Mother Mary terasa seperti “fever dream” tentang ketenaran. Sebuah film yang berkilau di permukaan, tetapi perlahan membusuk dari dalam. David Lowery tidak membuat drama musik konvensional tentang seorang pop star. Ia membuat elegi tentang manusia yang kehilangan dirinya sendiri setelah terlalu lama hidup sebagai simbol.
Film ini mengikuti Mother Mary, seorang musisi pop dunia yang hidupnya terlihat sempurna dari luar: panggung megah, jutaan penggemar, dan citra publik yang nyaris menyerupai figur religius modern. Namun di balik semua glamor itu, ia justru terjebak dalam kekosongan emosional dan hubungan rumit dengan seorang perancang busana sekaligus sahabat lamanya, Sam Anselm.
Sejak awal, film ini terasa dingin, asing, dan nyaris spiritual. Mother Mary, yang diperankan oleh Anne Hathaway dengan kombinasi rapuh dan mengintimidasi, bukan sekadar penyanyi terkenal. Ia seperti figur suci modern: dipuja jutaan orang, tetapi diam-diam dikorbankan oleh pemujaan itu sendiri. Di dunia film ini, panggung bukan tempat hiburan, melainkan altar.
Dan di tengah segala glamor, konser, cahaya lampu, dan kostum megah, justru hubungan antara Hathaway dan Michaela Coel yang menjadi jantung emosional filmnya.
Lowery sengaja tidak memberi label jelas terhadap hubungan mereka. Apakah mereka sahabat? Mantan kekasih? Belahan jiwa yang gagal bertahan? Film ini tidak tertarik memberi jawaban pasti. Yang terasa jelas hanyalah adanya luka lama yang belum pernah sembuh. Setiap tatapan mereka dipenuhi sesuatu yang lebih berat daripada dialog: rasa kehilangan, rasa bersalah, dan ketergantungan emosional yang perlahan berubah menjadi hantu.
Karakter Michaela Coel terasa seperti satu-satunya orang yang masih mengenal manusia di balik persona Mother Mary. Dan mungkin karena itulah kehadirannya begitu menghantui. Ia bukan sekadar karakter pendukung, melainkan pengingat bahwa sebelum menjadi ikon global, Mother Mary pernah menjadi manusia biasa.

Film ini juga menarik karena memakai estetika pop culture sebagai bentuk psychological horror. Tidak ada monster literal. Tidak ada jumpscare murahan. Tetapi hampir seluruh film dipenuhi rasa tidak nyaman. Lowery memperlakukan ketenaran seperti kutukan: sesuatu yang perlahan menghapus identitas seseorang sampai yang tersisa hanyalah citra kosong untuk dikonsumsi publik.
Simbolisme kain merah menjadi contoh paling kuat dari pendekatan itu.
Kain tersebut terus muncul seperti luka yang tidak pernah mengering. Kadang ia terlihat sensual, kadang religius, kadang terasa seperti darah yang dibungkus kemewahan. Lowery tampaknya memakai kain merah sebagai representasi banyak hal sekaligus: pengorbanan, rasa bersalah, hasrat, dan persona panggung yang mulai “menelan” manusia aslinya.
Ada momen-momen ketika kain itu hampir menutupi tubuh Mother Mary sepenuhnya, dan visual tersebut terasa sangat penting. Seolah identitas publiknya perlahan mencekik dirinya sendiri. Di titik itu, Mother Mary berhenti menjadi film tentang industri musik dan berubah menjadi meditasi tentang bagaimana manusia bisa hilang di balik citra yang mereka ciptakan.
Namun di balik semua kekuatannya, film ini juga punya kelemahan yang cukup nyata.
Lowery terlalu jatuh cinta pada simbolisme dan atmosfernya sendiri. Ada bagian-bagian yang terasa sengaja dibuat ambigu sampai emosinya justru menjadi jauh. Film ini terkadang lebih sibuk membangun citra artistik daripada membiarkan penontonnya benar-benar tenggelam dalam perasaan karakternya. Tidak semua metafora bekerja, dan beberapa adegan terasa seperti puisi visual yang indah tetapi kosong.
Inilah jenis film yang kemungkinan besar akan memecah penonton. Sebagian orang akan menganggapnya pretensius dan terlalu abstrak. Sebagian lainnya mungkin melihatnya sebagai karya yang hypnotic dan menghantui.
Tetapi justru di situlah kekuatan Mother Mary. Film ini tidak mencoba menjadi nyaman. Ia ingin terasa seperti luka emosional yang dibungkus lampu panggung dan musik megah. Sebuah cerita tentang cinta, identitas, dan ketenaran yang perlahan berubah menjadi ritual penghancuran diri.
Dan ketika filmnya selesai, yang tersisa bukan jawaban pasti, melainkan perasaan aneh bahwa kita baru saja menyaksikan seseorang menghilang di depan publik — sambil terus dipuja oleh dunia.
Sutradara : David Lowery Penulis : David Lowery Pemeran : Anne Hathaway, Michaela Coel
