Skip to content

Primate (2025) – movie review

Rating: 3.5 out of 5.

Saya jarang memalingkan muka saat menonton film horror, tetapi film ini berhasil membuat saya melakukannya. Film horror dengan premis yang sederhana ini justru menemukan kekuatannya pada cara ia mengeksekusi teror, melalui detail-detail kecil yang terasa terlalu dekat, terlalu nyata, hingga pada titik tertentu, menjadi sesuatu yang sulit untuk dihadapi secara langsung.

Dari awal film ini sudah berhasil membuat saya merasa tidak nyaman menontonnya. Salah satu penyebabnya mungkin karena film ini berada di tangan Johannes Roberts, yang sebelumnya menyutradarai film horror hiu lewat film 47 Meters Down dan Uncaged.

Dari opening scene saja, Primate sudah terang-terangan menyatakan diri sebagai bloody slasher. Tidak ada basa-basi. Jadi kalau kamu tidak tahan dengan visual brutal, sebaiknya jangan menonton film ini.

Primate menceritakan tentang Lucy, seorang remaja yang pulang ke rumah keluarganya di Hawaii saat libur sekolah, ditemani beberapa temannya yang akan menghabiskan musim panas bersama. Di rumah itu juga ada adik perempuannya, Erin, serta sang ayah—meski figur ayah ini lebih sering absen karena pekerjaan. Ironisnya, “pria paling hadir” di rumah tersebut justru adalah Ben, simpanse peliharaan keluarga mereka.

Ben bukan sekadar hewan peliharaan. Ia bagian dari proyek riset bahasa, mampu berkomunikasi lewat bahasa isyarat dan tablet—konsep yang terasa sangat realistis. Di titik ini, film sempat terasa hangat dan bahkan menyentuh. Hubungan antara manusia dan Ben dibangun sebagai ikatan keluarga, bukan relasi pemilik dan hewan.

Yang membuat Primate cukup efektif adalah ketakutannya terasa masuk akal. Tidak ada monster supernatural. Hanya seekor primata yang cerdas, kuat, dan kehilangan kendali. Ide ini sebenarnya menakutkan karena kita tahu bahwa simpanse memang bisa sangat berbahaya di dunia nyata.

Film ini tidak mencoba menjadi film yang terlalu kompleks. Begitu konflik dimulai, film berubah menjadi survival thriller yang cepat dan brutal.

Sebenarnya, Primate punya potensi reflektif yang cukup kuat. Tentang bagaimana manusia memperlakukan hewan. Tentang batas tipis antara domestikasi dan eksploitasi. Tentang ilusi bahwa kita bisa mengendalikan sesuatu yang pada dasarnya liar. Tapi semua itu tidak pernah benar-benar digali.

Film ini memilih untuk menjadi pengalaman, bukan perenungan. Dan mungkin itu bukan kesalahan—hanya pilihan.

Menurut saya, Primate adalah tipe film yang tidak mencoba menjadi masterpiece—tapi tahu persis apa yang ingin ia lakukan: membuat penonton tegang dan terhibur.

Sutradara : Johannes Roberts Penulis : Johannes Roberts & Ernest Riera Pemeran : Johnny Sequoyah, Jessica Alexander, Troy Kotsur, Victoria Wyant, Gia Hunter, Benjamin Cheng, Charlie Mann, Tienne Simon

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights