Skip to content

Enola Holmes 3 (2026) – movie review | Netflix

Rating: 3.5 out of 5.

Enola Holmes 3 mungkin film yang paling ambisius dari ketiga film yang ada. Setelah dua film sebelumnya berhasil menyeimbangkan misteri, petualangan, dan perkembangan karakter, film ketiga memilih pendekatan yang lebih dark, lebih emosional, dan memiliki ruang cerita yang jauh lebih besar.

Jika film pertama berbicara tentang mencari ibunya, dan film kedua tentang membuktikan dirinya sebagai detektif, maka film ketiga langsung menyerang kehidupan pribadi Enola. Di tengah persiapan pernikahannya dengan Tewkesbury, Sherlock tiba-tiba menghilang. Kasus kali ini bukan lagi sekadar pekerjaan, tetapi menyangkut orang yang paling berarti dalam hidupnya. Taruhan emosional yang lebih tinggi membuat investigasi terasa lebih mendesak dibanding dua film sebelumnya.

Pergantian sutradara dari Harry Bradbeer ke Philip Barantini membawa perubahan yang cukup terasa.

Humor masih ada, tetapi porsinya jauh berkurang. Sebagai gantinya, film lebih banyak bermain pada ketegangan, konflik moral, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Tema kolonialisme, perang, pengkhianatan, dan tanggung jawab moral memberi bobot yang lebih besar dibanding dua film sebelumnya.

Ironisnya, meski menjadi film dengan skala terbesar, misterinya justru terasa kurang elegan.

Film mencoba menggabungkan penculikan Sherlock, emas Afghanistan, konspirasi politik, Moriarty, hingga konflik keluarga dalam satu alur. Hasilnya memang penuh kejutan, tetapi terkadang terasa terlalu padat sehingga ritme investigasinya tidak sebersih Enola Holmes 2.

Setelah kemunculan yang menjanjikan di film kedua, saya berharap Moriarty benar-benar menjadi lawan intelektual yang mampu menandingi keluarga Holmes.

Namun, meskipun tetap menjadi ancaman utama, karakter ini belum sepenuhnya memberikan duel strategi yang benar-benar memuaskan. Potensinya terasa lebih besar daripada yang akhirnya ditampilkan di layar.

Di film ketiga ini, cerita lebih banyak bergerak lewat aksi, konspirasi internasional, dan konflik besar. Akibatnya, sensasi menjadi “detektif bersama Enola” sedikit berkurang.

Walaupun terasa jauh lebih berbobot tetapi saya masih bisa memaklumi karena terasa seperti perkembangan karakter Enola Holmes juga, yang semakin dewasa dan semakin teruji, jalannya sebagai detektif. Tidak mungkin Enola akan terus berada dititik yang sama, dan perkembangan karakternya ini sangat terasa, walaupun harus menghilangkan kebersamaan penonton untuk menjadi detektif bersama Enola.

Enola Holmes 3 tetap menjadi penutup yang layak. Ia berhasil menunjukkan bahwa Enola bukan lagi “adik Sherlock Holmes”, melainkan seorang detektif yang mampu berdiri atas namanya sendiri.

Sutradara : Philip Barantini Penulis : Jack Thorne, Nancy Springer Pemeran : Millie Bobby Brown, Louis Partridge, Henry Cavill, Helena Bonham Carter, Himesh Patel, Susan Wokoma, Sharon Duncan-Brewster

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
Verified by MonsterInsights