kita yakini. Di tengah konflik ini, Candice justru dihadapkan pada kenyataan pahit: imannya sendiri mungkin tak sekuat yang selama ini ia pamerkan. Keyakinan yang ia anggap mulia dan penuh kasih perlahan melemah.

Tarik ulur antara teologis dan kultural ini menjadi kekuatan paling menarik dari Shaman.

Akting para pemain terbilang solid, lokasi-lokasinya indah, dan ada beberapa kejutan yang bekerja dengan baik. Namun semua itu harus berhadapan dengan ritme cerita yang lambat, efek visual yang kurang meyakinkan, serta cerita yang terlalu sering terperangkap dalam klise yang sebenarnya ingin dikritik.

Sara Canning tampil solid, mampu menyampaikan kepanikan, keraguan, dan ketakutan hanya lewat tatapan matanya. Jett Klyne benar-benar mengejutkan—intensitasnya mengingatkan pada horor possession klasik sekelas The Exorcist.

Candice menjadi jantung cerita dalam film ini, ia tidak hanya ingin menyelamatkan anaknya tetapi juga memastikan bahwa dunia di sekitarnya tetap tunduk pada kerangka kepercayaannya sendiri.

Yang membuat Candice kuat sebagai karakter adalah bagaimana film memperlihatkan retaknya iman dari dalam, bukan lewat penolakan terang-terangan, tapi lewat kepanikan. Saat Elliot mulai berubah, Candice tidak benar-benar bertanya apa yang terjadi—ia langsung memutuskan apa artinya.

Ia melihat shaman lokal bukan sebagai penjaga pengetahuan, tapi sebagai ancaman. Bukan karena mereka salah, melainkan karena mereka berada di luar sistem makna yang ia kuasai. Ketakutannya pada “yang lain” dibungkus sebagai iman, dan film cukup jujur untuk menunjukkan betapa tipis batas antara devosi dan arogansi spiritual.

Namun Candice tidak ditulis sebagai antagonis datar. Justru sebaliknya—ia tragis. Ada momen-momen ketika kita melihat bahwa semua ini juga soal rasa bersalah dan ketidakberdayaan. Ia seorang ibu yang kehilangan kendali, dan ketika sains, logika, dan komunitas lokal tidak bisa ia pahami atau percayai, iman menjadi benteng terakhirnya. Masalahnya, benteng itu dibangun di atas penyangkalan.

Sutradara : Antonio Negret Penulis : Daniel Negret Pemeran : Sara Canning, Daniel Gillies, Jett Klyne, Humberto Morales, Alejandro Fajardo

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights