Film Saccharine memakai body horror dan supernatural horror untuk membicarakan obsesi terhadap tubuh, diet, kecantikan, dan bagaimana keinginan untuk “memperbaiki diri” bisa berubah menjadi bentuk penghancuran diri.
Film bercerita tentang Hana, seorang mahasiswa kedokteran yang terobsesi untuk menurunkan berat badannya. Keinginannya untuk menjadi lebih kurus kemudian membawanya pada sebuah metode penurunan berat badan yang tidak hanya ekstrem, tetapi juga berhubungan dengan abu manusia. Dari sinilah sesuatu yang awalnya tampak seperti obsesi terhadap tubuh perlahan berubah menjadi mimpi buruk supernatural.
Hana bukan karakter yang tiba-tiba menjadi obsesif karena sebuah kutukan. Yang menarik adalah bagaimana obsesi tersebut terasa seperti sesuatu yang sudah ada di dalam dirinya sebelum unsur supernatural masuk ke dalam cerita.
Berat badan menjadi angka. Makanan menjadi ancaman. Tubuh menjadi proyek yang harus diperbaiki. Dan semakin Hana berusaha mengontrol tubuhnya, semakin tubuh tersebut terasa seperti sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Tetapi kekuatan supernatural tersebut mungkin bisa diartikan sebagai manifestasi dari rasa lapar, rasa bersalah, obsesi terhadap tubuh, dan konsekuensi dari keinginan untuk menjadi versi diri yang dianggap “lebih baik.”
Di sinilah judul Saccharine menjadi menarik. Sesuatu yang terasa manis, menyenangkan, bahkan menjanjikan—ternyata menyimpan sesuatu yang busuk di dalamnya.
Ini mungkin tema terkuat filmnya.
Hana tidak sekadar ingin kurus. Dia hidup dalam lingkungan yang terus-menerus memberitahunya bahwa tubuh tertentu lebih bernilai daripada tubuh lainnya.
Gym, makanan, berat badan, olahraga, obat penurun berat badan—semuanya terlihat seperti aktivitas yang normal. Tetapi ketika semuanya menjadi obsesi, batas antara self-improvement dan self-destruction mulai kabur.
Film ini cukup tajam dalam menunjukkan ironi tersebut.
Kita mengatakan kepada seseorang bahwa dia harus mencintai tubuhnya, tetapi pada saat yang sama kita terus menjual produk yang mengatakan tubuhnya belum cukup baik.
“Apa yang terjadi ketika suara yang mengatakan tubuhmu tidak cukup baik akhirnya masuk ke dalam kepalamu sendiri?”
Itu membuat horornya terasa lebih psikologis.

Film ini berkali-kali memperlakukan makanan seperti objek horor. Adegan makanan dibuat sangat dekat, lengket, basah, dan sensual—tetapi sekaligus menjijikkan. Bahkan tubuh manusia divisualisasikan sedemikian rupa sehingga menyerupai makanan.
Menurutku ini bukan sekadar gimmick gore.
Film sedang mengaburkan batas:
makanan → tubuh → keinginan → rasa bersalah → hukuman.
Semakin Hana mencoba mengontrol apa yang masuk ke tubuhnya, semakin tubuh itu justru menjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Ini mungkin bagian yang membuat film ini terasa tidak nyaman.
Hana melakukan sesuatu yang ekstrem. Tetapi akar dari keinginannya sebenarnya tidak asing.
Kita hidup dalam budaya yang setiap hari memperlihatkan tubuh ideal melalui media sosial, iklan, film, influencer, aplikasi kebugaran, bahkan algoritma.
Kita diberitahu bahwa kita harus menerima diri sendiri. Pada saat yang sama, kita terus-menerus diberi alasan mengapa diri kita belum cukup baik. Belum cukup kurus. Belum cukup cantik. Belum cukup sehat. Belum cukup menarik.
Kontradiksi inilah yang membuat Saccharine lebih menarik daripada sekadar film horor tentang diet.
Karena monster di dalam film mungkin supernatural. Tetapi keinginan yang membuat Hana menghancurkan dirinya sendiri terasa sangat manusiawi.
Pada akhirnya, saya tidak melihat Hana hanya sebagai seseorang yang takut menjadi gemuk. Ketakutan yang lebih dalam mungkin adalah ketakutan bahwa dirinya tidak akan pernah cukup.
Dan ketika seseorang terus-menerus hidup dengan perasaan seperti itu, tubuh bisa berubah menjadi musuh yang paling mudah disalahkan.
Karena semua itu memberikan ilusi bahwa hidup masih berada di bawah kendali kita. Padahal mungkin yang sebenarnya ingin kita kendalikan bukan tubuh. Melainkan rasa tidak aman di dalam diri kita sendiri.
Dan ketika rasa tidak aman tersebut tidak pernah benar-benar hilang, tidak ada tubuh yang akan pernah terasa cukup.
Sayangnya, film ini memiliki gagasan yang jauh lebih menarik daripada eksekusi ceritanya. Body horror-nya efektif, atmosfernya kuat, dan Midori Francis memberikan performa yang membuat perjalanan psikologis Hana terasa cukup meyakinkan.
Tetapi film ini juga kadang terlalu bergantung pada simbolisme dan elemen supernatural yang justru membuat kritik sosialnya terasa kurang tajam.
Sutradara : Natalie Erika James Penulis : Natalie Erika James Pemeran : Midori Francis, Danielle Macdonald, Madeleine Madden, Anna Adams, Annie Shapero
