Skip to content

Review Film : The Mannequin (2025)

Rating: 2.5 out of 5.

Disutradarai oleh John Berardo, The Mannequin bukan sekadar kisah tentang manekin yang menyeramkan. Ia adalah potret gelap tentang trauma, obsesi, dan bagaimana masa lalu yang terkubur bisa menemukan cara paling ganjil untuk bangkit kembali.

Liana Rojas (Isabella Gómez), seorang asisten di dunia fashion yang sibuk dan ambisius, terpaksa menghadapi perubahan hidup yang drastis ketika kakaknya meninggal secara misterius di sebuah gedung pabrik lama di Los Angeles. Bangunan itu baru saja direnovasi menjadi studio fashion — tempat di mana manekin-manekin berjejer indah di bawah cahaya lampu neon. Namun, di antara tubuh-tubuh tanpa nyawa itu, ada satu yang tampaknya tidak sepenuhnya diam.

Saat Liana menyelidiki kematian sang kakak, lapisan demi lapisan sejarah kelam gedung itu mulai terkuak. Dulu, seorang fotografer sadis pernah menggunakan tempat yang sama untuk membunuh model-modelnya — dan meninggalkan warisan gelap yang seolah menempel pada setiap sudut dinding. Seiring waktu, “kehadiran” itu bangkit kembali, menuntut perhatian… dan darah baru.

Sejak awal, The Mannequin bergerak dengan tempo yang pelan tapi penuh tekanan. John Berardo memilih membangun rasa takut bukan lewat kejutan berlebihan, melainkan lewat keheningan. Kamera sering diam lebih lama dari seharusnya, membiarkan bayangan di sudut ruangan bernafas bersama penonton.

Kita tidak diserang oleh jumpscare, tapi diserang oleh rasa tidak nyaman. Pabrik tua yang kini berubah jadi studio fashion terasa seperti punya karakter tersendiri — dingin, kosong, dan penuh jejak masa lalu. Dan saat manekin mulai “hidup”, bukan karena efek visual, tapi karena suasana yang perlahan berubah, di situlah film ini benar-benar bekerja.

Yang membuat The Mannequin menonjol adalah kemampuan atmosferiknya. Berardo tahu betul bagaimana memanfaatkan ruang kosong dan pencahayaan lembut untuk menciptakan rasa mencekam yang halus tapi nyata.

Bagian prolognya yang hitam putih buat saya menjadi sebuah nilai tambah yang estetik tetapi mencekam disaat yang bersamaan.

Performanya pun kuat — terutama Isabella Gómez, yang berhasil membawa karakter Liana sebagai seseorang yang terjebak antara rasa bersalah dan rasa ingin tahu.

Selain itu, film ini juga bicara tentang trauma yang diwariskan. Bahwa terkadang yang menghantui kita bukan hantu di luar sana, tapi luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Di sinilah film ini terasa lebih dari sekadar cerita tentang boneka hidup — ia jadi alegori tentang bagaimana kenangan buruk bisa menempel pada ruang dan benda, seperti residu yang tak bisa dibersihkan.

Namun, tak bisa dipungkiri, bagian awal film terasa agak lambat. Berardo tampak terlalu hati-hati dalam membangun atmosfer, sehingga beberapa adegan di paruh pertama cenderung kehilangan tensi.

Selain itu, beberapa motif di balik misteri gedung pabriknya terasa belum sepenuhnya matang. Ada bagian yang seolah ingin menjelaskan asal-usul horor tersebut, tapi berakhir menggantung.
Scene puncaknya pun walaupun cukup mencekam tetapi masih kurang berhasil menutup cerita dengan apik.

Tetapi secara keseluruhan tema ini memang cukup menarik dan sedikit berbeda, mungkin hasilnya akan berbeda bila penutup ceritanya sekuat dan se-estetik openingnya.

Sutradara : John Berardo Penulis : John Berardo Pemeran : Isabella Gomez, Jack Sochet, Lindsay LaVanchy, Krystle Martin, Trevor LaPaglia, John Berardo, Shireen Lai, Laura Dromerick, Maxwell Hamilton, Peter Adler, Gabriella Rivera

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights