Skip to content

Review Film : Black Phone 2 (2025) – Saat Mimpi Buruk Tak Pernah Benar-Benar Mati

Rating: 3.5 out of 5.

Mimpi buruk tidak pernah berakhir, mungkin ini kalimat yang pas untuk menggambarkan film Black Phone 2. Sekuel ini seakan datang bukan hanya untuk melanjutkan cerita, tapi juga untuk membuka luka lama yang belum sempat sembuh.

Beberapa tahun setelah Finney Blake menjadi satu-satunya penyintas dari teror The Grabber, ia kini tumbuh menjadi remaja yang mencoba menjalani hidup normal, walaupun masih dihantui trauma. Tapi satu hal yang tak bisa ia hindari—telepon-telepon yang terus berdering entah dari mana, seolah menuntut untuk dijawab.

Kali ini Gwen lebih mendapat spotlight, ia mengalami mimpi-mimpi menakutkan, anak-anak yang membeku dibawah danau, huruf-huruf yang tergores di es. Di sinilah film mengikat benang antara dunia nyata dan alam bawah sadar—seolah trauma yang dulu hanya menghantui kini mulai mencari jalan untuk hidup kembali.

Dari menit awal, Black Phone 2 memamerkan atmosfer yang dingin dan menyesakkan. Latar kamp musim dingin yang tertutup salju bukan hanya sekadar tempat, tapi menjadi karakter tersendiri—sunyi, dingin, dan menyimpan rahasia. Setiap dering telepon seakan menggema lebih lama dari seharusnya, menciptakan sensasi “terperangkap” yang membuat suasana semakin bertambah mencekam.

Hal paling menarik dari film ini bukan sekadar kebangkitan sang Grabber, tapi bagaimana trauma masa lalu menjadi bagian utama ceritanya. Finney bukan lagi korban yang ketakutan; ia adalah seseorang yang hidup dengan bekas luka batin yang tak terlihat. Sementara Gwen mencoba memahami mimpi-mimpinya sendiri, hubungan kakak-adik ini menjadi jantung emosional yang membuat film tak sekadar tentang “setan dan darah”, melainkan tentang menghadapi ketakutan yang diwariskan dari masa lalu.

Adegan paling membekas adalah saat Finney berdiri di dalam bilik telepon, dikelilingi hamparan salju. Kamera berputar perlahan, dan di kejauhan mulai muncul sosok-sosok anak yang hilang—jiwa-jiwa yang masih terjebak di antara dunia. Ini bukan sekadar gambar indah; ini adalah momen yang membuat kita ikut terperangkap dalam ketakutan karakter utamanya.

Namun tak semuanya berjalan sempurna. Ada bagian di pertengahan film yang terasa berat sebelah—terlalu banyak eksposisi, terlalu banyak penjelasan yang membuat film kehilangan ritme dan kekuatan surealisnya.

Untungnya, film ini bangkit lagi di babak akhir. Pertarungan di atas danau beku adalah klimaks yang nyaris puitis—mengerikan tapi indah, penuh simbol kematian dan pembebasan, ketegangan dan visualnya cukup kuat untuk membuat siapa pun terpaku.

Ethan Hawke masih memikat sebagai The Grabber. Kali ini ia tampil seperti entitas yang melampaui kematian—lebih menyeramkan karena tak lagi sepenuhnya manusia. Caranya berbicara, berdiri diam di balik topeng pecah, hingga sekadar dengusan napasnya, cukup untuk membuatmu ingin menutup telinga, tapi tetap tidak bisa berhenti menatap layar.

Mason Thames dan Madeleine McGraw juga kembali dengan penampilan yang jauh lebih kuat. Keduanya berhasil membawakan karakter yang kali ini jauh lebih kompleks dengan chemistry yang terasa natural dan penuh dengan ketegangan emosional.

Tidak semua mimpi buruk layak dibangunkan kembali—tapi Black Phone 2 berhasil membuktikan dirinya punya alasan. Ia bukan sekuel yang malas, walaupun beberapa penonton menilai bahwa film ini dibayang-bayangi Nightmare on Elm Street.

The Grabber mungkin sudah mati, tapi film ini membuat kita sadar bahwa letak ketakutan terkadang bukan pada kematiannya, melainkan pada kemungkinan bahwa suaranya masih memanggil.

Sutradara : Scott Derrickson Penulis : C. Robert Cargill, Scott Derrickson, Joe Hill Pemeran : Mason Thames, Madeleine McGraw, Ethan Hawke, Jeremy Davies, Miguel Mora, Arianna Rivas, James Ransone, Demian Bichir

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights