Skip to content

Hallow Road (2025) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Ada jalan yang seharusnya tidak pernah dilalui. Jalan yang hanya muncul ketika malam menelan segala logika, dan yang tersesat di dalamnya jarang benar-benar kembali. Hallow Road, karya terbaru Babak Anvari, bukan sekadar film horor jalanan — ia adalah perjalanan batin yang menelanjangi rasa bersalah, kehilangan, dan ketakutan paling mencekam : kehilangan kendali atas anak sendiri.

Film ini berpusat pada Maggie (Rosamund Pike) dan Frank (Matthew Rhys), pasangan yang dikejutkan oleh telepon panik dari putri mereka, Alice (Megan McDonnell). Di tengah malam, Alice mengaku telah menabrak seseorang di jalan. Panik dan ketakutan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Maggie dan Frank langsung melaju ke lokasi — namun perjalanan itu bukan sekadar upaya penyelamatan. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap, sesuatu yang membuat mereka mempertanyakan realitas itu sendiri.

Anvari mengeksekusi cerita ini dengan ruang terbatas — sebagian besar film berlangsung di dalam mobil, di jalan sepi tanpa ujung. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Setiap detik di dalam mobil itu seperti penjara emosional: lampu depan yang menembus kabut, suara napas yang makin cepat, dan dialog yang perlahan bergeser dari kepanikan menjadi rasa bersalah yang mencekik.

Di ruang sempit sebuah mobil, horor ini menuntut akting kelas tinggi. Dan Rosamund Pike serta Matthew Rhys membuktikan bahwa mereka mampu. Tanpa overacting, tanpa gestur klise, keduanya memerankan pasangan yang jelas sudah sering tidak sepakat soal cara membesarkan anak. Pike tampil dengan urgensi nyata—kita percaya ia seorang ibu sekaligus paramedis, terlatih menghadapi darurat. Rhys membawa energi protektif, panik, dan cenderung impulsif. Kombinasi itu membuat ketegangan semakin hidup.

Sebagai orangtua, bayangan bahwa kita tidak mampu melindungi anak dari bahaya dunia luar adalah mimpi buruk yang tidak pernah selesai. Hallow Road bermain di ketakutan itu dengan cara yang membekas.

Tanpa membuka spoiler, Hallow Road masuk ke wilayah surealis, bahkan menghadirkan twist yang baru terungkap lewat kredit akhir. Ada yang mungkin merasa kesal dengan ending samar seperti itu, tapi justru di situlah kekuatan film ini. Seperti halnya sebuah mimpi buruk—jarang memberi jawaban tuntas. Ia hanya meninggalkan pertanyaan yang terus menghantui bahkan setelah kita bangun.

Jalan yang mereka tempuh dalam film ini terasa seperti metafora kehidupan: semakin keras mencoba keluar, semakin jauh kita tersesat. Lampu yang berkedip, suara samar dari radio, dan waktu yang terasa melingkar hanyalah simbol dari rasa bersalah dan kehilangan yang tidak pernah usai.

Hallow Road bukan hanya kisah horor tentang jalan terkutuk — tapi refleksi tentang batas cinta orangtua, rasa bersalah yang tak bisa ditebus, dan ketakutan universal bahwa pada akhirnya, kita tidak selalu bisa menyelamatkan orang yang paling kita cintai.

Film ini tidak berteriak, tidak menakuti dengan cara kasar. Ia berbisik perlahan, seperti suara di tengah malam yang terdengar di antara dengung mesin mobil. Dan ketika layar akhirnya gelap, kamu mungkin akan sadar satu hal: beberapa jalan sebaiknya tidak pernah dilewati… bahkan oleh pikiranmu sendiri.

Hallow Road bukan hanya kisah tentang teror di malam hari — ini refleksi tentang bagaimana rasa bersalah bisa menjadi jalan tanpa akhir. Bahwa dalam cinta orangtua, ada batas tipis antara melindungi dan mengontrol, antara membantu dan menghancurkan.

Film ini mengingatkan kita bahwa kadang, dalam upaya memperbaiki kesalahan, kita justru menambah luka baru. Bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselamatkan, tak peduli seberapa kuat kita mencoba. Dan bahwa terkadang, monster paling menyeramkan bukanlah yang muncul di tengah hutan, melainkan yang berbisik di kepala saat kita menyalahkan diri sendiri.

Sutradara : Babak Anvari Penulis : William Gillies Pemeran : Rosamund Pike, Matthew Rhys, Megan McDonnell

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights