Skip to content

28 Years Later : The Bone Temple (2026) – movie review

Rating: 3 out of 5.

28 Years Later: The Bone Temple adalah bagian kedua dari trilogi baru dalam semesta 28 Days Later. Jika film pertamanya masih terasa seperti pembuka yang mengguncang, kali ini ceritanya mengerucut lebih sempit—namun justru lebih gelap—dengan fokus pada satu kelompok tertentu dan dampak lanjutan dari dunia yang sudah terlalu lama runtuh.

Film ini melanjutkan perjalanan Spike, yang setelah terpisah dari kelompok lamanya, terpaksa bergabung dengan komunitas baru bernama the Fingers. Sebuah pilihan yang bukan lahir dari keinginan, melainkan dari insting paling purba manusia: bertahan hidup. Sayangnya, kelompok ini bukan sekadar sekumpulan penyintas. Di balik nama dan seragam mereka, tersembunyi praktik kekerasan yang kejam dan ideologi menyimpang yang perlahan menggerus sisa-sisa nurani.

Di sisi lain, film ini juga memberi ruang penting bagi Dr. Ian Kelson, sosok dokter yang tetap terobsesi pada satu hal: memahami bagaimana rage virus benar-benar bekerja pada tubuh yang terinfeksi. Fokus penelitiannya tertuju pada makhluk Alpha yang ia beri nama Samson. Dari sinilah lapisan baru cerita terbuka—bukan sekadar soal bertahan hidup, tapi soal memahami penyakit yang telah mengubah dunia.

Hingga pada satu titik, dua jalur cerita ini akhirnya bertemu.

Spike, yang tak punya pilihan lain, dipaksa menjadi salah satu “Jimmy”—sebuah identitas yang harus ia kenakan demi tetap bertahan hidup. Sementara itu, Dr. Kelson menemukan sesuatu yang krusial. Penemuan ini bukan hanya menjawab rasa penasaran yang sempat muncul di film pertama—tentang mengapa ia memilih membius Samson alih-alih membunuhnya—tetapi juga mengarah pada inti persoalan rage virus itu sendiri. Ada celah. Ada pola. Dan mungkin, ada kebenaran yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar infeksi.

Sebagai penggemar The Walking Dead, dinamika cerita ini terasa akrab. Kelompok Jimmy Crystal, dengan kostum mencolok dan aksi brutalnya, mengingatkan pada tipe pemimpin yang memanfaatkan kekacauan demi kekuasaan. Di tengah dunia yang sudah dipangkas oleh virus, mereka justru ikut memangkas populasi manusia—bukan karena terinfeksi, melainkan karena pilihan.

Dan seperti banyak film atau seri dengan tema serupa, The Bone Temple kembali menegaskan satu hal pahit: ancaman terbesar bukanlah virus yang mematikan, melainkan manusia yang perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya. Di dunia ini, kebaikan menjadi sesuatu yang langka—bahkan berbahaya. Terkadang, memilih untuk tetap baik justru berarti menempatkan diri sendiri sebagai korban berikutnya.

Dari segi ritme, film ini terasa jauh lebih lambat dibanding pendahulunya. Ia lebih banyak mengendap, membiarkan atmosfer bekerja pelan-pelan. Namun menjelang akhir, transformasi Dr. Kelson—yang dalam satu momen menjelma menjadi sosok Old Nick—menjadi penutup simbolis yang kuat. Sebuah visualisasi dari harapan kelam Jimmy Crystal. Sebuah cermin tentang bagaimana keyakinan, keputusasaan, dan kekosongan makna bisa melahirkan “tuhan” palsu di dunia yang sudah lama kehilangan cahaya.

Sutradara : Nia DaCosta Penulis : Alex Garland Pemeran : Ralph Fiennes, Jack O’Connell, Alfie Williams, Erin Kellyman, Chi Lewis-Parry

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights