Film Eye for an Eye ini diadaptasi dari novel Mr. Sandman karya Elisa Victoria dan jujur saja awalnya saya tidak terlalu bersemangat untuk menontonnya. Tetapi setelah mulai menontonnya, saya justru terbawa alur ceritanya hingga akhir.
Film ini dibuka dengan pengantar tentang The Sandman—figur folklor mengerikan yang konon mencuri mata orang-orang lewat mimpi mereka. Pembuka film ini terasa seperti mimpi surealis yang mengantar kita pada salah satu karakter kunci.
Lalu kita dibawa untuk mengikuti Anna Reeves, seorang yatim piatu dari New York yang kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan mobil. Ia pindah ke sebuah kota kecil di Florida untuk tinggal bersama sang nenek, May, yang kehilangan penglihatannya sejak lama. Di tempat baru ini, Anna mulai berteman dengan Shawn dan Julie. Awalnya mereka terlihat seperti remaja biasa tetapi tidak butuh waktu lama untuk mereka menampilkan wajah aslinya.
Anna tanpa sengaja menjadi saksi sebuah tindak kekerasan mengerikan—peristiwa yang kemudian menghantuinya di fase hidup paling rapuh yang pernah ia alami. Ia tidak memiliki keberanian untuk melawan. Satu hal yang tidak mereka ketahui: The Sandman bisa dipanggil untuk “menyelesaikan masalah seperti ini”. Dan dia sama sekali tidak ramah pada para perundung.
Tilley meminjam mitologi populer lewat figur Sandman—sosok penghukum bagi para pelaku perundungan. Mr. Sandman hadir sebagai kompas moral, menghukum mereka yang memangsa yang lemah. Di titik ini, Tilley mencoba menyeimbangkan sisi mistis dengan horor yang membumi, sambil menjadikan duka sebagai akar trauma, dan rasa sakit, yang ternyata membawa konsekuensi baru.

Elemen mimpi dalam film ini mungkin mengingatkan kita pada film A Nightmare on Elm Street tetapi secara visual berbeda, lebih terasa seperti mimpi sungguhan yang tidak rapi, menyeramkan dengan nuansa surealis.
Whitney Peak sebenarnya tampil cukup solid, tapi sayangnya Anna sebagai karakter tidak diberi ruang pengembangan yang memadai. Karakter makhluk yang divisualisasikan sebagai Sandman menurut saya pas dan saya menyukai visualnya.
Salah satu alasan kenapa saya menyukai genre horror adalah karena menurut saya ini adalah tempat yang efektif untuk membahas isu-isu sosial. Seperti halnya dalam film ini yang mengangkat tema bullying. Walaupun mungkin belum sepenuhnya efektif tetapi film ini merupakan langkah awal yang cukup apik.
Tidak hanya menampilkan si perundung tetapi bahkan yang diam ketika melihat adanya bullying pun tetap mendapat konsekuensi. Kejahatan tidak selalu menang karena pelaku kuat, tapi karena saksi memilih tidak bertindak.
The Sandman hadir karena manusia gagal bertindak. Saat empati dan keberanian tidak muncul, keadilan jatuh ke tangan kekuatan yang dingin dan tak bernegosiasi. Ceritanya seolah bertanya: jika kita tidak mau bertanggung jawab, apakah kita siap menerima bentuk keadilan yang brutal dan tanpa belas kasihan?
Sutradara : Colin Tilley Penulis : Elisa Victoria, Michael Tully Pemeran : Whitney Peak, S. Epatha Merkerson, Golda Rosheuvel, Laken Giles, Finn Bennett
