Savage Flowers membuka ceritanya di dunia post-apokaliptik di mana sebuah infeksi menyebar dan anak-anak menjadi carrier-nya. Premis yang sebenarnya cukup menjanjikan. Namun ironisnya, latar dunia yang sudah runtuh itu terasa seperti hanya menjadi latar tempelan—ada, tetapi tidak benar-benar mempengaruhi inti cerita yang berlangsung. Film ini justru memilih fokus pada ruang lingkup yang lebih kecil, lebih personal, dan pada akhirnya lebih mengganggu: dinamika di dalam sebuah panti asuhan terpencil.
Sebagian besar cerita berlangsung di panti asuhan yang dihuni beberapa anak perempuan di bawah pengasuhan Lucy, dibantu seorang pria yang mengurus taman. Tempat itu terlihat aman, hampir seperti ruang perlindungan dari dunia luar. Tapi sejak awal terasa ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya.
Kedatangan Rose sebagai penghuni baru menjadi pintu masuk penonton mengenal dinamika kelompok anak-anak di sana: Ada, Iris, Rebecca, dan Lily. Pertemanan mereka terlihat normal di permukaan, tetapi perlahan terasa ada struktur kekuasaan yang aneh. Lily, tanpa harus bersikap agresif secara terang-terangan, memegang kendali atas yang lain. Ada tekanan yang tidak diucapkan, aturan yang tidak tertulis, tetapi semua anak mematuhinya.
Rose mencoba menyesuaikan diri, mencoba diterima. Namun semakin lama, semakin jelas bahwa sikap Lily sudah melampaui batas. Masalahnya, tidak ada yang benar-benar melawan. Semua memilih diam, termasuk Rose, meskipun ketidaknyamanan itu jelas terlihat.
Menariknya, meskipun cerita tidak terlalu menyinggung ancaman dunia luar, konsep anak-anak sebagai carrier seolah bisa dibaca secara metaforis. Bahwa sesuatu yang berbahaya tidak selalu datang dari monster atau virus, bahwa bukan pula dunia luar yang perlu ditakutkan tetapi apa yang ada didalam lingkungan atau circle terdekat.
Secara visual, film ini sebenarnya cukup memikat. Tone warnanya lembut tetapi dingin, dan penggunaan musik latar membuat nuansa suramnya semakin terasa tanpa harus dipaksakan. Film dimulai dengan ritme ringan, bahkan nyaris terasa seperti drama coming-of-age biasa, sebelum perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan berat.
Dan ketika cerita mencapai titik akhirnya, film ini tidak hanya meninggalkan pertanyaan tentang Lily—yang jelas menyimpan masalah emosi dan kebutuhan akan kendali—tetapi juga tentang anak-anak lain yang terus mengikuti, meski jelas mereka merasa tidak nyaman. Butuh satu kesalahan fatal sebelum mereka sadar bahwa hal itu harus dihentikan.
Yang membuat geregetan, sebenarnya mereka mampu melawan sejak awal. Mereka tahu ada yang salah. Tetapi mereka memilih diam. Termasuk Rose, yang jelas merasa tidak nyaman namun terus merespons dengan cara yang terlalu halus, terlalu berhati-hati, seolah berharap semuanya akan membaik dengan sendirinya.
Dan di situlah film ini terasa relevan secara tidak nyaman. Karena yang terjadi di layar bukan sesuatu yang asing. Dinamika seperti ini terjadi di dunia nyata, terutama dalam kasus bullying—di sekolah, lingkungan sosial, bahkan dunia kerja. Semua tahu ada yang salah, tetapi memilih diam sampai semuanya sudah terlambat.
Savage Flowers mungkin tidak sepenuhnya berhasil memanfaatkan dunia post-apokaliptiknya, tetapi justru menjadi lebih menarik karena memilih fokus pada kehancuran yang terjadi dalam sekelompok kecil manusia.
Dan mungkin, itu jauh lebih mengganggu daripada sekadar kiamat.
Sutradara : Brad Watson Penulis : Dominic Wells Pemeran : Olivia-Mai Barrett, Iona Bell, Luke Brandon Field, Meesha Garbett, Romanie Jija-Wakeham, Connie Jenkins-Greig, Maddie Mills, Victor Hugo
