Film The Home dibuka dengan sebuah potongan di masa lalu dimana kakak angkat Max, Luke, diterima di perguruan tinggi. Luke berjanji akan mengunjungi Max tetapi tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa Luke tidak mampu bertahan dan mengakhiri hidupnya.
Lalu adegan melompat ke Max dewasa yang hidupnya berantakan hingga ia berakhir di penjara. Ayah tirinya memohon Max untuk berubah dan menawarkan kesempatan bekerja di panti jompo Green Meadows.
Dari awal kedatangannya di panti jompo tersebut, Max sudah diperingatkan untuk tidak ke lantai 4 tetapi tentunya peringatan tersebut ia langgar ketika mendengar suara jeritan. Di lantai tersebut ia menemukan ruangan yang berisi para lansia dalam kondisi yang mengenaskan. Di titik ini sebenarnya ceritanya memiliki potensi horror yang creepy dan mengganggu tapi lalu banyak hal yang terjadi sehingga potensi tersebut memudar.
Pencahayaan merah biru pun tidak berhasil membawa suasana menjadi horror tetapi justru membuat alur ceritanya semakin kehilangan arah.
Tidak hanya suasana panti yang semakin misterius tetapi trauma Max tentang kematian Luke terus muncul dalam wujud mimpi buruk. Seakan ingin mengaburkan fokus penonton antara yang nyata dan tidak, tetapi kurang berhasil.
Sebenarnya konsep cerita dan isu yang diangkat cukup menarik dan punya potensi tetapi pengembangan ceritanya yang terkesan bertumpuk membuat efek seramnya perlahan menguap.
Adegan klimaks di ending yang penuh amarah memang terasa “rame”, tapi entah kenapa tetap terasa kosong. Buat ukuran film horor dengan tema seberat ini, The Home terasa seperti peluang besar yang disia-siakan. Bukan film yang sepenuhnya gagal tetapi juga jauh dari kata memuaskan.
Bagaimana menurutmu?
Sutradara : James DeMonaco Penulis : James DeMonaco, Adam Cantor Pemeran : Pete Davidson, John Glover, Mugga, Bruce Altman, Mary Beth Peil
