Selama lebih dari empat dekade, franchise Evil Dead selalu menjadi salah satu waralaba horor yang sulit diprediksi. Berawal dari film independen karya Sam Raimi pada 1981, seri ini terus berevolusi—dari horor murni, horor-komedi yang absurd, hingga remake brutal pada 2013 dan Evil Dead Rise (2023) yang memindahkan teror Deadite ke lingkungan perkotaan.
Kini, melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vaniček – yang sebelumnya dikenal lewat film horror Infested – mencoba membawa franchise ini ke arah yang lebih gelap dan emosional. Alih-alih hanya menyajikan pesta darah, film ini mencoba mengeksplorasi bagaimana duka, rasa bersalah, dan hubungan keluarga dapat menjadi lahan subur bagi kejahatan kuno yang berasal dari Necronomicon.
Pertanyaannya, apakah pendekatan tersebut berhasil memberikan napas baru bagi franchise, atau justru menghilangkan identitas khas Evil Dead?
Tanpa memberikan spoiler besar, Evil Dead Burn mengikuti Alice, seorang perempuan yang masih berusaha bangkit setelah kehilangan suaminya. Ketika ia berkumpul bersama keluarga mertuanya di sebuah rumah terpencil, sebuah kekuatan kuno kembali dibangkitkan. Seperti tradisi franchise ini, satu per satu anggota keluarga mulai berubah menjadi Deadite, memaksa mereka menghadapi pilihan yang mustahil demi bertahan hidup.
Premisnya memang sederhana, tetapi film ini tidak pernah benar-benar berbicara tentang iblis. Yang menjadi pusat cerita justru adalah kehilangan dan bagaimana trauma perlahan menghancurkan manusia dari dalam.
Inilah perbedaan terbesar Burn dibandingkan sebagian besar film Evil Dead sebelumnya.
Film-film terdahulu biasanya menggunakan Deadite sebagai mesin kekacauan yang liar dan penuh energi. Di sini, Deadite justru terasa seperti manifestasi dari luka emosional yang belum sembuh. Atmosfer duka terus menyelimuti film sejak menit pertama, membuat setiap adegan horor memiliki beban emosional yang lebih besar.
Pendekatan ini membuat film terasa lebih dewasa. Teror tidak hanya berasal dari ancaman fisik, tetapi juga dari kenyataan bahwa karakter-karakter tersebut harus menghancurkan orang yang mereka cintai demi bertahan hidup.

Konsep tersebut memberikan dimensi dramatis yang cukup kuat, meskipun tidak selalu dieksplorasi secara maksimal.
Sébastien Vaniček menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai salah satu sutradara horor yang patut diperhitungkan.
Seperti dalam Infested, ia memahami bahwa rasa takut tidak selalu lahir dari monster yang muncul tiba-tiba. Justru ruang sempit, suara yang tidak terlihat sumbernya, pencahayaan yang minim, dan keheningan yang berkepanjangan menjadi senjata utamanya.
Rumah tua yang menjadi lokasi utama bukan sekadar latar cerita. Bangunan tersebut berubah menjadi karakter tersendiri—penuh lorong gelap, sudut sempit, ruang bawah tanah, dan lantai kayu yang seolah menyembunyikan sesuatu di balik setiap langkah.
Hasilnya adalah pengalaman yang terasa sesak dan melelahkan secara emosional, dalam arti yang positif. Penonton hampir tidak pernah diberi kesempatan untuk benar-benar merasa aman.
Sulit membicarakan Evil Dead tanpa membahas gore.
Untungnya, Burn memahami bahwa darah saja tidak cukup. Film ini berusaha membuat setiap adegan kekerasan memiliki identitas visual yang berbeda.
Efek praktikal menjadi kekuatan utama. Tubuh yang rusak, transformasi Deadite, hingga berbagai adegan mutilasi dirancang dengan detail yang menjijikkan namun mengesankan. Banyak adegan terasa seperti penghormatan terhadap tradisi practical effects yang selama ini menjadi kebanggaan franchise.
Bagi penonton yang menikmati body horror, film ini jelas menawarkan pengalaman yang memuaskan.
Namun, intensitas tersebut juga menjadi pedang bermata dua. Setelah beberapa saat, film tampak terlalu sibuk mencari cara baru untuk mengejutkan penonton sehingga pengembangan cerita mulai tertinggal.
Di sinilah kelemahan terbesar Evil Dead Burn.
Babak pertama berjalan sangat efektif. Film membangun karakter, konflik keluarga, dan atmosfer dengan ritme yang sabar. Sayangnya, memasuki pertengahan cerita, fokus mulai bergeser hampir sepenuhnya pada rangkaian adegan pembantaian.
Konflik emosional yang sebelumnya menjanjikan perlahan tenggelam di bawah tumpukan darah dan kekerasan.
Padahal, fondasi cerita sebenarnya cukup menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Hubungan antaranggota keluarga memiliki potensi menjadi inti emosional film, tetapi banyak momen penting berlalu begitu saja demi memberi ruang bagi adegan aksi horor berikutnya.
Akibatnya, klimaks terasa lebih spektakuler daripada benar-benar menyentuh.
Salah satu identitas franchise ini sejak era Sam Raimi adalah kemampuannya menyeimbangkan horor dengan humor yang absurd.
Burn hampir sepenuhnya meninggalkan pendekatan tersebut.
Pilihan ini memang membuat atmosfer menjadi jauh lebih serius dan suram. Namun, di sisi lain, film kehilangan sebagian pesona yang selama ini membuat Evil Dead berbeda dari franchise horor lainnya.
Tanpa humor gelap sebagai penyeimbang, beberapa bagian terasa terlalu berat dan monoton. Intensitas yang terus dipertahankan tanpa jeda justru membuat sebagian adegan kehilangan dampaknya karena penonton tidak pernah diberi kesempatan untuk bernapas.
Evil Dead Burn berusaha berbicara tentang kehilangan, trauma, dan bagaimana kesedihan dapat mengubah seseorang menjadi “monster” bahkan sebelum kekuatan iblis mengambil alih.
Sayangnya, ambisi tersebut tidak sepenuhnya tercapai karena naskah lebih sering memilih meningkatkan intensitas gore daripada memperdalam eksplorasi emosional para karakternya.
Meski demikian, dari sisi penyutradaraan, atmosfer, dan efek praktikal, Evil Dead Burn tetap menjadi salah satu film horor studio yang paling mengesankan tahun ini. Ia mungkin bukan Evil Dead yang paling ikonik, tetapi cukup berani untuk membuktikan bahwa franchise ini masih memiliki ruang untuk berkembang tanpa harus mengulang formula lama.
Sutradara : Sébastien Vaniček Penulis : Sébastien Vaniček & Florent Bernard Pemeran : Souheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Errol Shand, Maude Davey
