KKN di Desa Penari (2022) – review film

Rating: 3 out of 5.

Cerita KKN di Desa Penari ini sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar penggemar cerita horror, saya merupakan salah satunya. Diangkat dari sebuah kisah nyata yang kemudian menjadi trending di twitter setelah dibagikan oleh sebuah akun bernama simpleman. Saya sendiri termasuk yang penasaran lalu mencari tahu dan membaca ceritanya, entah karena mengetahui kisahnya nyata atau karena memang ceritanya sendiri memberikan kesan horror yang dalam apalagi ada pesan tersirat yang disampaikan melalui kejadian tersebut yang membuat cerita ini sangat membekas.

Singkat cerita enam orang mahasiswa, Widya, Ayu, Nur, Bima, Wahyu dan Anton, mengikuti kkn dan membuat program kerja di sebuah desa terpencil jauh di tengah hutan, bahkan untuk menuju lokasi desa tersebut mereka harus melanjutkan dengan menggunakan motor karena tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Dari awal memasuki hutan menuju desa tersebut, Widya dan Nur sudah merasakan hal-hal yang ganjil seperti suara gamelan yang tiba2 terdengar padahal tidak ada desa lain di sekitar desa yang mereka tuju. TIdak berhenti sampai disitu, ketika Pak Prabu, kepala desa tersebut mengajak mereka berkeliling, lebih banyak lagi keganjilan2 yang mereka lihat dan jawaban yang diberikan seakan menyembunyikan sesuatu. Semakin hari semakin banyak hal menyeramkan yang terjadi hingga pada suatu titik, Nur memberanikan diri untuk mengusulkan agar mereka semua pulang dan memberhentikan kkn di desa tersebut.

Widya

Mengadaptasi sebuah cerita ataupun novel yang trending dan viral bukanlah hal yang mudah, ekspektasi penonton pastinya sangat tinggi mengingat betapa sensasionalnya cuitan twitter tentang kkn di desa penari ini. Harus diakui bahwa tantangan Awi Suryadi sangat berat dalam membuat film ini.

Hal pertama yang langsung saya sadari adalah adanya gap dari satu adegan ke adegan lain, alur ceritanya seperti loncat-loncat dan tidak tersambung dengan rapih sehingga tidak terasa seperti sebuah cerita melainkan hanya menyorot hal2 signifikan yang terjadi dalam cerita saja. Buat yang sudah membaca ceritanya tentu tidak sulit memahaminya tetapi buat yang belum membaca ceritanya akan sulit merangkai film ini menjadi suatu cerita.

Poin-poin utama dari cerita sih sangat tersampaikan dalam film tetapi penonton mungkin tidak akan mengenal masing2 karakter secara dalam. Banyak obrolan antara masing2 karakter yang dihilangkan sehingga saya tidak merasakan ada koneksi antara keenam mahasiswa tersebut. Pada adegan awal pun, saat observasi, saya merasa Nur terlalu cemas berlebihan.

Tetapi beberapa kelemahan tersebut sedikit tertutupi karena ceritanya yang memang sangat kuat dan para pemeran yang kali ini harus saya acungkan jempol karena pilihannya sangat pas dengan masing2 karakter terlepas dari plot ceritanya yang lompat2. Lokasi film pun sangat menarik, salah satu yang menarik perhatian saya adalah jembatan penghubung yang menjadi titik awal mereka harus menaiki motor.

Di sisi lain saya pun mengerti tentang kendala durasi. Untuk mengikuti sejelas ceritanya tentu akan butuh waktu yang lebih lama. Bahkan di cerita aslinya saja masih banyak hal yang menjadi pertanyaan, banyak misteri yang tidak diungkap.

Salah satu alasan kenapa saya kecanduan menonton film horror supranatural adalah karena dunia ini seakan jauh meskipun banyak yang membuktikan bahwa mereka ada dan hidup berdampingan dengan manusia. Bahwa alam semesta ini begitu besar hingga banyak misteri yang manusia tidak ketahui dan sepertinya memang tidak secara terang2an dibuka, hanya orang2 tertentu yang memiliki tanggung jawab lebih yang mampu melihat semua misteri yang tertutup bagi kebanyakan orang.

Alam semesta ini sudah ditata sedemikian rupa supaya semua elemen didalamnya mampu berjalan sesuai dengan perannya masing2. Sama halnya seperti hukum yang mengatur kehidupan manusia, ada tatanan tersendiri di alam semesta ini yang harus kita hormati. Bukan masalah percaya dan tidak percaya tetapi seperti kita menghormati dan menghargai sesama manusia, begitu pula dengan penghuni lain di alam semesta ini. Hal ini menjadi pembelajaran agar kita memahami apa yang baik dan buruk, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sebagai pengingat bahwa kita hidup berdampingan dengan alam dan jutaan ciptaan lainnya. Bahwa setiap pilihan, sikap, dan tindakan yang kita ambil memiliki konsekuensi.

Sutradara : Awi Suryadi Penulis Skenario : Lele Laila, Gerald Mamahit (screenplay), @SimpleMan (storyPemeran : Tissa Biani, Adinda Thomas, Aghniny Haque, Achmad Megantara, Calvin Jeremy, Fajar Nugra, Kiki Narendra, Aulia Sarah, Aty Cancer, Diding “Boneng” Zeta, Dewi Sri, Andri Mashadi