Dalam film ini, Max Minghella mengambil tema body horror yang dibalut kritik terhadap budaya kecantikan dan tekanan usia dalam industri hiburan. Sebuah tema yang langsung mengingatkan saya dengan film The Substance. Tetapi Shell bukan sekadar film horor tentang perubahan fisik — ini adalah cermin retak dari obsesi manusia terhadap kesempurnaan.
Film ini dibintangi oleh dua sosok besar yaitu Elisabeth Moss sebagai Samantha Lake, serta Kate Hudson sebagai Zoe Shannon — sang mogul wellness yang tampak glamor namun menyimpan rahasia mengerikan.
Film ini berpusat pada Samantha Lake, seorang aktris yang karirnya memudar sebelum mencapai puncak karena persaingan dengan aktor–aktris muda dan tekanan terhadap penampilan. Ketika muncul tawaran dari Zoe Shannon pemilik perusahaan kecantikan ultra-modern yang menjanjikan “peremajaan total,” Samantha tergoda. Namun, perlahan Samantha menyadari bahwa perawatan tersebut membawa efek samping yang mengerikan.
Minghella menggunakan bahasa horor untuk menggambarkan bagaimana perempuan sering dijadikan proyek eksperimen sosial dan komersial. Kamera berlama-lama menyorot permukaan kulit, cermin, hingga detail kosmetik yang terasa klinis — menciptakan sensasi mual yang halus tapi menekan. Kita tidak sedang menonton monster yang datang dari luar; monsternya adalah keinginan untuk menjadi “lebih baik” dari diri sendiri.
Elisabeth Moss kembali menunjukkan kemampuannya menghadirkan karakter yang terjebak dalam ambiguitas moral dan rasa takut eksistensial. Sementara Kate Hudson tampil dengan pesona yang menipu — senyum hangatnya bisa berubah menjadi ancaman dalam satu detik. Dua aktris ini menyalakan api di tengah naskah yang dingin dan berlapis.
Secara visual, Shell memang terlihat indah tetapi sayangnya dibalik keindahan tersebut, film ini terasa ingin jadi banyak hal sekaligus: satire sosial, thriller psikologis, dan body horror. Transisi antara ketiganya kadang tidak mulus, membuat intensitasnya naik-turun dan emosinya kehilangan momentum. Bahkan pesan bagusnya menjadi kurang berkesan.

Judul Shell sendiri bekerja sebagai metafora yang kuat — kulit, topeng, cangkang.
Film ini mengajak kita bertanya: berapa banyak bagian dari diri kita yang kita lepaskan demi diterima?
Ketika kecantikan bukan lagi tentang ekspresi, melainkan kompetisi, maka tubuh menjadi ladang eksperimen dan identitas hanya sekadar kemasan. Dalam dunia Shell, perempuan diajari untuk terus memperbarui diri — sampai tak ada lagi diri yang tersisa.
Meski temanya menarik, Shell tidak sepenuhnya berhasil menggali kedalaman yang dijanjikan. Kritiknya terhadap budaya kecantikan dan ageisme terasa lebih simbolik ketimbang emosional. Ketika tubuh Samantha berubah, kita lebih banyak melihat efeknya secara visual ketimbang merasakannya secara batin. Di titik ini, film terasa seperti cermin yang indah tapi tidak benar-benar memantulkan sesuatu yang baru.
Sutradara : Max Minghella Penulis : Jack Stanley Pemeran : Elisabeth Moss, Kate Hudson, Kaia Gerber, Arian Moayed
