Obsession bukan sekadar film horror tentang kutukan supernatural. Film ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dan lebih mengerikan: cinta yang berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki.
Psychological horror yang memadukan romansa, obsesi dan elemen supernatural menjadi mimpi buruk yang terasa terlalu dekat dengan kehidupan nyata.
Bear hanyalah pria biasa — pendiam, canggung, dan terlalu lama menyimpan perasaannya untuk Nikki. Ia bukan tipe laki-laki yang pandai mengungkapkan cinta, bahkan untuk sekadar mengatakan apa yang ia rasakan.
Namun semuanya berubah ketika ia tanpa sengaja menemukan sebuah toko aneh yang menjual One Wish Willow — sebuah ranting misterius yang konon mampu mengabulkan satu permintaan hanya dengan mematahkannya.
Bear memutuskan untuk membuat satu permintaan dan tidak butuh waktu lama, Bear mendapati dirinya mendapatkan persis apa yang dia minta. Tetapi tidak lama juga untuk dirinya menyadari bahwa beberapa keinginan datang dengan konsekuensi yang menyeramkan. Keinginan yang terkabul ternyata memiliki harga yang jauh lebih mengerikan daripada penolakannya.
Setelah permintaan tersebut menjadi kenyataan, cinta Nikki berubah menjadi sesuatu yang tidak manusiawi. Perhatian kecil perlahan berubah menjadi obsesi. Cintanya berubah menjadi kontrol. Dan hubungan yang awalnya romantis menjadi perangkap emosional yang menyesakkan.
Di sinilah Obsession menjadi menarik.

Film ini tidak menjual horor lewat jumpscare. Ketakutannya lahir dari kedekatan. Dari seseorang yang mencintai terlalu dalam hingga perlahan menghapus kebebasan orang lain. Ada rasa tidak nyaman yang terus tumbuh di setiap adegan — tatapan yang terlalu lama, sikap posesif yang makin agresif, hingga atmosfer yang terasa semakin sesak seiring cerita berjalan.
Yang membuat film ini terasa relevan adalah bagaimana ia berbicara tentang cinta modern dan toxic attachment. Obsession seolah ingin mengatakan bahwa manusia sering kali tidak benar-benar ingin dicintai — mereka ingin dimiliki, diprioritaskan, dan tidak pernah ditinggalkan. Dan ketika keinginan itu menjadi absolut, cinta berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan.
Penampilan Inde Navarrette menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Ia tampil dengan energi yang sulit ditebak: lembut sekaligus mengancam, menyayangi tetapi terasa berbahaya. Saya bahkan tidak bisa melupakan bagaimana ia bergerak dengan aneh sekaligus menyeramkan padahal hanya dilatar belakang.
Yang paling menarik dari akting Johnston adalah bagaimana ia perlahan mengubah rasa simpati penonton menjadi ketidaknyamanan. Di awal film, kita mungkin masih memahami kesepiannya. Namun semakin cerita berjalan, ekspresi kecil, tatapan kosong, hingga cara ia mempertahankan obsesinya mulai terasa mengganggu. Ada egoisme tersembunyi di balik wajah “nice guy” yang dimainkan Johnston dengan sangat halus.
Ia memainkan Bear sebagai manusia yang rapuh tetapi juga berbahaya. Penonton bisa memahami rasa sakitnya, sambil tetap sadar bahwa apa yang ia lakukan salah.
Curry Barker punya pendekatan yang cukup menarik karena ia tidak terlalu sibuk menjelaskan aturan supernatural secara detail. Ia lebih tertarik pada emosi karakter. Banyak hal dibiarkan ambigu, dan itu membuat film terasa seperti pengalaman emosional yang kacau, bukan puzzle yang harus dijelaskan satu per satu.
Memang ada beberapa bagian yang terasa berlebihan dan awkward. Tetapi justru itu yang membuat film ini terasa tidak nyaman dengan cara yang unik. Obsession bukan horror yang rapi atau elegan. Ia kacau, emosional, dan perlahan mencekik.
Dan mungkin itu memang tujuannya.
Karena pada akhirnya, monster terbesar dalam film ini bukanlah One Wish Willow.
Melainkan manusia yang rela melakukan apa saja agar tidak kehilangan seseorang.
Sutradara : Curry Barker Penulis : Curry Barker Pemeran : Michael Johnston, Inde Navarrette, Cooper Tomlinson, Megan Lawless
