Ada horor yang datang dengan teriakan. Ada pula yang datang dengan diam. It Ends (2025), film debut Alex Ullom, memilih cara kedua. Ia tidak terburu-buru menakut-nakuti, film ini lebih tertarik membuat kita duduk dalam ketidaknyamanan.
Film ini dibuka dengan empat sahabat yang baru saja lulus. Mereka tertawa, bercanda, dan memulai perjalanan malam yang seharusnya sederhana. Tapi seperti banyak keputusan “kecil” dalam hidup, perjalanan itu membawa mereka ke sebuah jalan yang tak pernah berakhir. Tidak ada penjelasan pasti. Tidak ada penanda arah. Hanya aspal gelap, lampu mobil, dan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.
Dan di situlah It Ends mulai bekerja.
Ullom tampaknya tidak tertarik membuat horor konvensional. Jalan tanpa akhir di film ini bukan sekadar gimmick—ia berfungsi sebagai metafora tentang fase hidup pasca-kelulusan: ketika peta lama tak lagi berguna, dan peta baru belum tersedia.
Ketakutan terbesar para karakter bukanlah makhluk gaib atau ancaman fisik yang jelas, melainkan ketidakpastian. Mereka lelah, marah, saling menyalahkan, lalu kembali bergantung satu sama lain. Film ini dengan cerdik mengubah kebersamaan menjadi sumber kenyamanan sekaligus tekanan. Semakin lama mereka di jalan itu, semakin tipis batas antara teman dan beban.
Percakapan yang awalnya ringan perlahan berubah menjadi sindiran, tudingan, dan keheningan yang canggung. Horor tidak datang dari apa yang terjadi di luar mobil, melainkan dari apa yang mulai rusak di dalamnya.
Sekilas film ini mengingatkan saya dengan film Dead End (2003), dimana film ini juga memusatkan ceritanya pada perjalanan malam yang berubah menjadi mimpi buruk, di mana setiap belokan hanya membawa kembali ke titik awal.

Perbedaannya : Dead End adalah horor yang tidak ragu menunjukkan taringnya. Ia cepat, kasar, dan penuh ancaman nyata. Hantu muncul. Darah tumpah. Kematian datang satu per satu. Jalan buntu di sana adalah perangkap—jelas jahat, jelas mematikan, dan jelas ingin membunuh penghuninya.
Sementara itu, It Ends menolak menjadi agresif. Jalan di film ini tidak menyerang. Ia hanya ada. Diam. Tidak peduli. Kalau Dead End membuat penonton tegang karena takut siapa yang akan mati berikutnya, It Ends membuat penonton gelisah karena tidak ada kepastian apa pun akan terjadi.
It Ends justru membenamkan horor ke dalam relasi manusia. Tidak ada musuh yang bisa ditunjuk. Yang ada hanyalah kelelahan emosional, kebingungan arah hidup, dan rasa frustrasi yang terus menumpuk. Ini bukan tentang bertahan hidup secara fisik, tapi tentang bertahan secara mental.
Salah satu hal yang menjadi kekuatan It Ends ada pada dinamika antarkarakternya. Dialognya terasa natural, kadang ringan, kadang menyakitkan—seperti percakapan yang biasanya muncul pukul dua pagi ketika semua orang terlalu lelah untuk berpura-pura baik-baik saja.
Chemistry para pemain membuat situasi absurd ini terasa nyata. Kita peduli pada mereka bukan karena siapa mereka di atas kertas, tapi karena kita pernah menjadi mereka: orang-orang muda yang yakin hidup akan segera “dimulai”, tapi mendapati diri justru terjebak di persimpangan tanpa rambu.
Secara visual, film ini sederhana tapi efektif. Jalanan gelap yang terus berulang menciptakan rasa stagnasi yang menekan. Tidak ada lonjakan horor besar, tapi ada kegelisahan konstan yang perlahan menggerogoti.
Namun, pendekatan ini tentu bukan tanpa risiko. It Ends adalah film yang sangat nyaman dengan ambiguitas—dan itu bisa menjadi pedang bermata dua. Film ini jarang memberi jawaban konkret, bahkan hingga akhir. Bagi sebagian penonton, ini terasa berani dan jujur. Bagi yang lain, ini terasa seperti anti-klimaks yang menggantung.
Ritmenya juga sengaja melambat di bagian tengah, dengan pengulangan situasi dan dialog yang lebih filosofis daripada menegangkan. Kalau kamu datang dengan ekspektasi horor yang “terjadi sesuatu” setiap sepuluh menit, film ini mungkin terasa melelahkan.
It Ends adalah horor indie dengan ambisi besar. Ia lebih tertarik meninggalkan perasaan tidak nyaman daripada kepuasan instan. Film ini bukan tentang menemukan jalan keluar, melainkan tentang menyadari bahwa tersesat adalah bagian dari perjalanan.
Dan mungkin, itu memang maksudnya.
Sutradara : Alex Ullom Penulis : Alex Ullom Pemeran : Mitchell Cole, Akira Jackson, Noah Toth, Phinehas Yoon
