Sejak series Teluh Darah yang sangat saya favoritkan, saya selalu menunggu karya terbaru dari Kimo Stamboel. Dan film Abadi Nan Jaya ini menjadi film yang saya tunggu-tunggu karena selain horror, Kimo Stamboel kali ini mengambil tema zombie. Setelah series Zona Merah yang kurang sesuai ekspektasi, tentunya saya berharap film ini menjadi sebuah angin segar.
Film ini diawali dengan dikirimnya dua box sample kepada Pak Dimin dan Ibu Grace dari pabrik jamu Wani Roso. Pak Dimin merupakan owner dari pabrik jamu di desa Wanirejo. Ia mencoba sebuah ramuan baru yang bisa membuat orang yang meminumnya menjadi muda kembali. Pak Dimin meminumnya tanpa ragu dan mengalami efek yang luar biasa.
Tetapi apa yang awalnya adalah sebuah keajaiban, berubah menjadi bencana. Pak Dimin mulai mengalami perubahan yang tidak wajar dan tidak butuh waktu lama untuk wabah tersebut menyebar ke seluruh desa.
Mengambil unsur-unsur lokal mulai dari jamu, suasana desa, dengan detail-detail seperti truk dan toa masjid sebagai bagian dari cerita membuat alur ceritanya lebih terasa dekat dan hampir nyata.


Adegan kejar mengejar nya pun cukup efektif walaupun tetap ada scene yang terasa memunculkan tanda tanya “kok bisa” dan bikin kita sebagai penonton menjadi kesal. Begitu pula dengan beberapa pemeran zombie yang gerak-geriknya masih terasa kurang meyakinkan.
Visual effect perubahan zombie nya pun menurut saya terbaik di antara film-film Indonesia di genre horror. Porsi komedi dan dramanya menurut saya pas, tidak terlalu berlebihan, masih masuk dalam alur cerita.
Secara sinematografi, shot kamera, penggunaan drone serta framing yang sangat terasa untuk memanfaatkan ruang secara efektif dan tidak monoton. Make up nya pun tidak mengecewakan, sekali lagi merupakan nilai plus.
Memang tidak ada hal baru yang diangkat, bagi penikmat film horror zombie pastinya sudah sangat familiar dengan setiap hal yang ada di film ini. Well, kecuali satu hal sepertinya baru pertama kalinya zombie dilawan dengan gas air mata, sangat Indonesia sekali ya.
Dari segi pemain tentunya hampir seluruh pemeran utama kita kenali. Salah satu yang menjadi sorotan saya adalah Eva Celia, yang diluar ekspektasi saya membawakan karakter nya dengan penampilan yang kuat. Di sisi lain, karakter Kenes yang diperankan oleh Mikha Tambayong kadang terasa berlebihan dan sepertinya karakternya dibuat untuk melakukan beberapa hal yang kadang terasa konyol untuk dilakukan dalam situasi yang darurat.
Salah satu aktris favorit saya di film Ronggeng Kematian dan Badarawuhi di Desa Penari, Claresta Taufan Kusumarina, sayangnya tidak mendapat peran yang menonjol, walaupun di bagian akhir harusnya bisa lebih dramatis lagi dengan pasangannya Ardhit Erwandha, yang saya harap mendapat scene action yang lebih menegangkan.
Sejujurnya saya masih berharap ada lebih banyak unsur Action tetapi mengingat situasi dan tempat yang dipilih, mungkin akan kurang tepat. Semoga kelanjutannya akan banyak hal yang lebih menarik lagi.
Tapi secara keseluruhan, saya menikmati film ini dan tentunya tidak sabar menantikan kelanjutan ceritanya.
Film Abadi Nan Jaya sudah bisa kalian tonton di Netflix mulai 23 Oktober 2025
Sutradara : Kimo Stamboel Penulis : Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Kimo Stamboel Pemeran : Mikha Tambayong, Eva Celia Latjuba, Donny Damara, Marthino Lio, Dimas Anggara, Varren Arianda Calief, Ardit Erwandha, Claresta Taufan Kusumarina, Kiki Narendra
