Skip to content

Silent Night, Deadly Night (2025) – movie review

Rating: 2 out of 5.

Reboot kedua yang tetap memakai judul Silent Night, Deadly Night ini mencoba me-reset ulang karakter utamanya, Billy. Ia bukan lagi sekadar mesin pembunuh, melainkan sosok antihero yang rusak, tersesat, namun masih berusaha mempertahankan sisi kemanusiaannya.

Seperti versi klasiknya, Billy tetap membawa luka masa kecil dimana orang tuanya meninggal dalam peristiwa mengerikan yang melibatkan sosok Santa bersenjata – figur yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi sumber trauma dalam hidupnya.

Perbedaannya, Billy versi baru ini tidak sepenuhnya menyerah pada dorongan untuk membunuh. Billy mencoba menahannya dan berusaha untuk hidup normal. Ia berusaha keras untuk mempercayai bahwa dirinya masih bisa menjadi manusia biasa.

Namun dorongan itu tidak menghilang. Billy memilih membunuh hanya mereka yang menurutnya pantas mati. Di kepalanya ada suara yang terus berbicara, seolah Billy terus ditemani bayangan pembunuh yang menghancurkan masa kecilnya.

Konsep film ini sebenarnya berbeda dan bisa dibilang berani : bagaimana jika seorang pembunuh berusaha menjadi orang baik? Hal ini mengingatkan saya pada Dexter Morgan. Sayangnya, film ini tidak benar-benar menggali konflik batin Billy dengan cukup dalam, padahal potensi horrornya bisa jadi lebih tebal.

Setelah hidup berpindah-pindah, Billy memutuskan untuk menetap di sebuah kota kecil dimana ia kemudian jatuh hati pada wanita yang bisa dikatakan memiliki masalah emosionalnya sendiri, Pamela.

Tapi sekali lagi hubungan keduanya pun tidak benar-benar bisa menyentuh emosi penonton, hanya fakta bahwa keduanya sama-sama membawa luka.

Film ini seperti ragu untuk mengeksplor sisi paling gelap dari konsep yang sebenarnya cukup menarik. Endingnya pun bisa dibilang mengejutkan sekaligus menarik, sesuatu yang tidak biasa. Bila ending ini memang mengarah seperti apa yang saya pikirkan, semoga cerita berikutnya tidak mengecewakan.

Sutradara : Mike P. Nelson Penulis : Mike P. Nelson Pemeran : Rohan Campbell, Ruby Modine, Mark Acheson, David Lawrence Brown, David Tomlinson

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights