Skip to content

Shelby Oaks (2024) – movie review

Rating: 3 out of 5.

Ada sesuatu yang merayap perlahan dalam Shelby Oaks—bukan hanya sosok misterius yang menghantui setiap rekaman, tetapi juga rasa bersalah dan ketakutan yang menempel pada karakter-karakternya.

Di tangan sutradara dan YouTuber horror Chris Stuckmann, Shelby Oaks menjadi sebuah film yang mencoba berjalan antara dokumenter investigatif yang kelam, mockumentary dan drama psikologis yang dikombinasikan dengan horror paranormal dan plot demonic. Dan menariknya, semua hal tersebut saling mempengaruhi, menciptakan labirin emosi yang susah ditebak.

Film ini dibuka dengan memperlihatkan serangkaian wawancara dokumenter dan cuplikan berita tentang hilangnya Riley Brennan, anggota kelompok pemburu hantu bernama The Paranormal Paranoids.

Dalam video, kelompok tersebut sedang berada di Shelby Oaks dan melakukan investigasi di kota yang dijuluki kota hantu tersebut. Tetapi Riley dan ketiga rekannya menghilang setelah melakukan syuting di sebuah penjara terbengkalai. Dari dua kamera yang digunakan, hanya satu rekaman yang ditemukan, menampilkan sesuatu yang terjadi pada Riley. Sementara ketiga rekannya ditemukan tak bernyawa dengan kondisi yang mengenaskan.

Di sisi lain ada Mia, adik dari Riley, yang dihantui dengan hilangnya sang kakak. Sampai suatu hari seorang pria mengetok pintu rumahnya, membawa kaset hilang yang merekam momen terakhir Riley. Pria tersebut merupakan mantan narapidana yang dipenjara di Shelby Oaks, bahkan ia tumbuh besar di Shelby Oaks.

Rekaman yang ia bawa meyakinkan Mia untuk menyelidiki lebih jauh dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Riley.

Yang paling terasa dari Shelby Oaks adalah atmosfernya—gelap, murung, dan selalu terasa seperti ada sesuatu yang mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka. Stuckmann tampak lebih tertarik pada ketegangan lambat ketimbang hard horror. Hasilnya? Suasana yang meresap pelan, cocok untuk penonton yang suka horor berbasis psikologi, bukan hanya jumpscare.

Namun, di beberapa bagian, film ini terasa terlalu memanjangkan langkahnya. Ada segmen investigasi yang seperti maju satu langkah, lalu diam terlalu lama. Bukannya buruk, tapi ritme ini membuat sebagian momen lainnya kehilangan ketegangan dan suasana mencekam yang tadinya sudah terbangun.

Camille Sullivan memberikan performa yang jadi tulang punggung film ini. Ia bukan tipe karakter horror yang berteriak panik sepanjang waktu. Ia lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk takut, tetapi terlalu keras kepala untuk menyerah.

Ekspresinya sering kali lebih berbicara daripada dialog—mata yang berkaca-kaca, napas yang tersengal, atau tubuh yang gemetar antara takut dan marah. Ia menjadikan Mia sosok manusiawi, bukan sekadar “korban film horror”.

Jika Shelby Oaks terasa intens secara emosional, itu sebagian besar berkat Sullivan.

Stuckmann sengaja menahan jawaban, memperlambat pembukaan misteri, sampai kita sendiri mulai mempertanyakan apa yang kita lihat. Namun ketika film akhirnya mengungkap sisi supernaturalnya, beberapa ide terasa kurang matang dibanding buildup yang sudah rapi sejak awal.

Tidak buruk—hanya tidak sepenuhnya sekuat ekspektasi saya sebagai penonton.

Shelby Oaks bukan film yang memanjakan dengan jumpscare, tetapi menawarkan perjalanan yang lebih dalam: tentang kehilangan, penyangkalan, dan bagaimana obsesi dapat berubah menjadi pintu bagi sesuatu yang menakutkan.

Kelemahan pada ritme dan resolusi misteri membuatnya tidak sepenuhnya mencapai potensi terbaiknya, tetapi kekuatan atmosfer serta performa Camille Sullivan membuat pengalaman menontonnya tetap layak, terutama bagi pecinta horror slow-burn psikologis.

Sutradara : Chris Stuckmann Penulis : Chris Stuckmann Pemeran : Camille Sullivan, Brendan Sexton III, Michael Beach, Sarah Durn, Robin Bartlett, Charlie Talbert

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
%d bloggers like this:
Verified by MonsterInsights