Ada sesuatu yang menarik dari sebuah penjara dalam film horor.
Tempat itu seharusnya sudah cukup mengerikan tanpa perlu dihantui makhluk supranatural. Di balik jeruji, manusia hidup bersama kekerasan, ketakutan, hierarki kekuasaan, rasa bersalah, dan rahasia yang mungkin tidak pernah benar-benar terkubur.
Lalu bayangkan jika semua energi negatif itu mendapatkan bentuk.
Itulah yang coba dilakukan Ghost in the Cell.
Film ini tidak sekadar mengajak penonton bertanya siapa yang membunuh para penghuni penjara. Ia justru melempar pertanyaan yang jauh lebih mengganggu : Bagaimana jika sesuatu yang paling kita takuti sebenarnya bukan datang dari luar, tetapi lahir dari sisi gelap manusia itu sendiri?
Film dibuka dengan memperkenalkan Dimas, seorang jurnalis yang tiba-tiba menjadi tersangka pembunuhan bosnya. Ironisnya, pembunuhan tersebut berlangsung tepat setelah artikel terbarunya mengenai perusakan hutan di Kalimantan ditolak mentah-mentah.
Dimas kemudian dijebloskan ke lapas Labuhan Angsana. Tetapi tidak lama setelah kedatangan Dimas, situasi di dalam lapas berubah. Satu persatu, mereka yang ada di dalam lapas tersebut terbunuh dengan cara brutal oleh entitas tak kasatmata.
Para narapidana yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya dipaksa bekerja sama untuk menghadapi ancaman yang tidak bisa mereka pahami.
Dari sinilah Ghost in the Cell berkembang menjadi perpaduan antara horor supernatural, thriller, gore, komedi gelap, dan kritik sosial.
Joko Anwar tampaknya tidak menjadikan penjara hanya sebagai latar cerita. Lapas Labuhan Angsana menjadi sebuah ruang untuk membicarakan tentang manusia, kekuasaan, korupsi, kekerasan, dan moralitas.
Teror supernatural dalam film ini terasa seperti sebuah cermin.
Entitas tersebut tidak hanya datang untuk membunuh. Kehadirannya memaksa para karakter menunjukkan siapa mereka ketika seluruh sistem pertahanan mereka runtuh.
Disinilah Ghost in the Cell mulai terasa menarik secara psikologis.
Manusia memiliki kemampuan untuk menekan emosi yang tidak ingin kita akui: kemarahan, rasa bersalah, kebencian, trauma, bahkan keinginan untuk menyakiti orang lain. Kita belajar mengendalikannya karena kehidupan sosial menuntut demikian.
Tetapi bagaimana jika semua kendali itu hilang?
Itulah salah satu pertanyaan menarik yang muncul dalam Ghost in the Cell.

Ketika kematian datang tanpa bisa diprediksi, naluri bertahan hidup mengambil alih. Dalam kondisi ekstrem, moralitas menjadi sesuatu yang sangat rapuh.
Salah satu ide yang menggelitik dalam film ini adalah bagaimana entitas supernatural tersebut terasa seperti manifestasi dari sesuatu yang sebenarnya sudah ada. Ia bukan menciptakan kegelapan. Ia hanya membangunkannya.
Kebencian, keserakahan, kemarahan, trauma, dan rasa bersalah sudah berada di dalam diri para karakter sebelum teror dimulai.
Ghost in the Cell juga tidak ragu bermain dengan kekerasan visual dan adegan kematian yang grotesque.
Salah satu keberanian Ghost in the Cell adalah keputusannya untuk tidak bermain dalam satu nada. Film ini bisa terasa menyeramkan, lalu brutal, kemudian absurd, dan bahkan lucu.
Bagi sebagian penonton, perpindahan tonal seperti ini mungkin terasa menyegarkan, unik, sekaligus absurd. Tetapi bagi saya, di sinilah titik kekurangannya mulai terasa.
Terlalu banyak bermain dengan genre juga membuat beberapa adegan yang seharusnya membangun ketegangan, kehilangan momentumnya. Komedi terkadang mematahkan atmosfer yang sudah dibangun, sehingga momentum menuju klimaks justru melemah.
Padahal, jika beberapa bagian tersebut diberikan ruang untuk membangun ketegangan lebih lama, dampak emosionalnya mungkin bisa terasa jauh lebih kuat.
Judul Ghost in the Cell sendiri sebenarnya bisa dibaca secara literal. Ada hantu di dalam sel. Tetapi kalau kita melihatnya secara simbolis, ada interpretasi lain yang jauh lebih menarik.
Siapa sebenarnya yang terperangkap?
Apakah para narapidana? Atau manusia yang terjebak dalam trauma, kebencian, rasa bersalah, dan kekerasan yang terus mereka ulang?
Sel akhirnya bukan lagi sekadar ruangan dengan jeruji besi. Ia berubah menjadi kondisi psikologis.
Seseorang bisa berada di luar penjara tetapi tetap menjadi tahanan masa lalunya sendiri. Sebaliknya, seseorang bisa berada di dalam penjara tetapi masih memiliki kesempatan untuk berubah.
Karena itu, film ini secara tidak langsung berbicara tentang bentuk penjara yang paling sulit dihancurkan: penjara yang ada di dalam kepala manusia.
Pada akhirnya, Ghost in the Cell bukanlah film yang paling menakutkan karena sosok hantunya.
Justru sebaliknya.
Semakin kita memahami dunia film ini, semakin terasa bahwa hantu hanyalah permukaan. Di bawahnya ada sesuatu yang jauh lebih familiar: keserakahan, kekuasaan, kebencian, rasa bersalah, trauma, dan ketakutan manusia untuk kehilangan kendali.
Dan mungkin itulah alasan mengapa horor seperti ini terasa lebih mengganggu. Kita bisa mengatakan bahwa hantu itu tidak nyata. Tetapi kita tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang manusia.
Ghost in the Cell mungkin bukan film horor Joko Anwar yang paling sempurna, tetapi film ini cukup berani untuk membuat hantu menjadi lebih dari sekadar hantu.
Sutradara : Joko Anwar Penulis : Joko Anwar Pemeran : Abimana Aryasatya, Almanzo Konoralma, Aming Sugandhi, Arswendy Bening Swara, Endy Arfian, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Kiki Narendra, Morgan Oey, Lukman Sardi
