Series terbaru garapan Murphy dan Brennan ini merupakan bagian ketiga dari Monster Anthology yang mengangkat kisah para pembunuh berantai. Cerita ini sangat kelam tapi menurut saya bukan karena tingkat kesadisannya saja tetapi bagaimana ceritanya perlahan seakan mampu menggerogoti pikiran.
Saya belum familiar dengan nama Ed Gein sebelumnya tetapi melihat alur ceritanya saya memang langsung teringat film Psycho.
Ed Gein memiliki karakter fisik yang cukup menonjol dengan gerak-gerik dan suaranya yang feminin dan kelopak mata kirinya yang kendur. Lalu bagaimana ia dibesarkan oleh ibunya, Augusta Gein, sebagai anak yang mengerikan dan tidak membanggakan, serta didikan keras ibunya terutama tentang kejahatan perempuan.
Tetapi Ed Gein tetap menganggap ibunya sebagai panutan dan sosok yang sangat ia sayangi dan hormati.
Sepeninggal ibunya, Ed Gein hidup sendiri dan mulai lebih terobsesi dengan hal-hal menyeramkan tentang kekejaman Nazi, kanibalisme dan teknik membuat kepala manusia menyusut. Hal-hal tersebut semakin mendorong Ed Gein untuk melakukan kejahatan yang tak terbayangkan.
Yang membuat series ini terasa berbeda adalah bahwa tidak seluruh episode menceritakan perjalanan Ed Gein tetapi juga bagaimana setelahnya, ia memiliki pengaruh terhadap dunia perfilman khususnya di genre horror. Pada Alfred Hitchcock sebagai seorang sutradara yang saat itu memiliki impian untuk mengubah dunia perfilman, dan pada Anthony Perkins sebagai pemeran dari Norman Bates. Kita melihat betapa impactnya pada dunia perfilman saat itu, dan tentu juga impactnya secara personal pada keduanya.

Tidak terpikirkan sebelumnya bagaimana para aktor tersebut dalam memerankan perannya, yang umumnya dipikirkan pastinya adalah bagaimana pengaruhnya pada penonton. Jadi sisi yang ditampilkan dari pov Anthony Perkins dan Alfred Hitchcock yang disatu sisi mendapat spotlight tapi disisi lain merasa seakan spotlight tersebut ternyata tidak terasa seperti yang dibayangkan.
Dan bukan hanya perjalanan Ed Gein saja yang menakutkan tetapi bagaimana kehidupan seorang serial killer tersebut seakan menjadi blueprint.
Secara teknis, set, kostum, sinematografi, efek gore dan adegan horror dibuat dengan detail yang nyaris terasa nyata. Series ini berhasil membangun atmosfer yang gelap dan mencekam.
Charlie Hunnam patut diapresiasi atas aktingnya sebagai Ed Gein. Tidak hanya aktingnya tetapi transformasi yang ia lakukan cukup ekstrem. Suara, gestur hingga mimiknya membuat saya tidak mengenali Charlie Hunnam, bahkan ketika keduanya disandingkan side by side. Jelas, ini bukanlah hal yang mudah. Selain itu, meski karakter ini brutal dan mengerikan, Hunnam berhasil membawa ambiguitas dimana kadang karakternya mengerikan dan kadang sisi lembutnya sebagai manusia muncul dalam fragmen kecil.
Bukan hanya Charlie Hunnam yang menonjol tetapi Suzanna Son juga menyita perhatian saya sebagai Adeline Watkins.
Salah satu pikiran yang selalu muncul ketika melihat latar belakang cerita dari setiap kriminal : apakah monster itu lahir atau dibuat? Series ini memperlihatkan bagaimana trauma, relasi, obsesi, media, dan budaya horror, semua berkaitan dalam menciptakan sosok “Monster”.
Terlepas dari itu semua, perlu disadari bahwa banyak bagian cerita yang fiksional dan dilebih-lebihkan demi dramatisasi, meskipun true crime tetapi series ini tetap merupakan film yang dibuat tidak sepenuhnya berdasarkan bukti yang akurat.
Kreator : Ryan Murphy & Ian Brennan Pemeran : Charlie Hunnam, Laurie Metcalf, Suzanna Son, Tom Hollander, Vicky Krieps, Olivia Williams, Joey Pollari, Tyler Jacob Moore, Charlie Hall, Will Brill, Mimi Kennedy, Robin Weigert, Lesley Manville, Addison Rae
