Skip to content

Review Film The Conjuring : Last Rites (2025) : Penutup Mencekam Perjalanan Ed-Lorraine Warren

Rating: 3.5 out of 5.

Bayangkan doa terakhir yang seharusnya membawa ketenangan, justru berubah menjadi jeritan putus asa di tengah kegelapan. Itulah atmosfer yang dihadirkan The Conjuring : Last Rites, bab terakhir dari perjalanan ikonik Ed dan Lorraine Warren. Film ini bukan sekadar horor, melainkan juga sebuah perpisahan emosional.

Patrick Wilson dan Vera Farmiga kembali berperan sebagai Ed dan Lorraine Warren, pasangan demonologist legendaris yang sudah lama menjadi wajah utama The Conjuring Universe.

Kali ini, mereka menghadapi kasus terakhir di tahun 1964, yang penuh misteri, dan ancaman supranatural yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Film ini juga menjadi titik temu dari benang merah The Conjuring Universe. Dengan nuansa eksorsisme, investigasi spiritual, dan drama emosional, Last Rites mencoba memberi “penutupan” yang tidak hanya menakutkan, tapi juga menyentuh.

Sebagai bab terakhir dalam perjalanan panjang The Conjuring Universe, Last Rites hadir dengan beban besar: bagaimana menutup kisah Ed dan Lorraine Warren yang sudah menjadi ikon horor modern lebih dari satu dekade terakhir. Dari sisi naratif, film ini tidak sekadar menawarkan kasus baru, tetapi lebih berfungsi sebagai kulminasi dari perjalanan emosional pasangan Warren.

Struktur ceritanya dibangun dengan formula klasik The Conjuring : investigasi awal yang penuh misteri, meningkat ke serangkaian fenomena gaib, hingga klimaks eksorsisme yang brutal. Namun kali ini, narasinya terasa lebih intim. Fokus bukan lagi hanya pada korban atau keluarga yang dihantui, melainkan pada kondisi batin Ed dan Lorraine sendiri.

Lorraine yang semakin rapuh akibat “karunia” visinya digambarkan lebih manusiawi. Sementara Ed, yang biasanya menjadi jangkar rasional dan pelindung, justru diposisikan sebagai sosok yang mulai kehilangan pegangan. Ketidakseimbangan ini menciptakan dinamika emosional yang membuat film terasa lebih gelap dan personal dibanding seri sebelumnya.

Dari segi atmosfer, Last Rites tetap setia dengan estetika horor religius. Michael Chaves, meski masih sering dibandingkan dengan James Wan, berusaha mengarahkan teror ke arah yang lebih psikologis ketimbang sekadar mengandalkan jumpscare.

Secara tematik, film ini juga menyinggung soal ambiguitas iman. Gereja, yang biasanya menjadi pusat perlindungan, digambarkan sebagai ruang penuh keraguan dan konflik. Para tokoh religius yang muncul dalam cerita tidak sepenuhnya digambarkan sebagai “penyelamat”, melainkan juga manusia dengan kelemahan dan keraguan. Hal ini memperkuat kesan bahwa pertarungan terbesar bukanlah melawan iblis secara fisik, melainkan melawan keretakan keyakinan di dalam diri sendiri.

Film ini juga terasa sebagai refleksi waralaba itu sendiri. Seperti halnya Ed dan Lorraine yang mulai lelah dengan beban mereka, The Conjuring Universe pun sampai pada titik di mana formula yang sama tidak lagi sekuat dulu. Ada kelelahan kreatif yang terasa, meski masih ditutupi dengan penampilan emosional dari Wilson dan Farmiga. Inilah yang membuat Last Rites terasa paradoks: di satu sisi ia mencoba menjadi klimaks spektakuler, di sisi lain justru lebih efektif sebagai drama personal tentang perpisahan.

Film The Conjuring: Last Rites merupakan meditasi tentang iman, cinta, dan ketidakpastian menghadapi kegelapan—baik yang supranatural maupun yang ada di dalam diri manusia.

Sutradara : Michael Chaves Penulis : Ian Goldberg, Richard Naing, David Leslie Johnson-McGoldrick Pemeran : Vera Farmiga, Patrick Wilson, Mia Tomlinson, Ben Hardy, Steve Coulter, Rebecca Calder, Elliot Cowan, Beau Gadsdon, Kila Lord Cassidy

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights