Film Him (2025) bukan sekadar film horor psikologis, dan jelas bukan pula drama olahraga konvensional. Film ini memperlakukan olahraga seperti sebuah sistem kepercayaan yang menuntut iman buta, disiplin tanpa tanya, dan pengorbanan tubuh sebagai bentuk kesetiaan. Sosok Isaiah White berdiri bukan hanya sebagai mentor, melainkan figur yang suaranya terdengar seperti doa dan perintah sekaligus. Tempat latihannya terasa seperti kuil, ritualnya penuh rasa sakral, dan Cam—sang quarterback muda—perlahan berubah menjadi persembahan hidup bagi janji ketenaran dan keabadian nama.
Horor film ini tidak datang dari monster atau jumpscare murahan, melainkan dari relasi kekuasaan yang dibangun pelan-pelan. Isaiah mewakili maskulinitas lama yang keras dan manipulatif, sebuah warisan kekerasan yang dibungkus sebagai “mental juara.” Cam, sebagai generasi yang lebih muda, tidak dipaksa untuk hancur—ia diyakinkan bahwa rasa sakit adalah harga diri, dan kehancuran adalah bukti kelayakan. Di titik paling gelapnya, Him menunjukkan bagaimana korban bisa sampai pada tahap meminta disakiti, sambil percaya itu adalah kehendak bebasnya sendiri.
Judul Him sendiri terasa dingin dan sengaja impersonal. Cam tidak diperlakukan sebagai manusia utuh, melainkan fungsi—tubuh, performa, potensi. Identitasnya terkikis perlahan, dikonsumsi oleh ambisi yang tak pernah memberi ruang untuk gagal. Film ini mengajukan pertanyaan yang sunyi tapi menghantui: jika semua orang mencintaimu karena potensimu, siapa yang akan tinggal ketika potensimu runtuh?

Banyak yang menganggap Him membingungkan atau antiklimaks, tapi justru di situlah keberaniannya. Film ini menolak memberi monster tunggal atau kemenangan katarsis, karena musuhnya bukan satu orang. Monster sesungguhnya adalah sistem—budaya menang-atau-mati, ekspektasi tanpa belas kasihan, dan industri yang memakan talenta muda lalu berpura-pura terkejut saat mereka hancur. Tidak ada final boss, karena sistem tidak pernah tumbang; ia hanya berganti korban.
Secara makna, saya menyadari apa yang ingin disampaikan dalam film ini, walaupun kekerasan fisik dan psikologis yang berulang cenderung efektif dalam menciptakan ketidaknyamanan tetapi di sisi lain saya merasa porsinya terlalu berlebihan hingga nyaris kehilangan makna.
Pada akhirnya, Him adalah film tentang bagaimana ambisi bisa terdengar seperti doa, dan bagaimana pengorbanan bisa disalahartikan sebagai kehormatan. Ia mungkin tidak selalu rapi secara naratif, tapi mungkin itu yang membuat rasa tidak nyamannya semakin terasa. Horornya bukan teriakan, melainkan bisikan yang akrab—tentang dunia yang terus mendorongmu melampaui batas, lalu meninggalkanmu sendirian ketika kamu akhirnya patah.
Sutradara : Justin Tipping Penulis : Zack Akers, Skip Bronkie Pemeran : Marlon Wayans, Tyriq Withers, Julia Fox, Tim Heidecker, Jim Jefferies, Tierra Whack
