Bayangkan hidup di sebuah lingkungan yang tampak normal, tapi setiap malam telingamu diserbu oleh suara-suara yang tak bisa dijelaskan. Bukan sekedar bising tetangga, melainkan bunyi yang terasa hidup, menyusup ke dalam kepalamu, dan perlahan membuat batas antara kewarasan dan kegilaan menghilang.
Secara garis besar film ini hampir mirip dengan tema cerita Wall to Wall, atau setidaknya dimulai dengan cerita yang serupa tapi pengembangan ceritanya sangat berbeda.
Film ini menceritakan Joo-young, seorang wanita yang memiliki gangguan pendengaran dan harus menggunakan alat bantu dengar. Joo-young tinggal di asrama tempat kerjanya, tetapi ketika ia mendapat kabar bahwa adiknya, Ju-hee, tiba-tiba menghilang secara misterius, ia memutuskan untuk kembali tinggal di apartemen adiknya.
Ketika kembali ke apartemen, ia menemukan kenyataan yang lebih mengerikan, suara-suara asing yang muncul dari dinding, keluhan aneh dari tetangga di bawah apartemennya yang menuduhnya berisik, serta langkah-langkah misterius dari lantai atas.
Joo-young terjebak dalam pengalaman yang aneh dan mencekam. Semakin lama ia tinggal, semakin jelas bahwa kebisingan ini bukan sekadar masalah tetangga. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap bersembunyi, termasuk sebuah ruang bawah tanah penuh sampah yang seakan menyembunyikan rahasia terlarang.

Sutradara Kim Soo-jin bersama penulis Lee Je-hui membangun horror dengan keseimbangan yang kuat antara psikologis dan supernatural. Desain suara menjadi ujung tombak film ini, menciptakan atmosfer yang membuat penonton ikut merasakan paranoia Joo-young.
Yang terasa berbeda adalah Noise tidak sekadar bergantung pada hal-hal supernatural untuk menakuti. Justru interaksi dengan tetangga yang tampak normal – tapi penuh kecurigaan – membawa sensasi horror yang yang lebih menegangkan. Seperti film zombie yang mengingatkan kita bahwa terkadang manusia biasa jauh lebih berbahaya daripada yang tak terlihat.
Selain menghadirkan teror bunyi, Noise juga bisa dibaca sebagai metafora tentang isolasi dan kebisingan batin manusia modern. Alat bantu dengar yang bisa dilepas menjadi simbol pilihan untuk “menutup diri” dari dunia, sementara adiknya yang tak bisa menyingkir dari bising menjadi representasi generasi muda yang terus terhantam oleh tekanan eksternal. Apartemen, dengan dinding tipis dan ruang bawah tanah yang membusuk, adalah gambaran rapuhnya batas antara privasi dan kengerian yang tersembunyi.
Walaupun mungkin ceritanya di beberapa hal terasa familiar tetapi nuansa yang dibangun sejak awal film memang sangat mencekam. Apalagi dengan tetangga yang kerap mengancam dengan ekspresi dan gerak-gerik yang membuat saya sendiri merasa akan memilih untuk keluar dari apartemen tersebut.
Terlepas dari beberapa hal menuju ending yang mungkin kurang pas, saya menyukai ketegangan yang muncul hampir di sepanjang cerita.
Sutradara : Kim Soo-jin Penulis : Lee Je-hui, Kim Yong-hwan Pemeran : Lee Sun-bin, Kim Min-seok, Ryu Kyung-soo
